Webinar Wanita Katolik RI St Bernadet: Penanganan Stunting Tugas Kita Bersama

23 Maret 2023
  • Bagikan ke:
Webinar Wanita Katolik RI St Bernadet: Penanganan Stunting Tugas Kita Bersama

dr. Maria Endang Sumiwi, pembicara (kiri atas).

Stunting atau tengkes (kerdil), menurut WHO, merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan tinggi badan yang berada di bawah standar. Hingga saat ini, stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Stunting juga menjadi keprihatinan kita sebagai umat Katolik. Isu stunting diangkat dalam Surat Gembala Prapaskah Kardinal Ignatius Suharyo 2023 untuk Keuskupan Agung Jakarta.

Seperti dikutip dari Surat Gembala tersebut, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan telah mengakibatkan peningkatan jumlah orang miskin di Indonesia (menjadi 26,36 juta) dengan buntut penurunan daya beli.

Pada akhir tahun 2022, diperkirakan 68% penduduk Indonesia tidak mampu memenuhi gizi harian mereka. Salah satu dampaknya: angka kasus tengkes pada anak usia 12-23 bulan pada tahun 2022 meningkat, dari sebelumnya 565.479 menjadi 978.930.

Hal inilah yang menjadi latar belakang Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet menyelenggarakan webinar bertajuk Peduli Stunting. Webinar ini dilaksanakan Sabtu, 11 Maret 2023 jam 16.00, dengan pembicara dr. Maria Endang Sumiwi, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

5-- (2)

Sebagian dari 80 peserta webinar.

Webinar diikuti oleh 80 peserta. Acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan Mars Wanita Katolik RI, sambutan Ketua Dewan Pengurus Cabang Wanita Katolik RI Santa Bernadet, Agnes Widi Astuti dan Anggota Presidium I Dewan Pengurus Daerah Wanita Katolik RI Jakarta, Sanny Mathilda Tapilatu.

Webinar dipandu moderator Hendrika Yunapritta, yang mengawali dengan perkenalan sosok dr. Maria Endang Sumiwi MPH, pejabat Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat pertama yang berasal dari kalangan profesional.  Dokter Endang dilantik menjadi pejabat eselon I Kementerian Kesehatan oleh Presiden Jokowi pada bulan Maret 2022 lalu.

Dimulai dari kehamilan

Selama hampir satu jam, dr. Endang menjelaskan stunting. Angka stunting di Indonesia masih relatif tinggi, yakni 21%, dibandingkan dengan Thailand (11%), atau negara-negara Eropa. Penanganan stunting ini merupakan tanggung jawab semua kalangan di Indonesia, terutama karena bonus demografi negara kita tahun 2030, saat generasi muda menjadi 65% bagian dari penduduk.

Itu sebabnya, generasi muda kita harus kuat dan tidak stunting. Penanganan stunting, saat ini melibatkan 23 lembaga pemerintahan yang menggarap berbagai aspek, termasuk penyediaan air bersih dan sanitasi. Lebih dari itu, “Penanganan stunting ini tugas kita bersama,” ujarnya.

3---_2

Hendrika Yunapritta, moderator (kanan atas).

WHO sudah membuat patokan ukuran berat dan panjang badan anak untuk memantau status stunting ini. Stunting atau tengkes/kerdil menunjukkan secara fisik anak tidak berkembang dengan normal. “Badan ini bisa dibilang ‘casing’. Lebih dari itu, organ dalam pun juga tidak berkembang optimal,” kata dr. Endang.

Nah, “Pemantauan status penambahan berat dan panjang bayi di Posyandu sangat penting,” tutur dr. Endang yang juga membeberkan dengan detail metode pengukuran tersebut di kartu sehat bayi. Setiap bulan bayi harus dibawa ke Posyandu dan pertumbuhannya dicatat. Alhasil, ketika berat dan panjang tubuhnya tidak sesuai patokan WHO, bisa cepat mendapat penanganan.

“Sebenarnya, penanganan stunting saat bayi sudah lahir itu bisa dibilang terlambat,” jelas dr. Endang. Maka dari itu, pencegahan stunting dimulai dari masa kehamilan. Kondisi badan ibu hamil pun harus siap, sehingga ketika lahir, panjang badan anaknya minimal 48 cm.

Gerakan protein hewani

Salah satu tantangan saat ini adalah bahwa 30% anak perempuan di Indonesia ternyata mengidap anemia. Pemerintah berusaha mengatasi keadaan ini dengan memberikan suplemen penambah darah bagi anak perempuan remaja.  Kampanye konsumsi protein hewani juga digalakkan Pemerintah untuk mereka yang usianya di bawah 18 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.

1---

Gerakan protein hewani untuk cegah stunting.

Dokter Endang juga menyajikan sejumlah data, salah satunya temuan angka stunting yang tinggi pada bayi berusia 6-12 bulan, dan 12-23 bulan. Ini terjadi, kemungkinan besar karena gizi anak tidak lagi terpenuhi saat mereka perlu makanan tambahan. Angka stunting bayi di bawah 6 bulan relatif rendah, karena bayi masih ASI Eksklusif. “Jadi, cooking class untuk ibu-ibu yang punya bayi itu penting,” kata dr. Endang yang mengapresiasi program Wanita Katolik RI memberikan makanan tambahan di Posyandu terdekat.

Penyampaian materi diikuti sesi tanya jawab. Dalam salah satu pertanyaan, dr. Endang menjelaskan angka stunting yang ditoleransi adalah 2,5% di suatu negara. Ada beberapa faktor yang bukan merupakan isu kesehatan umum, seperti faktor genetika.

Teks dan Foto: Tim Humas Wanita Katolik RI St Bernadet

Tags
WKRI

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna