Penyalahgunaan obat kembali terjadi. Hampir 76 orang di Kendari, Sulawesi tenggara, mengonsumsi obat PCC tanpa indikasi dokter. Akibatnya, satu orang meninggal dunia dan 50 orang dilarikan ke rumah sakit. Komisioner KPAI Retno Listyarti terus mendorong agar kepolisian mengungkap motif pelaku menyebarkan obat tersebut dan menjeratnya dengan pasal berlapis tentang kesehatan dan perlindungan anak.
“Kami mendorong polisi untuk nengungkap motif, kenapa pelaku sebagian besar menyasar anak-anak,” kata Retno, dalam sebuah acara diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (16/9/2017). Apa sebenarnya efek negatif mengonsumsi PCC?
Bahaya obat PCC yang beredar di masyarakat.
Dokter spesialis kesehatan jiwa dr Kristiana Siste, SpKJ (K) mengatakan, PCC terdiri dari Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol. Obat itu sebetulnya telah dilarang sejak tahun 2013. Indikasi PCC digunakan untuk pelemas otot. Bila dikonsumsi dalam takaran normal, PCC berguna untuk menghilangkan rasa nyeri, membuat rileks, dan juga menimbulkan rasa kantuk.
Kristiana mengatakan, Carisoprodol dapat menimbulkan efek memabukkan. Cara kerja Carisoprodol di dalam otak mampu membuat rasa senang berlebihan dan rasa nyaman. Efek lainnya adalah kejang, pingsan, muntah darah, keram perut, dan sakit kepala.
Selain itu, pengguna PCC berlebih bisa kesulitan mengontrol gerak tubuhnya. Denyut jantung bertambah, tekanan darah menurun, bahkan sulit mengontrol bola mata. Tak berhenti sampai di situ, Carisoprodol juga membuat seseorang berhalusinasi. Dengan begitu, bisikan atau bayangan sesuatu yang seharusnya tak ada seolah menjadi nyata. “Juga gejala psikotik, seperti orang ketakutan, dikejar-kejar. Oleh karena itu, (PCC) dihentikan karena Carisoprodol bisa menyebabkan ketergantungan. Semakin lama dosisnya semakin besar,” kata Kristiana.
Dalam audiensi dengan orang muda katolik dari Komunitas Katolik Shalom, Paus mengatakan bahwa obat-obatan adalah “salah satu budaya yang mengancam hidup kita.
Penyalahgunaan obat terlarang, menurut Bapa Suci, “menuntun kita untuk meniadakan semua hal yang mengakar dalam hidup kita: pekerjaan atau study kita, keluarga, tanah air, cinta kita, semuanya. Membuat kita hidup di dunia tanpa akar, tercerabut dari segalanya.
Lalu Bapa Paus dalam menghadapi persoalan penyalahgunaan obat ini mengajak kita semua untuk menyadari akan rencana Tuhan, yang merupakan rencana “untuk menghibur rasa sakit umat manusia,”.
Setiap orang harus memahami panggilan mereka “untuk melihat apa yang Tuhan inginkan dari kita mengingat panggilan kita,” katanya, dan mengatakan kepada para peserta untuk “memberi dengan bebas” diri mereka dan apa yang telah mereka terima…
Sumber: KATOLIKKITA.com