Romo Felix Supranto, SS, CC
Bertepatan dengan awal bulan Rosario, komunitas Emmaus Journey Angkatan VIII mengadakan gathering atas selesainya pembelajaran Buku I EJ, Perjalanan Menuju Hidup Mendasar. Acara berlangsung Sabtu, 1 Oktober 2022, pukul 08.00-13.00, di Balai Metro, dihadiri oleh 90 orang yang terdiri dari peserta Angkatan VIII, fasilitator dan panitia.
Gathering dipandu oleh duo MC, Ninik dan Marisa. Lagu pengantar doa dan Mars Emmaus Journey dinyanyikan bersama oleh semua yang hadir, diiringi organis Bernardus Da Cunha. Doa Pembukaan: Agustinus Sulianto; Kata Pengantar: Ketua Panitia EJ Angkatan VIII, Indra Gunawan; Sambutan: Ketua SKKS Lita Noviana; dan Doa Penutup: Marthen Demu.

Ketua Panitia Indra Gunawan, Ket SKKS Lita Noviana, Duo MC Ninik dan Marisa.
Acara tersebut menampilkan dua narasumber yang menyampaikan materi untuk mengobarkan semangat calon emmauser dan fasilitator, serta mengajak untuk senantiasa taat dan rendah hati.
Pemateri: Romo Felix Supranto, SS, CC
Sesi pertama dibuka oleh Romo Felix Supranto dengan materi berjudul “Semakin Serupa dengan Yesus.” Menurutnya, menjadi seorang emmauser adalah sebuah panggilan dari Tuhan untuk menjadi semakin serupa dengan gambaran anak sulung-Nya, sesuai dengan Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Namun pada kenyataannya, manusia masih jauh dari cerminan kemuliaan Tuhan, karena keterikatan terhadap dosa. Tujuh dosa yang mematikan terdiri atas kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan dan kemalasan.
Dalam usaha untuk menjadi semakin serupa dengan gambaran Yesus, Romo Felix menekankan tujuh kualitas utama yang mencerminkan pikiran dan perasaan Kristus.
1. Sikap yang tenang dalam menghadapi masalah, karena percaya bahwa Tuhan setia. Dalam menghadapi penderitaan, diingatkan bahwa Yesus tidak akan meninggalkan dan menelantarkan kita dalam perjalanan sambil memikul beban hidup.
2. Memiliki motivasi sikap yang benar, yaitu atas dasar cinta kita kepada Yesus.
3. Melakukan segala sesuatu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia, sesuai dengan Kolose 3:23. Sebab apabila yang kita cari hanyalah pengakuan dari manusia, maka kita akan selalu kecewa.
4. Menjadi murah hati. Sebab kita tahu apa yang kita miliki adalah kasih karunia dari Tuhan, bukan usaha kita sendiri, sehingga kita dapat dengan ikhlas memberi dengan sukacita.
5. Selalu bersyukur.
6. Memiliki kerendahan hati untuk berserah kepada kehendak Tuhan.
7. Jujur dan tulus. Sehingga apapun yang kita lakukan dapat memancarkan terang Tuhan dan kemuliaan Allah.

Ibu Evodia Sembiring.
Pemateri: Ibu Evodia Almawaty Sembiring
Sesi kedua dibawakan oleh Ibu Evodia Sembiring, seorang devosan Padre Pio yang sering berbagi firman Tuhan dalam channel Youtube-nya. Dalam sesi ini, Ibu Evodia membawakan tema besar “Rendah Hati”.
Menurutnya, Bunda Maria—yang pada Bulan Rosario Oktober ini kita berdevosi kepadanya—merupakan sosok panutan yang mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Dalam hidupnya, ia taat dan setia menjalankan kehendak Allah walaupun harus melewati berbagai penderitaan. Dari Bunda Maria kita dapat belajar untuk menjadi rendah hati dan menghasilkan buah-buah kebaikan.
Sebuah pohon yang kokoh pastinya didasari oleh akar yang kuat, sehingga menghasilkan buah yang banyak. Ibu Evodia mengajak para peserta untuk menggambar pohon kerendahan hati. Pada simulasi menggambar pohon ini, peserta dibagi menjadi enam kelompok dan setiap kelompok harus menggambarkan akar, batang dan buah-buah dari kerendahan hati, pada sehelai kertas manila ukuran poster.
Ciri-ciri orang yang rendah hati, katanya, adalah mau terus belajar, mau mendengarkan orang lain, mempercayai rencana/kehendak Tuhan, meyakini adanya campur tangan Tuhan dalam keberhasilan dan selalu bersabar dalam pelayanan. Dalam pribadi Yesus sendiri, kerendahan hati ditunjukkan ketika membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia mengatakan, “Aku datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani.” Ia melayani murid-murid-Nya dan memanggil mereka sahabat.
Di akhir pemaparannya, Ibu Evodia menampilkan Doa Kerendahan Hati yang telah ditulisnya, dan minta seluruh peserta membacanya bersama. Kerendahan hati yang dituangkan dalam doa ini diharap mendasari perjalanan hidup para calon emmauser dalam perjalanan mereka menuju Emaus.
Teks: Tim SKKS/ Foto-foto: BudHandoyo-Pan EJ VIII-2022

Dari atas: Kelompok Name Tag Biru, Oranye, Hijau.
.jpg?1665191280819)
Foto bersama, bergilir sisi kiri dan kanan ruang.