Boneka Tamu Ilahi
“Takut , tidak tahu caranya , jijik dan mungkin masih ada lagi alasan sebagian orang tidak mau atau menghindar jika diminta bantuan merawat atau memandikan jenazah,” demikian Suster Yulia OSA mengawali pemaparannya pada Pelatihan Merawat dan Memandikan jenazah di Gereja St Bernadet Pinang, Sabtu 17 Juni 2023.

Peserta 200-an orang.
“Dalam iman kita sebagai orang Katolik, ketika saudara kita meninggal, kita menyakini bahwa saudara kita ini dipanggil menghadap Allah Bapa di surga. Maka mulai saat ini Romo, Bapak-Ibu, dan saudara terkasih yang hadir di sini saya ajak untuk tidak lagi menyebut orang yang meninggal itu jenazah tetapi mereka sebagai tamu Ilahi,” kata Suster Yulia lagi.

Suster Yulia OSA.
Mendengar istilah baru yang amat indah tersebut 200-an orang yang hadir di tenda atas / gereja lama gemuruh bertepuk tangan. Dan sebagian bergumam, ”Ya… ya… sebutan yang amat indah dan penuh iman.”
“Kalau mereka itu sebagai tamu Ilahi, apakah kita tidak senang dan bangga ikut ambil bagian dalam karya Tuhan ini?” tanya Suster Yulia. Sebagian peserta menjawab, “Senang”, dan sebagian lainnya menjawab, “Bangga.” ”Kalau semua senang dan bangga saya akan melanjutkan pelatihan ini,” lanjut Suster Yulia.

Pak Edison Sitorus Ketua Sie Pelayanan Kematian.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Seksi Pelayan Kematian dan PSE Paroki Pinang Gereja Santa Bernadet. Peserta pelatihan ini dari utusan masing masing Lingkungan dan perwakilan dari kelompak kategorial seperti Legio Maria, Simeon-Hana, dan Prodiakon.

Penjelasan Suster Yulia.
Dalam sambutan pembukaan, Bp Yohanes Edison Sitorus mengungkapkan tujuan dari pelatihan ini untuk membekali umat agar ketika ada peristiwa kematian yang datangnya tidak terduga itu kita siap untuk membantu.

Romo Matius di antara para peserta pelatihan.
Sementara Romo Matius berharap semua peserta mengikuti pelatihan ini dengan serius dan memahami secara detail. Sehingga nanti kalau ada warga yang meninggal kita semua sudah tahu apa yang harus kita lakukan. “Ini yang dihadirkan orang-orang yang ahli dalam bidangnya,” tegas Romo Matius.
Palatihan ini dipandu oleh tim dari OASIS Lestari Jatake Tangerang. Sebuah lembaga pelayan kedukaan yang dimiliki oleh Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan dikelola oleh PT Dania Oasis Lestari, yang digagas dan dirancang pendiriannya oleh Pastor Albert Clemens Schreurs CICM dan diresmikan penggunaanya tahun 2005.

Ibu Ania Desliana Dirut PT Dania Oasis Lestari.
Ibu Ania Desliana Direktur Utama PT Dania Oasis Lestari yang juga hadir dalam kesempatan tersebut menjelaskan, Oasis Lestari merupakan pelayanan kasih terpadu (One Stop Service). Yang meliputi Rumah Duka, Krematorium, Kolumbarium (Rumah Abu), Geranium Florist, dan Griya Oasis. “Semua kita siapkan untuk membantu keluarga yang berduka demi kedamaian anggota keluarga yang sudah berpulang,” katanya.

Peserta bertanya.
Dalam pemaparan selanjutnya Sr Yulia OSA menjelaskan bahwa merawat tamu Ilahi merupakan keterampilan yang khusus. Maka dibutuhkan kemauan, kesabaran, dan keberanian. Dan sebelum memulai perawatan selalu didahului dengan doa-doa. “Maka Bapak Ibu silakan melibatkan Prodiakon untuk memandu dalam hal doa,” pesan Suster Yulia.

Foto bersama panitia, peserta, dan pemandu.
Dalam pelatihan tersebut dijelaskan mulai dari memandikan, mengenakan pakaian sampai memasukkan ke dalam peti. Peralatan apa yang harus disiapkan dan tahap tahapannya semua dijelaskan secara rinci. “Dan yang paling penting ketika kita merawat tamu Illahi lakukan dengan sopan dan ajaklah terus berkomunikasi meskipun mereka sudah tidak bisa menjawab apa yang kita sampaikan, percayalah mereka akan merespons,” pesannya lagi.

Peserta dengan penuh minat mengikuti penjelasan.
Selain penjelasan secara teori dalam pelatihan tersebut juga dilakukan praktik langsung dengan menggunakan boneka. Dimana praktik perawatan tersebut dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama dengan tamu Ilahi pria dan yang berpraktik para bapak-bapak. Sedangkan tahap dua tamu Illahi perempuan dan yang berpraktik para ibu-ibu.

Mas Yosef dari Wil. Kristoforus praktik merawat tamu ilahi.
Dalam sesi tanya jawab ada satu penanya yang menanyakan, jika kita meletakkan bunga tangan di dalam peti, bunganya ke atas atau bunganya ke bawah, karena seringkali ini menjadi perdebatan. Dengan tegas Suster Yulia menjawab, “Bunganya yang ke atas jadi tangkainya ke bawah. Karena saudara kita ini mau menghadap Bapa di surga dengan membawa bunga, jadi bunganya ke atas. Kalau bunganya yang ke bawah nanti tangkainya bisa sampai dagu,” kelakar Suster Yulia.

Menerima doorprize.
Acara yang dimulai pukul 08.30 tersebut berakhir pukul 14.00 sesuai yang dijadwalkan. Selain mendapatkan pengalaman baru beberapa peserta juga bertambah senang karena pulang dengan membawa doorprice. “Sudah gratis dapat ilmu, dapat makan, dapat juga hadiah. Semoga lain kali ada acara seperti ini lagi,” celetuk seorang peserta yang beruntung dapat doorprice.
.jpg?1687197388541)
Peserta dari Simeon-Hanna.
.jpg?1687197462059)
Peserta dari Prodiakon.
 PAKAI_1.jpg?1687197514171)
Peserta dari Wilayah Kristoforus.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Jassen, Kevin, Wil. Kristoforus