Ketua SKKS Bu Lita bersama 3 juri lomba Narasi Kitab Suci: Pak Margot, Bu Wati, dan Pak Dion.
“Kami selalu rindu bahwa Bulan Kitab Suci selalu merupakan momen paling tepat untuk mengingatkan kembali, menggairahkan kembali umat untuk membangun awareness-nya terhadap Kitab Suci,” kata Bu Lita, Ketua SKKS, dalam perbincangan di sela-sela lomba Narasi Kitab Suci 25 Agustus 2024 di Aula Gereja Bernadet. Awareness bisa diterjemahkan sebagai “kesadaran” atau “pengetahuan tentang sesuatu”.
“Mungkin selama ini ups and downs—bukan mau menghakimi umat tidak membaca Kitab Suci ya, karena pasti mereka mendengarkan firman Tuhan, mungkin mengikuti renungan, dan seterusnya—tapi di bulan September itu benar-benar tepat bagaimana makin menggali kedekatan kita dengan Kristus, dalam Kitab Suci itu sendiri,” lanjut ibu bernama lengkap Priscilla Lita Noviana itu.

MC mesti membuat suasana selalu bersemangat.
Oleh karenanya menurut Bu Lita, ajang-ajang seperti festival Lomba Kitab Suci hari itu menjadi penting untuk menggairahkan umat. “Bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak, remaja, OMK, dibiasakan untuk membaca Kitab Suci,” ujarnya.
Penyelenggaraan festival Lomba Kitab Suci yang panitia pelaksananya dibentuk oleh SKKS itu dilakukan sesuai arahan KAJ, misalnya tentang siapa yang boleh ikut, penilaiannya bagaimana, dan kategori umurnya seperti apa. “Puji Tuhan hari ini semua bisa terpenuhi dari kategori anak, remaja, OMK, dan dewasa,” katanya. Sesuai dengan arahan KAJ juga, tahapannya sesudah tingkat Paroki, Dekenat, dan Keuskupan.

SKKS merangkul kaum muda untuk terlibat.
Para peserta lomba Narasi Kitab Suci hari itu menurut Bu Lita berlatih sendiri, SKKS belum cawe-cawe. “Biasanya orangtuanya yang bersemangat agar anaknya mau ikut he-he-he,” katanya.
Bu Lita berharap, dengan festival Lomba Kitab Suci umat bisa menggerakkan umat lainnya di Lingkungan untuk masuk komunitas-komunitas spiritual yang bersentuhan langsung dengan Kitab Suci, seperti EJ, Kerahiman, dll.
“Kami di SKKS dari tahun ke tahun berusaha melibatkan kaum muda, dengan harapan kelompok-kelompok kategorial atau seksi-seksi lain juga demikian, misalnya yang sudah dilaksanakan di SKKS melibatkan OMK, Pembina BIR. Kami di belakang layar saja, supaya mereka yang improve, maju,” katanya.

Perlu melibatkan umat dari semua umur.
Dari pengalaman selama ini upaya SKKS untuk merangkul orang muda, misalnya bersinergi dengan Sie Kepemudaan, hasilnya memberikan harapan. Naik terus keterlibatannya sejak Ketua Sie Kep Laraswati sampai sekarang Egi. “Di acara sosialisasi kami juga melibatkan mereka,” imbuhnya.
Ditanya tentang sering sepinya renungan atau ibadat Kitab Suci di lingkungan-lingkungan, Bu Lita menjawab, “Ya itu menjadi pe-er bagi kami SKKS. Kami punya kerinduan untuk mengadakan retret para Pamong Sabda, meski waktu sosialisasi mereka hadir. Saya melihat bekal dari KAJ bagus seperti misalnya metode MDDT (Menyamakan Diri Dengan Tokoh). Pamong Sabda diharapkan bisa menggunakan pendekatan-penekatakn seperti itu,” pungkasnya.

Piala, apresiasi untuk menggairahkan Membaca Kitab Suci.
Teks: ps/Foto-foto: Panitia Festival