Utusan Dekanat Tangerang 1 dan Romo-romo Pembimbing.
Pada 30 Juni hingga 2 Juli 2023 berlangsung Jambore Sekami (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) Keuskupan Agung Jakarta di Canisius Camping Ground Bojong Nangka, Gunung Putri, Bogor.
Perhelatan besar ini bertema “Berbagi Sukacita Injil dalam Kebinekaan: Bersahabat, Terlibat, Menjadi Berkat”. Pesertanya 750-an anak-anak BIR dari paroki-paroki di seluruh KAJ dengan rentang usia 10-15 tahun.

Logo Jambore Sekami KAJ 2023.
Dari Paroki Pinang ada 5 peserta dan 2 Pembina. Mereka adalah Gerald, Marcelinus Bayu Kristian, Dominica Angel, Anselma Siselian Abimanyu, Maria Rachel Kirana Widyantari, dan 2 pendamping, yaitu Suzana Wening Wulandari dan Christabella Shania.
Anak-anak BIR Santa Bernadet berangkat ke lokasi Jumat 30 Juni jam 07.00 dan sampai di tempat jam 09.00. Setelah registrasi ada pembagian kelompok yang disebar ke tenda-tenda dan di setiap kelompok tidak ada anak-anak yang se-Paroki. Tidak diizinkan membawa ponsel.

Ketua Sie Panggilan Mas Sofyan dan kontingen Paroki Pinang.
Totalnya ada 40 kelompok yang dibagi menjadi 3 Pos, yaitu Pos 1 Berbagi Sukacita Injil (kelompok 1-13) didampingi Romo Salto; Pos 2 Mengenal Kebhinekaan (kel 14-26) dengan Romo Wisnu; dan Pos 3 Membangun Karakter Kristiani (kel 27-40) dengan Romo Dipta.
Acara diawali dengan seremoni pembukaan pada pukul 10.00, dilanjutkan dengan sesi Edukasi Misioner 1 hingga pukul 15.00 dalam ke-3 kelompok besar tersebut. Pada pukul 17.00 WIB Perayaan Ekaristi secara konselebrasi 5 Imam dan hari pertama ditutup dengan Edukasi Misioner 2, serta Doa Malam kreatif dan sesi untuk para Pendamping.

Tidur di tenda-tenda tidak seenak di rumah.
Sabtu, 1 Juli 2023, diawali dengan misa pagi dan dilanjutkan dengan outbound sesuai kelompok. Secara umum outbound berupa permainan yang bertujuan untuk mengembangkan keberanian, kepercayaan diri, serta kekompakan kelompok.
Outbound diselenggarakan untuk 5 pos berdasarkan 5 sila Pancasila, yaitu Pos Sila 1 (Kel 1-8): Memindahkan gelas plastik berisi air dengan kain; Pos Sila 2 (Kel 9-16) Bermain minesweeper; Pos Sila 3 (Kel 17-24): Suit (Samson, Delilah, Harimau), yang kalah disiram air; Pos Sila 4: Estafet air dengan menggunakan kaki; Pos Sila 5 (Kel 33-40) Jaga lilin dari air.

Peserta dari Paroki Pinang dan Romo Salto.
Malamnya acara makrab (malam keakraban). Ada banyak permainan, bernyanyi, pembagian hadiah, gombalan, dan berjoget.
Minggu, 2 Juli 2023, peserta baru kembali berkumpul dengan teman separoki masing-masing, berefleksi, membuat karya kreatif, dan evaluasi. Jambore Sekami KAJ ditutup dengan misa oleh 4 Romo, yaitu Romo Edi, Romo Wisnu, Romo Salto, dan Romo Dipta. Lalu ada sesi foto per Dekenat.
“Acaranya seru, aku dapet pengalaman baru jadi kakak pendamping dari anak-anak paroki lain biarpun aku masih baru menjadi pendamping. Kenal sama teman-teman baru, bisa bertukar cerita dan pengalaman di gereja. Ngerasain pengalaman tidur di tenda yang nggak senyaman di rumah,” kata Christabella Shania Pendamping BIR yang biasa disapa Nindy.

Berjalan jauh agar berlatih tidak "mager" (malas gerak).
“Kalau aku dapat temen baru yang banyak. Bagus buat kemandirianku, dan di sini aku melatih diri untuk tidak manja karena semua lokasi apa adanya, jadi harus bisa menerima. Terus harus kuat karena ke mana-mana jauh. Game-game-nya banyak mengandalkan fisik. Makanannya nggak bisa pilih-pilih, apa yang ada dihabiskan,” kesan Dominica Angel, peserta dari Fabiola 2.
Sementara Marselinus Bayu Kristian, peserta dari Petrus 2 berkata, “Kegiatan ini buat melatih kemandirian dan menambah wawasan kerohanian, menambah banyak teman dari game dan makrab.”
Anselma Siselian Abimanyu bilang begini, “Kegiatan ini jadi bikin banyak temen tapi harus sokrab (sok akrab, Red). Aku dapat temen 9 orang dari berbagai paroki. Yang beda nggak bisa sama.”

Bentuk love sebagai lambang menghormati orang lain.
Jambore Sekami mengajarkan kepada anak-anak Katolik untuk mengembangkan semanngat doa, derma, kurban, dan memberikan kesaksian (2D2K) kepada orang-orang di sekitarnya.
Jambore Sekami berlangsung 5 tahun sekali. Karena itu Suzana Wening Wulandari—akrab disapa Mbak Wening—menyayangkan mengapa hanya ada 5 utusan dari Paroki Pinang padahal seharusnya 10 orang termasuk Pembina. “Mungkin kurang sosialisasi. Akibatnya kekurangan peserta itu diisi oleh paroki lain, padahal bayarnya sama,” ujar Mbak Wening tersenyum.

Kelima utusan Paroki Pinang bergaya.
Ada alasan yang lebih dalam daripada sekadar uang menurut Mbak Wening, yaitu bahwa dalam Jambore Sekami itu anak-anak dipersiapkan menjadi generasi penerus Gereja Katolik.
“Misalnya dengan menjadi satu tenda dengan perserta dari paroki lain, anak-anak disadarkan sejak dini bahwa teman-teman Katolik itu tidak hanya separoki, tetapi juga dari paroki-paroki lain. Saya sendiri dengan jadi Pembimbing anak-anak dari berbagai paroki bisa mendengar dan tahu berbagai cerita dan persoalan anak-anak dari paroki lain,” cerita Mbak Wening.

Sejak dini disadarkan teman Katolik tak hanya separoki.
Lebih penting lagi, Sekami merupakan sebuah wadah berkumpulnya anak-anak dan remaja Katolik untuk membangun iman akan Yesus Kristus sebagai sahabat, tokoh idola, penyelamat serta menjadi pribadi misioner. Anak-anak dan remaja dipanggil menjadi misionaris cilik, untuk ikut serta dalam karya pewartaan kabar gembira Kristus.
Sekami adalah gerakan internasional anak-anak tertua di seluruh dunia. Pendirinya Mgr Charles de Forbin Janson (1785-1844), Uskup Nancy, Perancis, pada tanggal 19 Mei 1843. Ia tersentuh hatinya oleh nasib buruk anak-anak di seluruh dunia, khususnya China, akibat gejolak sosial-ekonomi.
Mgr Forbin prihatin dan berempati pada anak-anak yang kelaparan, dipaksa kerja berat, tidak mendapatkan pendidikan layak, hidup di jalanan, mengemis, berbuat jahat, dan banyak sekali yang meninggal tanpa mengenal Tuhan.

Peserta Paroki Pinang siap mengikuti acara.
Mgr Forbin sesudah berdoa sampai pada kesimpulan bahwa penderitaan tersebut tak bisa dibiarkan. Mereka harus ditolong, dijadikan subyek bukan obyek pewartaan Kabar Gembira. Artinya menjadi rasul-rasul kecil yang menolong anak-anak lain yang menderita. Maka dalam Sekami berlaku motto Children helping children dengan semangat Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian (2D2K).
Gerakan yang awalnya bersifat lokal itu mendapat status Kepausan pada 3 Mei 1922 dari Paus Pius XI dengan nama Serikat Kepausan Anak-Anak Misioner (The Pontifical Society of The Holy Childhood) dan berkedudukan di Roma di bawah perlindungan langsung Sri Paus sendiri.
Di Indonesia, serikat ini pada mulanya bernama Sekar (Serikat Kepausan Anak dan Remaja), tetapi dalam Lokakarya Nasional Karya Kepausan Indonesia (KKI) di Denpasar 1996 disepakati untuk diubah menjadi Sekami.

Peserta Paroki Pinang dan kedua Pembina.
Untuk tahun 2023 ini Jambore Nasional Sekami diselenggarakan di Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan, 4-7 Juli, untuk mensyukuri ulang tahun Sekami ke-180. Melibatkan utusan-utusan dari berbagai keuskupan di seluruh Indonesia. Sementara itu ada juga Jambore Sekami tingkat keuskupan, seperti Jambore Sekami KAJ itu.
Sekami memiliki dua sasaran besar, pertama, rela dan bersedia untuk membagikan imannya akan Yesus Kristus Putra Allah Yang Tunggal. Artinya anak-anak ambil bagian secara aktif dalam perutusan Gereja sebagai misionaris cilik. Kedua, rela dan bersedia membagikan segala miliknya walaupun sedikit bagi anak-anak lain yang sangat membutuhkan.

Sebanyak 750-an peserta mengikuti Sekami KAJ 2023.
Menilik usianya, 10-15 tahun, peserta Jambore Sekami KAJ masuk kategori Generasi Z (Gen Z). Menurut para ahli, mereka adalah anak-anak pintar karena menikmati berbagai fasilitas kemajuan teknologi, aktif berinteraksi lewat dunia maya, bermedsos ria tanpa harus diajari.
Anak-anak Gen Z juga berpikiran terbuka, suka keberagaman, suka hal-hal baru, kritis dan ingin berbeda untuk perubahan. Akrab dengan smartphone, laptop, tablet, bisa mengambil keputusan sendiri, dan mendapatkan pendididikan orangtua yang juga sudah berpikir terbuka.

Generasi Z yang masih berusia belasan tahun.
Namun karena berbagai kemudahan, Gen Z juga cenderung konsumtif/boros, suka barang-barang branded yang mudah diakses lewat gadget, lebih “mager”, cenderung keras kepala, suka hal-hal instan, terburu-buru, dan juga haus pujian. Secara mental Gen Z juga kalah tangguh dibanding generasi-generasi sebelumnya. Menghadapi Gen Z orangtua harus lebih banyak belajar dan berpikir luas.
Ibarat “bahan mentah” Gen Z yang sedemikian kompleks memerlukan upaya ekstra dan kreatif untuk mempersiapkannya sebagai Generasi Penerus Gereja. Dalam konteks inilah, penyelenggaraan Jambore Sekami pantas mendapat apresiasi tinggi, walaupun ini juga PR bagi generasi-generasi yang lebih tua. Tidak mudah memang.
Acara khas anak-anak Gen Z. Klik Youtube untuk mendapatkan gambar lebih baik.
Teks: Arum, Sofyan, ps (ed), berbagai sumber/Foto-foto, Video: Tim Sekami Pinang/ Youtube: Jassen Novaris