Misa Minggu sore, 30 Januari 2022, di Balai Metro dipersembahkan oleh Pastor Matius Pawai, CICM, dan Pastor Erwin Pallulungan, CICM.
“Di Kongo kulit saya yang gelap ini paling putih dan saya paling ganteng, maka saya sangat senang bermisi ke Kongo. Daripada saya di Indonesia tidak ada yang istimewa, mirip dengan bacaan Injil dan homili Pastor Matius tadi,” demikian gurauan Pastor Erwin Palallungan, CICM, dalam perkenalannya sebelum misa berakhir.
Minggu, 30 Januari 2022, misa sore jam 17.00 di Balai Metro terasa istimewa. Di tengah pandemi corona dengan jumlah umat yang amat terbatas, yakni kurang dari 100 orang, misa dipersembahkan oleh 2 Imam, yakni Pastor Matius Pawai, CICM, dan Pastor Erwin Palallungan, CICM.

Umat hadir dalam jumlah terbatas.
“Hari ini kita kedatangan tamu, Pastor Erwin, CICM. Beliau bermisi di Kongo Afrika. Beliau sedang berlibur di Indonesia. Sedianya hari Sabtu, 29 Januari 2022, beliau harus kembali ke Kongo tetapi karena pandemi corona jadwal penerbangan ditunda. Maka sore ini saya ajak beliau ke sini untuk merayakan Ekaristi bersama,” demikian Pastor Matius membuka Perayaan Ekaristi sore itu.

Protokol kesehatan: Petugas semprotkan hand sanitizer sebelum komuni.
Dalam homilinya, Pastor Matius Pawai, CICM, mengingatkan pentingnya komunikasi dan perhatian dalam keluarga. Kalau masih ada komunikasi antara suami dan istri, anak dan orangtua atau sebaliknya, itu pertanda kasih masih ada dalam keluarga itu. Hal yang sebaliknya, jika dalam keluarga saling cuek tanpa bertegur sapa dan berbagi cerita, pasti tidak ada kasih di sana.

Bersama para petugas liturgi: Prodiakon, Misdinar, Pemazmur, dan Lektor.
“Hari ini kita diingatkan dalam bacaan kedua Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: Demikianlah tinggal ketiga hal ini, Iman, Pengharapan dan Kasih dan yang paling besar di antaranya adalah kasih,” terang Pastor Matius.
Pengalaman dicintai dan dikasihi, lanjut Pastor Matius, adalah pengalaman yang menyenangkan. Tetapi ada kalanya kita juga mengalami pengalaman gagal atau ditolak. Yesus dalam Injil hari ini mengalami pengalaman ditolak oleh lingkungan terdekatnya. Bukankah ia ini anak Yusuf? (Luk 4 : 21-30). Penolakan itu justru memacu Yesus untuk berkarya dan mengajar semakin luas dan menjangkau semakin banyak orang.

Pastor Erwin dan Pastor Matius foto bersama petugas koor dan organis.
“Maka jika Anda mengalami kegagalan atau pengalaman tidak mengenakkan, jadikanlah itu sebagai titik tolak untuk berkembang. Jadikanlah titik tolak untuk menemukan hal-hal baru yang justru akan menjadi peluang untuk tumbuh dan menjadi besar,” pesan Pastor Matius.
Sebelum berkat penutup Pastor Matius membagikan kabar gembira.

Tim dana internal PPRI penggalangan dana di Balai Metro. "Silakan mampir."
“Tadi siang jam 11.00 ada acara munggahan di lokasi pembangunan Gereja Pinang. Acara itu memohon berkat atas kerangka atap gereja yang akan segera dinaikkan. Itu artinya gereja kita yang sudah kita rindukan 31 tahun itu mulai besok dan hari-hari ke depan bangunan gereja akan segera tertutup atap. Maka mari kita sisihkan sedikit-sedikit dari yang kita miliki untuk mendukung pembangunan gereja ini. Di depan ada panitia yang siap membantu, silakan mampir,” ajak Pastor Matius.

Wawancara di Sakristi seusai misa.
“Ini kali kedua saya misa di tempat ini. Yang pertama tahun 2018 setelah tahbisan di Gereja Salvator Slipi sebelum saya berangkat ke Kongo. Dan hari ini saya bergembira diajak Romo Matius bisa hadir ke tempat ini untuk merayakan Ekaristi bersama,” kata Pastor Erwin.
Pastor Erwin belum bisa kembali ke Kongo. "Kasihan umat saya di sana," katanya.
“Sejak tahbisan, saya diberi tugas bermisi ke Kongo untuk melayani saudara-saudara kita di benua Afrika. Tempat yang amat sangat jauh, dari Kinsasa Ibu kota Kongo saya masih harus terbang lagi sekitar 3 jam, dilanjutkan perjalanan darat sekitar 5 jam. Sedianya saya selesai liburan dan kembali ke tanah misi hari Sabtu, 29 Januari 2022, namun karena corona jadwal penerbangan ditunda. Selama saya tinggal liburan, tidak ada pastor di sana. Kasihan umat saya di sana,” lanjutnya.

Kali kedua Pastor Erwin misa di Balai Metro.
“Saya di sana berada di tengah-tengah saudara-saudari kita yang berkulit hitam, maka saya yang berkulit gelap ini di sana paling putih dan paling ganteng. Maka saya senang bermisi di sana. Kalau di sini saya tidak ada istimewanya, mirip dengan Injil hari ini dan kotbah Pastor Matius,” gurau Pastor Erwin, sapaan akrabnya.
“Saya berdoa semoga umat di sini selalu sehat dan upaya dalam membangun gereja segera terwujud. Semoga di lain kesempatan kita dapat bertemu kembali,” harapnya.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto: Ruli