Silvia Dwi Novi Juara 1 Lomba Mengarang Puisi Kemerdekaan Santa Bernadet

2 September 2021
  • Bagikan ke:
Silvia Dwi Novi Juara 1 Lomba Mengarang Puisi Kemerdekaan Santa Bernadet

Silvia Dwi Novi (kiri), Juara 1 Lomba Mengarang Puisi.

Silvia Dwi Novi dari Lingkungan Yoseph 1 terpilih sebagai Juara 1 Lomba Mengarang Puisi  yang diadakan oleh Gereja Santa Bernadet Paroki Ciledug dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun  ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia. Puisi berjudul: Mencintaimu... (Negri) berhasil menyisihkan 13 karya puisi yang diterima Panitia. Puisi ini mendapatkan nilai total terbanyak berdasarkan penilaian dari 3 (tiga) orang juri, yang terdiri dari: Bp Alexander Suryanta (Pengajar Bahasa Indonesia, Sekolah St Laurensia - Alam Sutera), Romo Matius Pawai, CICM, dan Ibu Sakura Indah Sari (Panitia).

Juara 2 puisi--

Bp Agustinus Haryanta, Juara 2.

Juara kedua dalam lomba mengarang puisi ini adalah Bp Agustinus Haryanta dari Lingkungan Ign Loyola 4, dengan judul puisi: Balada Wira dan Yuda. Dan kemudian Juara ketiganya Ibu Irene Santi Widiastuti dari Lingkungan Petrus 4, dengan judul puisi: 76 Tahun Indonesiaku.

Untuk tahun 2021 ini Panitia HUT Kemerdekaan Santa Bernadet adalah Sie Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang sangat mengapresiasi partisipasi umat. Bapak Alexander Suryanta, sebagai juri mengatakan, “Semua peserta hebat. Menang kalah bukan tujuan utama, tapi pilihan untuk ikut adalah telah berhasil memenangkan atas diri sendiri.”

lomba 17 an Puisi Juara 3--

Ibu Irene Santi Widiastuti, Juara 3.

Lomba Mengarang Puisi tahun ini diikuti oleh ‘hanya’ 7 orang umat saja. Setiap peserta diperbolehkan untuk mengirimkan maksimal 3 buah karya puisi dan terkumpullah 13 karya puis yang dilombakan. Hadiah yang disediakan Panitia adalah piala dan uang tunai untuk juara 1 sampai dengan juara 3. Selain Lomba Mengarang Puisi, kegiatan dan lomba lain yang diadakan oleh Panitia antara lain: Misa, Upacara Penaikan Bendera, Talkshow Kemerdekaan, Lomba Photo, Lomba Menyanyi Anak–Lagu Nasional, dan Lomba Game Online.

Pada akhirnya, Panitia berharap dengan adanya kegiatan dan lomba-lomba yang diadakan, umat masih dapat memaknai arti kemerdekaan, walau masih dalam suasana tidak merdeka akibat pandemi.

 


Pengumuman

Pengumuman--


Puisi-puisi para juara

MENCINTAIMU... (NEGRI)

Karya: Silvia Dwi Novi (Yoseph 1)

 

MERDEKA...

Ia Adalah Harapan Bagi Yang Terpenjara

Dari Jiwa Raga Yang Direnggut Durjana

Segala Upaya... Beragam Cara... Bahkan Serahkan Nyawa

Jadi Taruhan Untuk Satu Kata

MERDEKA...

 

Saat Ia Dalam Genggam

Membuai Hati Yang Berawal Kelam

Duka Lara Sirna... Hanyut... Lalu Tenggelam

Kar’na Kapal Yang Menjauh Dari Karam

 

INDONESIA... TANAH MERDEKA... NEGRIKU

Kami Bahagia Hidup Di Alammu

Irama Jantung Dan Denyut Nadi Kami

Senantiasa Terpanggil ‘Tuk Mengabdi

 

Harumnya Udara Merdeka

Tak Melulu Dirayakan Dengan Berfoya

Karna Di Bumi Merdeka Nusantara

Banyak Tunas Perlu Dibina, Tak Sedikit Ruang Butuh Ditata

Agar Setiap Lidah Mencicip Manisnya Merdeka

 

Alunan Syair Indah Diiringi Nafiri

Lantunkan Hanya Pada Sang Empunya Bumi

Agar Nikmat Merdeka Mengalir Dari Tiap Hati

Tersalur Dalam Lumbung Pundi-Pundi

Indahlah Tak Merasa Merdeka Sendiri

Berbagi... Pasti Lebih Berarti

Sungguh Mencintaimu... (Negri)


 

Balada Wira dan Yuda

Karya: Agustinus Haryanta (Ign. Loyola 4)

 

Sendiri Kakek Wira jongkok di pematang,

menunggu itik mencari makan.

sambil nikmati teh hangat bekal dari Nenek.

Memandang gunung di batas sawah,

teringat goa persembunyian saat perang.

 

Pukul tujuh belas menggiring itik pulang,

tuk bercengkrama hingga pukul delapan

indahkan suasana, nikmati kebersamaan

 

Sore berikut ditemani Yuda,

cucu pertama kelas empat naik ke lima. +Yuda...!

-Ya, Kek! jawab cucunya.

+Besok gede, jadilah pejuang!

Dari sekarang rajinlah berdoa

dan sekolah setinggi-tingginya!

 

            -Jadi tentara seperti kakek?

            +Bukan! Tidak harus begitu!

            -Gimana Yuda sekolah tinggi?

            Bapak cuma pegawai rendahan,

            Gaji kecil, padahal temannya pada kaya!?

 

+Bapakmu sedang berjuang,

ia menentang korupsi

Gaji kecil, tapi berkah.

Ingat, uang bukan segalanya!

            -Terus, Yuda harus gimana?

+Kau bisa jadi apa saja,

ahli pertanian misalnya!

Hasilkanlah panen melimpah

agar pangan tak dipermainkan mafia!

 

Pukul tujuh belas mereka pulang

karna Maghrib sudah menjelang

Doa Angelus akan dilambungkan

dan Sang Hyang Widi Wasa perlu disembah

 

Pukul delapan malam :

+Cucuku, tidurlah!

  Meski sudah merdeka,

  tetaplah bermimpi jadi pejuang!

  Esok pukul empat-lima,

  bangun, dan jadilah pembawa berkar!

 


76 tahun Indonesiaku

Karya: Irene Santi Widiastuti (Petrus 4)

 

Aku memang tak lagi muda... 76 tahun sudah...

Ketika aku tertatih, menyusuri jalan yang pernah kulalui, sejenak ku tersenyum

Perjuangan dan pengorbanan yang begitu mendalam tiada sia-sia

Namun, tiba-tiba aku merasakan pedih, perih hati ini, tatkala kulihat diujung jalan terjadi perselisihan, caci maki, kekerasan, ketidak adilan dan ketidakpedulian

 

Kini ... sunyi... aku kesepian

Dimana senyum sapa itu ? Aku rindu

Rindu gelak tawa itu, saat kita bergandengan tangan Dimana kebebasan itu ?

 

Kembali ku tertegun

Apalah artinya kebebasan jika tanpa karya?

Apalah artinya kemerdekaan yang ada jika tiada upaya? Marilah peduli


Laporan Patricia–Panitia HUT RI ke-76 Sie Keadilan dan Perdamaian/ Foto-foto: Panitia

Tags
HUT
Lomba

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna