Romo Matius Pawai, CICM, dan Diakon Steve Ramli, CICM.
Kumandang lagu Jemaat Allah Marilah yang dinyanyikan sebagai lagu pembukaan pada Misa Minggu, 20 Juni 2021, baik Misa I maupun II, menjadi penanda undangan Tuhan untuk beribadah. Para orangtua yang hadir ke gereja bersama anak-anaknya seolah menjawab undangan itu.

Orangtua menghadiri misa bersama anak-anaknya.
Di masa normal hal itu terasa biasa saja, tetapi di masa pandemi Covid-19 menjadi istimewa. Ya, Minggu 20 Juni 2021 adalah hari istimewa bagi umat Paroki Ciledug Gereja Santa Bernadet karena pada hari itu untuk pertama kalinya Keusukupan Agung Jakarta mengizinkan untuk mengadakan misa bersama anak-anak/remaja.

Orangtua dari Wilayah Monika mendampingi anaknya.
“Setelah menanti satu tahun lebih akhirnya kami dapat mengajak anak-anak untuk bersama-sama mengikuti misa di gereja. Minggu-minggu sebelumnya kami mengikuti misa bertiga di gereja, sementara dua anak mengikuti misa secara online dari rumah. Hari ini seneng sekali bisa misa berlima,” ungkap Ibu Tatik, warga Wilayah Anna.

Keluarga Pak Memed bisa hadir berlima.
Sementara Bp Memed, suami Ibu Tatik, berharap gereja kita dapat terus menyelenggarakan misa offline. “Protokol kesehatan yang diterapkan di gereja ini juga sudah cukup baik, mulai dari depan cek suhu, tempat cuci tangan dan jarak tempat duduk rasanya sudah sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan,” imbuhnya.
Misa pagi jam 08.30 yang dipersembahkan oleh Romo Matius Pawai, CICM, bersama Diakon Steve Ramli, CICM, itu berlangsung dalam cuaca cerah. Bertugas sebagai pemandu lagu Angeline Giustifani Giva, dirigen Ibu Puji Lestari, dan organis Mas Sebastianus Widyantoro.

Organis, dirigen, dan pemandu lagu misa Minggu pagi (20/6).
Di awal homilinya, Romo Matius mengatakan bahwa setiap bentuk kehidupan memiliki sukacitanya sendiri tetapi juga memiliki tantangan, kesulitan, dan perjuangannya sendiri-sendiri. Ia mengisahkan para rasul, yang sudah terbiasa dengan lautan, hari itu berlayar bersama Yesus (Mrk 4: 35-41). Mereka sudah paham dan tahu apa yang harus dilakukan jika menjumpai gelombang besar atau badai di tengah lautan.

Protokol kesehatan: cek suhu.
Nyatanya ketika terjadi badai besar para murid tetap ketakutan, tetapi mereka sadar hari itu satu kapal bersama Yesus. Maka para murid membangunkan Yesus, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus bangun dan menghardik badai itu, “Diam! Tenanglah!” Seketika itu badai reda dan para murid menjadi tenang dan lega.
“Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menjumpai masalah atau tantangan atau badai, baik dalam hubungannya dengan pekerjaan atau hidup berumah tangga. Tetapi percayalah hambatan dan tantangan itu akan mengantar ke seberang di sana. Ada berkat besar yang disediakan Tuhan bagi kita. Injil hari ini menyadarkan kepada kita, bersandarlah pada Tuhan ketika masalah dan badai menimpa hidup kita,” kata Romo Matius.

Cek QRCode sebelum masuk gereja.
Di bagian akhir renungannya, Romo Matius mengajak kita agar, ketika mengalami masalah, berseru kepada Tuhan dan mengandalkan Dia. ”Berserah diri kepada Tuhan, jangan pernah hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, apalagi Tuhan mengajar kita jangan paksa diri,” katanya.
“Tuhan mengatakan, jangan takut dan cemas. Tuhan akan selalu hadir menopang seluruh kehidupan kita. Allah peduli akan hidup kita. Ia mencintai kita,” imbuhnya.
Sebuah lagu berjudul Allah peduli, Allah mengerti mengakhiri renungan pagi itu. Romo Matius mengajak umat menyanyikan reffrein-nya dua kali:
Allah mengerti, Allah perduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
ku bergumul sendiri
Beberapa peserta misa menyeka air mata sesudah menyanyikannya.
.jpg?1624527997900)
Romo Lamma, Diakon Steve, dan prodiakon dalam misa sore.
Berbeda dengan pagi harinya, hujan lebat mengguyur kawasan Ciledug dan sekitarnya sejak jam 3 sore. Misa offline jam 17.00 dipersembahkan oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM, bersama Diakon Steve Ramli, CICM. Bertugas sebagai pemandu lagu Ibu Romana Tri Estiningsih, dirigen Ibu Justina Wong, dan organis Ibu Yoanna.

Dua putri Keluarga Bp Subroto-Ibu Fransisca.
Meski hujan mengguyur hingga menjelang misa, umat tetap semangat untuk hadir, misalnya keluarga Bp Ignatius Subroto-Ibu Fransisca dan dua putrinya. “Tadi hujan deras kami tetap nekat berangkat ke gereja karena anak-anak sudah pengin banget bisa misa di gereja. Puji Tuhan kami bisa dapet tiket misa untuk berempat,” ungkap Ibu Fransisca.
“Wah ini sesuatu yang ditunggu-tunggu Natasha untuk bisa mengikuti misa di gereja dan menyambut Komuni,” kata Ibu Scolastika. “Maklum baru kemarin 28 Mei 2021 anak kami menerima Komuni Pertama, jadi pengin terus berlanjut bisa ke gereja,” timpal Pak Antonius Eddi Haryanto, sang ayah.

Pak Anton, Natasha, dan ibu.
Namun kegembiraan itu segera berubah ketika di akhir misa Romo Lamma menyampaikan, mulai minggu depan misa anak dan remaja serta lansia untuk sementara ditiadakan. Ini sebagai bentuk nyata menyikapi peningkatan pandemi Covid-19. Yang terjangkit virus Corona semakin banyak.
Romo Lamma menjelaskan mengapa kelompok lansia dan anak-anak serta remaja dipilih untuk tidak diizinkan mengikuti misa di gereja.

Organis, dirigen, dan pemandu lagu misa Minggu sore (20/6).
“Bagi para lansia, meskipun sudah divaksin, masih tergolong rentan. Sementara bagi anak-anak dan remaja, mereka semua belum mendapat giliran untuk divaksin. Jadi ini sebagai bentuk cinta Gereja kepada para lansia dan anak-anak serta remaja. Semoga pendemi ini segera mereda dan hilang, sehingga kita dapat kembali menyelenggarakan misa secara normal. Mari kita tetap mentaati protokol kesehatan demi keselamatan bersama,” ajak Romo Lamma.
Teks: Bambang Gunadi, Arum/ Foto: Hari Kristando, Bambang G, Screenshot