Silvia Dwi Novi dari Lingkungan Yoseph 1 terpilih sebagai Juara 1 Lomba Mengarang Puisi yang diadakan oleh Gereja Santa Bernadet Paroki Ciledug dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia. Puisi berjudul: Mencintaimu... (Negri) berhasil menyisihkan 13 karya puisi yang diterima Panitia. Puisi ini mendapatkan nilai total terbanyak berdasarkan penilaian dari 3 (tiga) orang juri, yang terdiri dari: Bp Alexander Suryanta (Pengajar Bahasa Indonesia, Sekolah St Laurensia - Alam Sutera), Romo Matius Pawai, CICM, dan Ibu Sakura Indah Sari (Panitia).

Bp Agustinus Haryanta, Juara 2.
Juara kedua dalam lomba mengarang puisi ini adalah Bp Agustinus Haryanta dari Lingkungan Ign Loyola 4, dengan judul puisi: Balada Wira dan Yuda. Dan kemudian Juara ketiganya Ibu Irene Santi Widiastuti dari Lingkungan Petrus 4, dengan judul puisi: 76 Tahun Indonesiaku.
Untuk tahun 2021 ini Panitia HUT Kemerdekaan Santa Bernadet adalah Sie Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang sangat mengapresiasi partisipasi umat. Bapak Alexander Suryanta, sebagai juri mengatakan, “Semua peserta hebat. Menang kalah bukan tujuan utama, tapi pilihan untuk ikut adalah telah berhasil memenangkan atas diri sendiri.”

Ibu Irene Santi Widiastuti, Juara 3.
Lomba Mengarang Puisi tahun ini diikuti oleh ‘hanya’ 7 orang umat saja. Setiap peserta diperbolehkan untuk mengirimkan maksimal 3 buah karya puisi dan terkumpullah 13 karya puis yang dilombakan. Hadiah yang disediakan Panitia adalah piala dan uang tunai untuk juara 1 sampai dengan juara 3. Selain Lomba Mengarang Puisi, kegiatan dan lomba lain yang diadakan oleh Panitia antara lain: Misa, Upacara Penaikan Bendera, Talkshow Kemerdekaan, Lomba Photo, Lomba Menyanyi Anak–Lagu Nasional, dan Lomba Game Online.
Pada akhirnya, Panitia berharap dengan adanya kegiatan dan lomba-lomba yang diadakan, umat masih dapat memaknai arti kemerdekaan, walau masih dalam suasana tidak merdeka akibat pandemi.

MENCINTAIMU... (NEGRI)
Karya: Silvia Dwi Novi (Yoseph 1)
MERDEKA...
Ia Adalah Harapan Bagi Yang Terpenjara
Dari Jiwa Raga Yang Direnggut Durjana
Segala Upaya... Beragam Cara... Bahkan Serahkan Nyawa
Jadi Taruhan Untuk Satu Kata
MERDEKA...
Saat Ia Dalam Genggam
Membuai Hati Yang Berawal Kelam
Duka Lara Sirna... Hanyut... Lalu Tenggelam
Kar’na Kapal Yang Menjauh Dari Karam
INDONESIA... TANAH MERDEKA... NEGRIKU
Kami Bahagia Hidup Di Alammu
Irama Jantung Dan Denyut Nadi Kami
Senantiasa Terpanggil ‘Tuk Mengabdi
Harumnya Udara Merdeka
Tak Melulu Dirayakan Dengan Berfoya
Karna Di Bumi Merdeka Nusantara
Banyak Tunas Perlu Dibina, Tak Sedikit Ruang Butuh Ditata
Agar Setiap Lidah Mencicip Manisnya Merdeka
Alunan Syair Indah Diiringi Nafiri
Lantunkan Hanya Pada Sang Empunya Bumi
Agar Nikmat Merdeka Mengalir Dari Tiap Hati
Tersalur Dalam Lumbung Pundi-Pundi
Indahlah Tak Merasa Merdeka Sendiri
Berbagi... Pasti Lebih Berarti
Sungguh Mencintaimu... (Negri)
Balada Wira dan Yuda
Karya: Agustinus Haryanta (Ign. Loyola 4)
Sendiri Kakek Wira jongkok di pematang,
menunggu itik mencari makan.
sambil nikmati teh hangat bekal dari Nenek.
Memandang gunung di batas sawah,
teringat goa persembunyian saat perang.
Pukul tujuh belas menggiring itik pulang,
tuk bercengkrama hingga pukul delapan
indahkan suasana, nikmati kebersamaan
Sore berikut ditemani Yuda,
cucu pertama kelas empat naik ke lima. +Yuda...!
-Ya, Kek! jawab cucunya.
+Besok gede, jadilah pejuang!
Dari sekarang rajinlah berdoa
dan sekolah setinggi-tingginya!
-Jadi tentara seperti kakek?
+Bukan! Tidak harus begitu!
-Gimana Yuda sekolah tinggi?
Bapak cuma pegawai rendahan,
Gaji kecil, padahal temannya pada kaya!?
+Bapakmu sedang berjuang,
ia menentang korupsi
Gaji kecil, tapi berkah.
Ingat, uang bukan segalanya!
-Terus, Yuda harus gimana?
+Kau bisa jadi apa saja,
ahli pertanian misalnya!
Hasilkanlah panen melimpah
agar pangan tak dipermainkan mafia!
Pukul tujuh belas mereka pulang
karna Maghrib sudah menjelang
Doa Angelus akan dilambungkan
dan Sang Hyang Widi Wasa perlu disembah
Pukul delapan malam :
+Cucuku, tidurlah!
Meski sudah merdeka,
tetaplah bermimpi jadi pejuang!
Esok pukul empat-lima,
bangun, dan jadilah pembawa berkar!
76 tahun Indonesiaku
Karya: Irene Santi Widiastuti (Petrus 4)
Aku memang tak lagi muda... 76 tahun sudah...
Ketika aku tertatih, menyusuri jalan yang pernah kulalui, sejenak ku tersenyum
Perjuangan dan pengorbanan yang begitu mendalam tiada sia-sia
Namun, tiba-tiba aku merasakan pedih, perih hati ini, tatkala kulihat diujung jalan terjadi perselisihan, caci maki, kekerasan, ketidak adilan dan ketidakpedulian
Kini ... sunyi... aku kesepian
Dimana senyum sapa itu ? Aku rindu
Rindu gelak tawa itu, saat kita bergandengan tangan Dimana kebebasan itu ?
Kembali ku tertegun
Apalah artinya kebebasan jika tanpa karya?
Apalah artinya kemerdekaan yang ada jika tiada upaya? Marilah peduli
Laporan Patricia–Panitia HUT RI ke-76 Sie Keadilan dan Perdamaian/ Foto-foto: Panitia