Persiapan berangkat ziarek dari Gereja St Bernadet.
Legio Maria Presidium Rumah Kencana mengadakan ziarek dan rekoleksi 13-16 Juli 2023. Pesertanya Legioner 11 orang, Auksilier 6 orang, warga lain 4 orang.
Berangkat dengan bus dari Gereja Bernadet jam 05.00, tujuan pertama adalah Waleri untuk mengejar waktu makan siang sebelum ke Gua Maria Ratu Besokor. Dalam perjalanan pada jam 12.00 didaraskan Doa Malaikat Tuhan dan Tessera.

Di Gua Maria Ratu Besokor Weleri.
Di Gua Maria Besokor Weleri berdoa sebentar, berfoto ria, lalu melanjutkan perjalanan ke Pertapaan Santa Maria Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah, milik para rahib Katolik dari Ordo Trapis (OCSO).
Dalam perjalanan ke pertapaan tersebut pada jam 15.00 didaraskan Doa Kerahiman Ilahi, jalan salib singkat, Koronka dan pas kata “Amin” bus sampai di area parkir pertapaan Rawaseneng jam 16.00. Sore dan malam harinya semua peserta mengikuti tata peribadatan yang berlaku di pertapaan itu.

Mengikuti peribadatan di Pertapaan Rawaseneng.
Pada hari kedua, sesudah ibadat pagi jam 03.30 dengan lantunan Mazmur dan puji-pujian memuliakan Allah, peserta misa pagi tanpa kotbah. Sesudah itu sarapan, lalu mengikuti rekoleksi mulai jam 08.00 sampai selesai yang dipimpin oleh Frater Bonifacius.
Frater Bonifacius bersuara datar namun mampu membuat orang terus mendengarkan. Dari SMP dan SMA ia sudah menjadi anggota Legio Maria, sehingga tahu betul suka dukanya menjadi seorang Legioner.

Frater Bonifacius memimpin rekoleksi.
Tema rekoleksi adalah “Melayani dalam Kerendahan Hati”. Frater Bonifacius berbicara tentang spiritualitas pelayanan, yaitu bahwa kita pertama-tama harus bisa melawan ego kita untuk bisa melayani dengan rendah hati dan cinta.
Rekoleksi ditutup dengan pembasuhan kaki satu sama lain sebagai simbol pelayanan dengan kerendahan hati dan penuh cinta, seperti yang sudah Yesus lakukan kepada para rasul-NYA.

Saling membasuh kaki teman.
Frater Bonifacius hanya meminta peserta membasuh kaki teman. Tetapi yang terjadi, selesai membasuh kaki teman, mereka saling berpelukan dan meminta maaf sambil bertangisan.
Frater Bonifacius mengajak para peserta untuk dengan sabar menanggung segala konsekuensi dari pelayanan para Legioner, entah baik maupun buruk. Tidak mudah, tapi setidaknya kami tahu dan merasakan, lambat laun kita bisa berubah menjadi lebih baik dan berharap saling mendoakan. Karena Tuhan tahu segalanya, Ia tidak akan mengecewakan orang yang berharap pada-Nya.

Ibu Nani dan Frater Bonifacius.
Bisa ditarik garis besarnya bahwa kita perlu masuk dalam keheningan karena buah dari keheningan adalah doa. Buah dari doa adalah cinta, buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah kedamaian.

Foto bersama Frater Bonifacius usai rekoleksi.
Selesai rekoleksi, ada foto bersama Frater Boni. Kemudian datang Frater Blassius yang meminta nomor telepon Gereja Santa Bernadet karena beliau berencana mengadakan bazar di gereja kita.

Mendapat hadiah untuk berkeliling sebagai tamu istimewa.
Akhirnya kami mendapat hadiah bisa mengelilingi tempat-tempat yang tidak boleh dikunjungi tamu-tamu biasa, yaitu makam Romo-romo, Frater, juga tempat pembuatan produk-produk para Trapis pertapaan Rawaseneng. Tentu saja senang mendapat hadiah dan diperlakukan sebagai tamu istimewa. Puji Tuhan!

Melihat cara produksi kue dan mencicipinya.
Setelah berkeliling dan belanja oleh-oleh di pertapaan, peserta melanjutkan ziarek ke Gua Maria Taroanggro Wonosobo dan Gua Maria Kerep Ambarawa. Dalam perjalanan, pada jam 15.00, tetap didaraskan Doa Kerahiman Ilahi dan Tessera, dan bisa memasuki area gua ini dengan lancar.

Gua Maria Taroanggro Wonosobo.
Sudah sore waktu itu, dan dari Gua Maria Kerep rombongan menuju rumah Ibu Theresia di Salatiga yang dengan kebaikan dan kerendahan hati menyediakan tempat istirahat, menjadi fotografer, pemandu, dan menyajikan makanan. Luar biasa! Setelah makan malam, kami menari-nari penuh sukacita, membakar lemak dari apa yang kita santap.

Foto bareng di Taroanggro.

Gua Maria Kerep Ambarawa.
Di hari ketiga, 15 Juli, para peserta sempat memanjakan lidah dulu dengan menikmati sarapan gudeg koyor (urat atau otot sapi) yang ngangeni rasanya. Sesudah itu menuju Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, sebuah rumah biara para suster rubiah Katolik dari Ordo Trapis (OCSO).

Bersama para Suster OCSO di Gedono.
Tanpa diduga, seorang suster pertapaan keluar menawari untuk ikut ibadat selama 15 menit. Masih ada waktu untuk berfoto ria, dan berbelanja di toko pertapaan.

Mengikuti ibadat di Pertapaan Gedono.
Dari Gedono rombongan menuju Eling Bening, sebuah daerah tujuan wisata kekinian yang terletak di Bawen, Semarang, bernuansa resort modern dengan sajian pemandangan alam. Berfoto-foto ria di sini tentu sayang jika dilewatkan.

Destinasi wisata Eling Bening, Bawen.
Dari Eling Bening menuju Solo untuk berbelanja batik sepuasnya sebelum kembali lagi ke Salatiga untuk santap malam dan menikmati wedang ronde khas daerah itu sambil mengemasi semua bawaan untuk pulang.
Pada hari keempat, 16 Juli, rombongan mengikuti misa jam 06.00 di Gereja Santo Paulus Miki Salatiga. Setelah sarapan melanjutkan perjalanan ke Semarang untuk beli oleh-oleh, lalu pulang menuju Gereja St Bernadet Pinang. Perjalanan lancar dan tiba di Pinang jam 23.00.

Berpose di Eling Bening.
Dari evaluasi kecil malam terakhir terungkap rasa syukur dan ucapan terima kasih tak terhingga dengan kebersamaan dalam ziarek dan rekoleksi ini. Tentu kami juga mensyukuri kebaikan dan kerendahan hati Ibu Theresia di Salatiga.
Teks dan Foto: Lia Suherman/Legio Maria Rumah Kencana