Umat memadati gereja dalam misa Malam Natal 2.
“Hampir tidak bisa berkata-kata,” jawab Romo Lamma ketika diminta kesannya usai misa pertama Malam Natal karena akhirnya gereja bisa terbangun walaupun belum seratus persen; umat begitu antusias, datang dalam jumlah di luar dugaan meskipun hujan.
Karena belum semuanya selesai Romo Lamma berharap, ke depan kelancaran semua urusan menjadi perhatian bersama umat St Bernadet, termasuk parkir. Lebih dari itu, kegiatan umat di gereja semakin hidup, bergeliat. Sayang jika gedungnya bagus tetapi kegiatan menggerejanya kurang.

Kunjungan Kapolresta Kombes Dwi Zain Nugroho SIK.
Sementara itu Ketua Panitia Natal Tuluss22 C Tri Haryanto, Korwil Paulus yang akrab disapa Pak Tri, mengungkapkan rasa bangga dan haru karena membeludaknya peserta misa dan lancarnya perayaan.
Adalah Pak Tri yang berupaya menyebar imbauan mengenakan pakaian/aksesoris daerah agar ada kesan baik dan kelak misa pertama di gedung baru tak terlupakan.
 PAKAI.jpg?1672201890633)
C Tri Haryanto, Ketua Panitia Natal Tuluss22.
Bagi panitia tantangan yang paling dirasakan adalah waktu dan dana. Meski sudah sejak pertengahan November curi-curi waktu buat persiapan, tetap saja terasa sangat mepet, apalagi di dua tempat (Pinang dan Metro). Banyak tenaga dipersiapkan dan akhirnya beres walaupun, kata Pak Tri, “Yang keluar juga 4 L, lu lagi lu lagi…”
Namun yang paling menguras pikiran dan bikin sedikit rasa was-was adalah waktu kerja bakti karena harus memastikan bahwa ketika misa dimulai semua area siap. “Semua harus disiapkan, dong, dan butuh banyak tenaga. Bersyukur semuanya selesai,” kata Pak Tri.
 PAKAI.jpg?1672201951491)
Tak mudah menghitung dan membagi hosti untuk lesehan.
Soal dana, karena ini misa di gereja milik sendiri semestinya ada support yang cukup. Tapi karena gereja sedang membangun keterbatasan bisa dimaklumi. Dari pengalamannya itu Pak Tri berpesan untuk panitia berikutnya agar melakukan koordinasi yang bagus dan kompak. “Susah kalau tidak kompak,” katanya.
Salah satu tim petugas liturgi yang melibatkan banyak orang adalah Prodiakon. Menurut Koordinator Prodiakon Bambang Gunadi yang akrab disapa Pak Bambang, tugas Prodiakon di misa apapun tidak berbeda. Tetapi karena di gereja baru titik-titiknya masih baru, memberikan pengarahan tidak mudah.
 PAKAI.jpg?1672201986666)
Bambang Gunadi, Koordinator Prodiakon St Bernadet.
Luberan umat yang tidak terprediksi sebenarnya yang bikin skenario sesuai gladi bersih harus berubah. Prodiakon yang awalnya ditugaskan 24 orang ditambah menjadi 27 karena banyak titik pembagian komuni yang belum disiapkan. Ditambah 2 pastor pembagi komuni menjadi 29.
“Banyak titik-titik baru sehingga menjadi sulit, apalagi untuk yang lesehan di atas/balkon. Membagi komuni untuk lesehan agak susah,” katanya.
 PAKAI.jpg?1672202021918)
Umat tetap antusias meski misa lesehan di lantai atas.
“Menghitung orang yang duduk di bawah dan mengatur lalu lintas yang belum dikelola itu sulit. Karena jumlah hosti terbatas, Prodiakon yang balik begitu hosti habis harus balik lagi,” jelasnya sambil menggambarkan gerak turun-naik dari dan ke balkon lewat tangga.
Pak Joedho, salah satu Prodiakon yang sudah lansia, bercerita, “Menggeh-menggeh (ngos-ngosan) juga merayapi tangga ke balkon untuk membagi komuni…”
 PAKAi.jpg?1672202080091)
Prodiakon pada misa Malam Natal 1.
Belum adanya tabernakel di gereja baru juga mempengaruhi mekanisme distribusi dan penyimpanan hosti. Karena tabernakel ada jauh di belakang (gereja bedeng), tidak berani menyediakan hosti melimpah.
Kalau tabernakel dekat, kata Pak Bambang, berani mengisi setiap sibori penuh dan jika berkurang isi hostinya bisa disimpan di tabernakel. Tapi langkah itu sulit diambil karena tabernakel jauh.
PAKAI.jpg?1672202274440)
Umat membeludak sampai di luar gereja.
“Sebetulnya tadi sisa (hosti) juga masih banyak, hanya tidak ketahuan yang kurang sebelah mana yang lebih sebelah mana. (Prodiakon) Untuk bergantian titik jauh. Sisa masih satu sibori besar tapi untuk pembagian merata jadi nggak gampang,” katanya.
Ke depannya kalau sudah tertib gampang. “Yang penting kita mau misa dengan kapasitas berapa. Karena kemarin (waktu gladi bersih) di atas tidak diproyeksi akan ada orang, saya hanya memberi Prodiakon untuk titik-titik sesuai yang diminta panitia. Tetapi secara umum lancar. Tidak lancarnya ya karena titik-titik yang belum diketahui itu,” ujarnya.

Tidak terprediksi umat misa di lantai atas.
Sementara itu koordinator tata tertib Donatus Kasdana senang ketika banyak yang ikut misa karena itu tanda berkembangnya umat. Di Malam Natal itu tidak ada kesulitan berarti. Kesulitan terjadi kalau petugas tatib tidak datang.
“Tadi 25 orang petugas tatib belum cukup. Nantinya 35 minimal,” kata Pak Kasdana. Ia berjanji akan membuat tatib menjadi lebih tertib kelak jika kursi-kursi permanen sudah tersedia.
 PAKAi.jpg?1672202377142)
Koordinator tata tertib Donatus Kasdana.
Ketua TGKP Paroki Pinang Albertus Sukindro ketika ditemui mengaku bangga dan terharu juga karena semua sisi gereja penuh umat, mulai dari bagian dalam, sayap kanan dan sayap kiri gereja, di depan gereja hingga balkon gereja.
 PAKAI.jpg?1672202439290)
Umat bisa mengikuti misa lewat layar kaca di luar gereja.
Tim sudah mengantisipasi membeludaknya umat. Protokol kesehatan sesuai arahan dan SK dari KAJ tetap dijalankan, di antaranya wajib masker, cek suhu, dan tetap jaga jarak sesuai penataan kursi.
Kendala berarti nyaris tidak ada. Hanya peralihan dari gedung lama ke gedung baru harus diusahakan sedemikian rupa agar umat tetap nyaman dan aman selama misa. Ini semua tidak lepas dari dukungan dan bantuan DPH, PPRI serta panitia yang sudah bekerja maksimal.
--PAKAI.jpg?1672202473656)
Albertur Sukindro Ketua TGKP Paroki Pinang.
Pak Kindro berharap ke depannya umat mau untuk terus datang dan melibatkan diri dalam pelayanan di gereja kita tercinta ini.
Peliput: Elsa, Yola, ps/ Foto-foto: Elsa, Yudha, Ana, Arya, ps
Mengapa koor-koor Malam Natal mendapat banyak pujian? Motivasi apa yang ada di balik penampilan mereka? Apa kendala dan harapannya ke depan? Ikuti laporan liputan berikutnya.