Bazar di Gereja Pinang setelah misa kedua Minggu (3/9).
Bazar produk-produk Pertapaan St Maria Rawaseneng Temanggung di Paroki Pinang, Sabtu-Minggu (2-3 September 2023) laris manis. Semua dagangan terjual habis. Bahkan para rahib yang datang dan driver-nya pulang lebih cepat.
Bazar diadakan di Gereja Pinang sejak misa Sabtu sore hingga misa kedua Minggu dan di Metro pada misa Minggu pagi saja. Stan di Pinang dijaga Sie PSE, di Balai Metro oleh Legio Mariae Presidium Rumah Kencana Paroki Pinang.
Ada dua rahib dari pertapaan Rawaseneng yang datang ke Paroki Pinang dalam rangka bazar, yaitu Frater Blasius Iwan Susanto OCSO dan Frater John Paul OCSO. Mereka menginap di rumah biru pojok Kompleks Tarakanita milik Bu Titik Amperawati.

Spanduk bazar produk-produk rahib Rawaseneng di Pinang.
“Nginep-nya cuma tadi malam, tadi siang sudah pulang, dagangannya laris manis. Nggak nyangka sudah habis di misa kedua,” cerita Bu Titik Minggu sore.
Produk-produk hasil karya komunitas rahib (trappist) Rawaseneng tersebut antara lain kue kering, susu pasteurisasi, yoghurt, bakery, aneka snack, kopi, sambel, dan lain-lain.
Produk-produk mereka terkenal bermutu tinggi sehingga orang mau membeli. Walaupun demikian, menurut Bu Fenny Komaruddin dari Legio Mariae, di Paroki Pinang Sie PSE membantu menyebarkan pre-order lewat SSL ke lingkungan-lingkungan agar penjualannya bisa lebih cepat.

Sie PSE membantu penjagaan stan di Pinang, Minggu (3/9).
Sementara itu menjelang akhir misa kedua Minggu di Pinang Frater John Paul mengucapkan terima kasih kepada Romo Lamma dan Romo Matius yang sudah menerima kedatangan mereka dan mengizinkan bazar di Paroki Pinang.
“Kami dari Trapis Rawaseneng Temanggung, datang membawa oleh-oleh. Tetapi oleh-olehnya tinggal sedikit, kemarin sudah diborong. Susu sudah habis dari Sabtu sore kemarin. Tadi pagi tinggal kue kering dan sambel. Silakan bapak ibu yang mau memborong, monggo...”
Romo Matius menambahi “promosi” dengan nada bergurau. “Susu Rawaseneng itu terbaik, bisa menambah umur 10 tahun,” katanya membuat umat tergelak.

Legio Mariae membantu penjagaan stan di Metro.
Oleh para rahib itu Romo Matius diberi tahu bahwa jumlah sapi di Rawaseneng 100 ekor, 70 di antaranya diperah. “Enak ya mendapat susu langsung dari sumbernya. Belilah untuk membantu kehidupan mereka para pertapa dan pendoa. Kita bersukacita ambil bagian dalam kehidupan mereka,” imbuhnya.
Para rahib di pertapaan Rawaseneng menjalani panggilan hidup mereka dengan berdoa, bertapa, dan kerja tangan. Jumlah mereka, menurut Frater Blasius, sekarang ada 26 rahib, 4 di antaranya Imam tertahbis (rahib-Imam).
Frater Blasius yang ditemui sesudah misa kedua Minggu itu mengatakan, para rahib di Rawaseneng harus menafkahi diri dengan menjual hasil-hasil karya mereka. Sumber nafkah para rahib tersebut berasal dari hasil pekerjaan tangan di perkebungan kopi, peternakan sapi perah, dan industri roti atau kue. Jadi mereka tidak mengandalkan sumbangan umat.

Penyampaian Frater John Paul OCSO di Gereja Pinang.
Pertapaan Rawaseneng juga mempekerjakan karyawan dari masyarakat sekitar untuk membantu para rahib mengurusi perkebunan kopi, peternakan sapi, usaha roti kering, roti basah, dll. Bahan mentah tidak semua dari Rawaseneng tetapi juga dibeli di luar. ”Keistimewaan produk kami tidak memakai bahan pengawet,” katanya.
Setiap bazar targetnya Rp 40 juta. “Di Paroki Pinang ini mungkin lebih karena sudah ada pesanan lewat lingkungan (pre-order lewat SSL, Red),” kata Frater Blasius. Pada setiap bazar target pasti tercapai karena umat mau menolong. “Inilah kasih Allah lewat kasih umat,” ungkapnya sambil tersenyum.

Pastor Matius Pawai CICM dan Frater Blasius OCSO.
Bazar dijadwalkan setiap minggu. Sebelum di Gereja Bernadet Pinang, bazar diadakan di Surabaya, Sidoarjo, Solo, dan Cirebon. “Minggu depan di Kedoya, minggu depannya lagi di Surabaya, minggu depannya lagi ke Solo, awal Oktober ke Gereja Katedral. Program keliling setiap Minggu tergantung Romo Paroki mau terima kami atau nggak,” kata Frater Blasius yang mulai bergabung di Pertapaan Rawaseneng 6 Juli 1986, sesudah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Selagi Frater Blasius diwawancara, tiba-tiba seorang ibu nyelonong menyela pembicaran. “Nyela dikit nyela dikit … Frater, lain kali bawa lebih banyak ya. Tadi mau beli sambel aja sudah habis,” sergah ibu itu dengan bersungut-sungut. Frater Blasius sambil tersenyum menjawab, “Ya…ya… nanti Januari, ya…”

Suasana bazar di Pinang usai misa kedua, Minggu (3/9).
Frater Blasius punya kesan tersendiri mengenai Gereja Santa Bernadet Pinang. “Bagus, anggun. Katanya umat menunggu sampai 33 tahun, ya? Saya ikut merasa bersyukur ya, baru pertama kali ke sini. Saya amat bersyukur karena umat di sini baik, mau menolong kami,” pungkasnya.
Teks: ps/ Foto-foto: Arya, PSE, Legio Mariae