Yesus memberikan kotbah Sabda Bahagia. (Ilustrasi: katolikku.com)
“Selamat bertemu meskipun lewat online dengan umat Ciledug,” kata Romo Paulus Dalu Lubur, CICM, menyapa umat yang pernah digembalakannya itu di awal ibadat Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) Paroki Ciledug lewat zoom, Sabtu, 12 Februari 2022.
Pastor yang kini bertugas di Makassar itu juga menyatakan rasa senangnya karena ada OMK dan BIR yang bertugas sebagai pembaca Injil. Memang dalam Go-Kil itu Wilayah Albertus yang ditugasi SKKS sebagai penyelenggara melibatkan BIR dan OMK untuk tugas pembaca Injil, pemandu lagu, serta doa umat.

Romo Paulus Dalu Lubur, CICM, pemberi renungan.
Dimulai pukul 18.00, ibadat dihadiri 117 users (129 peserta) dari 19 Wilayah. Bacaan diambil dari Sabda Bahagia dalam Lukas 6:17.20-26, bacaan Injil Misa Minggu Biasa VI, 13 Februari 2022. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” (ay.20).
Sebelum memberikan renungannya, Romo Paulus lebih dulu mengupas latar belakang Injil Lukas menurut para ahli Kitab Suci untuk melihat kekhasannya dibandingkan Injil Sinoptik lain (Markus dan Matius), dengan poin-poin berikut:
Pertama, Yesus mengajarkan Sabda Bahagia dan Kutukan kepada banyak orang di dataran, setelah memilih 12 Rasul di gunung. Ini kotbah kedua setelah Yesus melakukan kotbah pertamanya di Nazareth. (Luk 4:16-30)

Pengisi lagu oleh OMK Wil. Albertus dan pemimpin ibadat Ibu Nani.
Kedua, para ahli membandingkan kotbah Yesus di dataran itu dengan pengajaran Musa kepada orang-orang sebangsanya sesudah turun dari Gunung Sinai untuk menerima 10 Perintah Allah.
Ketiga, kotbah Yesus ditujukan untuk semua orang, siapapun, baik miskin maupun kaya, dan diambil dari tema kehidupan sehari-hari. Kotbah ini masih relevan hingga saat ini karena sifatnya yang universal.
Keempat, teks Sabda Bahagia Lukas terinspirasi oleh Magnificat (Nyanyian Maria, Luk 1:46-56) sebagai peringatan untuk mereka yang memiliki pengaruh dan kekuasaan dan kekayaan dalam hidup ini. Yang kaya diusir dengan tangan kosong, yang miskin hina dina diangkatnya. (Lihat: Luk 1:53).

Para petugas (1).
Kelima, dengan Magnificat Lukas mengingatkan tentang peranan Bunda Maria yang membawa kabar gembira, pembebasan bagi yang miskin dan hina dina.
Kesimpulannya, Sabda Bahagia itu bukan pernyataan abstrak, tapi pernyataan atau aklamasi kegembiraan mereka yang mengikuti-Nya, yaitu “sukacita karena iman akan Allah yang menjanjikan suatu kebahagiaan apabila kita membuka hati untuk menerima keadaan kita dengan rasa syukur”.

Para petugas (2).
Setelah kupasan posisi Injil Lukas tersebut, Romo Paulus mengatakan bahwa cara pandang kita terhadap kemiskinan, pendosa, pemungut cukai, berbeda dengan pandangan Yesus.
“Kita selalu melihat orang miskin dengan rasa kasihan, iba, dan membuat kita membantu karena rasa iba, sedangkan Yesus tidak,” katanya. Yesus melihat dalam orang kecil dan miskin ada kekuatan.
Melalui cara hidup orang miskinlah Kerjaaan Sorga dinyatakan. Karena itu Yesus turun dari bukit untuk menemui orang banyak di sebuah dataran dan masuk ke dalam orang kecil agar Ia bisa menyapa, berdialog, menyembuhkan, dan mewartakan Kabar Gembira tentang Janji Allah.

Sambutan Korwil Albertus yang baru Ibu Veronica Aty, pertama kalinya di tingkat paroki.
“Di dalam orang miskin, Yesus mendapatkan hikmat, inspirasi bahwa dengan cara seperti itu Kerajaan Allah yang Dia bawa dalam misi-Nya dapat dinyatakan karena orang miskin cepat menerima janji untuk menjadi bahagia, untuk dipenuhkan apa yang menjadi kekurangan dalam hidup,” kata Romo Paulus.
Yesus pun turun dari atas, masuk ke dalam lingkungan hidup di mana kita berada untuk berjuang demi hidup yang lebih baik. Yesus mau kita menyadari bahwa hidup kita tidak bergantung pada materi. Tuhan hadir pada setiap jiwa manusia.

Sebagian peserta Go-Kil Paroki Ciledug, 12 Februari 2022.
“Kadang kita lupa bahwa orang miskin bisa mengajarkan kita untuk hidup sederhana, bukan untuk mengumpulkan kekayaan semaksimal mungkin,” katanya lagi.
“Masih banyak orang tersingikir dari lingkup masyarakat karena tidak mempunyai pengaruh. Itu disebut penyakit yang harus disembuhkan. Tuhan membebaskan kita untuk memilih, berbahagia atau celaka,” imbuhnya.

Romo Paulus di antara para peserta Go-Kil lainnya.
Romo Paulus menyampaikan permenungan: 1) Siapa kita dan apa yang bisa kita kontribusikan untuk penyembuhan tersebut?; 2) Siapkah kita berkorban, menjadi miskin yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang?; 3) Apakah kita mau mengambil risiko untuk sungguh-sungguh menjalankan apa yang Tuhan harapakan?
“Semoga dalam perjalanan hidup kita, Sabda Bahagia ini menuntun kita untuk senantiasa berpusat/berpatok pada Sabda Tuhan yang menjadi tuntunan hidup bagi setiap orang beriman, yaitu Sabda hidup yang membangun semangat yang mulai luntur/mati suri di kehidupan kita,” pungkasnya.

Sebagian peserta lain Go-Kil Paroki Ciledug, 12 Februari 2022.
Romo Paulus kemudian menjawab sejumlah pertanyaan/ tanggapan dalam sesi tanya jawab.
Penyakit sosial ada hubungannya dengan dosa sosial, yaitu tindakan yang tidak berpihak pada yang kecil, entah di gereja atau masyarakat. Tuhan tidak hadir dengan cara majestik (megah), tapi dalam kesederhanaan. Diperlukan kesadaran dan tanggung jawab semua orang.

Bp Legowo mengajukan pertanyaan tentang penyakit sosial.
Ada aspek miskin di luar materi: miskin spiritual, miskin dalam hidup doa. Miskin dalam hubungan dengan Allah harus berbahagia, karena di dalam kemiskinan itu masih ada tempat di hatinya untuk Sabda Roh, untuk Dia.

Bp Djoko Riyadi menyampaikan pertanyaan.
Sumber Injil Lukas salah satunya dari Injil Markus dan Injil Matius. Dalam Injil Matius tidak ada “celaka” karena Injil Matius ditulis terlebih dahulu, sedangkan kata “celaka” ditambahkan dalam Injil Lukas untuk memberikan penekanan betapa pentingnya orang miskin.

Bp Wardoyo menanyakan paradoks dalam Injil Lukas.
Mereka yang kesulitan iman dalam mengikuti Yesus harus mengalami hal yang sama seperti Yesus, yaitu memilih miskin dalam arti tidak terikat dengan dunia, popularitas dan sebagainya. Dengan miskin, kita mempunyai ketergantungan dari kekurangan kita pada yang lebih besar, yaitu Allah sendiri yang ada di hati orang miskin. Berikan tempat pada Tuhan seperti orang miskin rindu pada makanan.

Pengumuman SKKS oleh Ibu Ida dan sambutan Ketua SKKS Ibu Lita Noviana.
Teks: A Budi K/ Foto-foto: Screenshot