Romo Lamma Sihombing CICM, pembina upacara.
“Merdeka...! Merdeka...! Merdeka...” Demikian Romo Lamma Sihombing CICM mengawali amanatnya selaku pembina upacara peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 Repulik Indonesia, Sabtu 17 Agustus 2024. Pekik merdeka itu langsung disahut oleh sekitar 200-an orang umat yang mengikuti upacara pagi itu.

Paskibra dari SMU Amore Prime School.
“Dahulu para pahlawan berjuang dengan mengorbankan jiwa dan raga untuk memperoleh kemerdekaan. Kini kita sudah menikmati kemerdekaan, maka sebagai bentuk nyata untuk mengisi kemerdekaan Romo akan menawarkan beberapa hal sederhana,” lanjut Romo Lamm.
“Pertama, mari kita mengembangkan budaya hidup bersih. Seperti saat pandemi kita begitu mentaati hal kebersihan, ternyata itu juga berdampak baik pada kesehatan kita. Selain itu budaya bersih juga bisa kita terapkan dalam dunia kerja dan pelayanan kita. Kita selesaikan tugas pekerj aan dan tanggung jawab kita dengan baik tanpa mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Tentu bapak ibu dan rekan-rekan muda paham ya yang Romo maksud?” tanya Romo Lamm.

Petugas dari SMU Amore Prima School.
“Yang kedua mari kita kembangkan lagi sikap sopan santun. Bagaimana orang yang lebih muda menghormati orang yang lebih tua. Lewat tindakan dan tutur kata, mari itu kiata wujudkan,” ajak Romo Lamm lagi.
“Yang ketiga, mari kita kembangkan terus budaya gotong-royong. Mari kita saling membantu satu sama lain. Sesuatu yang berat kalau kita kerjakan bersama-sama akan terasa ringan,” terang Romo Lamm.

Hormat kepada Sang Merah Putih.
Upacara bendera pagi itu diadakan di halaman parkir motor Gereja Santa Bernadet Pinang. Seluruh petugas upacara dibantu dari SMU Amore Prime School Metro Permata. Sementara panitia penyelenggara yang mengkoordinir seluruh kegiatan peringatan HUT RI ke-79 dari Wanita Katholik RI Cabang Santa Bernadet.

Dirigen: Lukita Mira dari Wanita Katolik RI Cabang Bernadet.
Tampak umat yang hadir mengikuti upacara mengenakan pakaian adat . Mulai dari pakaian adat Jawa dengan sorjan lurik dan blangkon. Ada pula yang mengenakan beskap resmi bak resepsi perkawinan. Ada pula yang mengenakan pakaian adat Sumatra Utara, Sulawesi, Kalimantan, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Ada juga yang tampil beda dari ibu-ibu yang tinggal di Komplek Tarakanita, mereka mengenakan seragam kotak-kotak merah hitam khas Tarakanita.

Tampilan ibu-ibu Komplek Tarakanita.
Juri mengadakan penilaian atas kostum para peserta upacara tersebut yang juga diminta untuk menari-nari.

Heboh usai upacara.
Seusai upacara, Misa Syukur di Gereja dipersembahkan oleh Romo Matius Pawai CICM dan diiringi oleh Paduan Suara Kaum Muda Santa Bernadet.
Dalam homilinya Romo Matius menyampaikan, jika Bapak dan Ibu dari umat St Bernadet ada yang berkesempatan duduk di pemerintahan atau parlemen, mereka diminta untuk menggunakan kesempatan itu dengan baik. Kalau di antara Bapak Ibu ada yang terlibat dalam pelayanan sebagai Ketua RT, Ketua RW, mereka diminta untuk bertahan di sana. “Karena hanya dengan terlibat dalam pemerintahan dan parlemen, Anda dapat ikut memperbaiki keadaan di negara kita tercinta ini, karena di sana kita akan ikut ambil bagian dalam menentukan berbagai kebijakan,” terang Romo Matius.










Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Yudha