Seabad Wanita Katolik RI: Cabang Sanberna Masuk 16 Besar Finalis Lomba Koor WKRI Se-Indonesia

5 Januari 2025
  • Bagikan ke:
Seabad Wanita Katolik RI: Cabang Sanberna Masuk 16 Besar Finalis Lomba Koor WKRI Se-Indonesia

Ekspresi ceria ibu-ibu WKRI cabang St Bernadet selepas syuting tahap penyisihan.

Sebuah event besar seperti lomba koor tingkat nasional biasanya menuntut sebuah komitmen tinggi pada masing-masing pesertanya karena proses persiapan dan latihan yang pasti akan memakan banyak waktu dan tenaga. Belum lagi dinamika melakukan seleksi awal para peserta yang akan dikirim sebagai sebuah tim lomba untuk mewakili paroki. Bulan Oktober 2024 lalu, sebagai salah satu dari rangkaian acara perayaan Seabad WKRI—sebuah organisasi wanita yang diketahui deklarasi pendirian organisasinya dilakukan pada tanggal 26 Juni 1924 di biara susteran Fransiskanes, Kidul Loji ini oleh R. AY. Maria Soelastri Soejadi Darmasepoetra Sasraningrat. Kelahirannya tidak bisa dilepaskan dari peran R. AY. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra yang lahir 22 April 1898. Dia putra ke-5 (puteri ke-3) dari Pangeran Sasraningrat, Putra Mahkota Sri Paku Alam III dan adik kandung R.A.J. Sutartinah (Nyi Hadjar Dewantara)—diadakan lomba paduan suara oleh Dewan Pimpinan Pusat WKRI. Lomba ini diadakan di tingkat nasional dengan cara pengiriman materi lomba berupa video yang akan dinilai secara terbuka oleh dewan juri melalui live streaming/Zoom.

Bersama pemain musik mas Adit juru rekam Totok Godean dan pelatih koor Totot Herwinoto koordinator pemazmur paroki Pinang PAKAI_2

Bersama pemain musik Mas Adit, juru rekam Totok Godean, dan pelatih koor Totot Herwinoto (koordinator pemazmur paroki Pinang).

Sebagai salah satu cabang WKRI, maka Cabang Santa Bernadet (Paroki Pinang) wajib ikut serta. Maka segeralah dilakukan persiapan-persiapan yang diperlukan yang ternyata tidak semudah yang dikira. Syarat peserta berjumlah minimal lima belas orang penyanyi dalam sebuah grup paduan suara wajib dipenuhi dan ini sangat tidak mudah mengingat persiapan latihan sampai ke hari penyerahan materi lombanya tidak cukup panjang untuk dilakukan. “Saat awal hanya ada sepuluhan orang anggota dari ranting-ranting (wilayah-red) yang siap ikut serta. Kumpul pertama dilakukan untuk memberi arahan dan tuntutan panitia soal lomba ini. Termasuk komitmen latihan yang tidak boleh tidak hadir sekali pun karena hanya ada delapan kali waktu latihan untuk menyanyikan lagu wajib Mars Seabad WKRI. Kami lalu memohon kesediaan mas Totot Herwinoto, koordinator pemazmur Sanberna, untuk melatih kami agar siap menghadapi lomba ini,” kenang Theresia Maya selaku Ketua WKRI Cabang Santa Bernadet.

Sedang diberi pengarahan oleh pelatih koor mengenai teknis bernyanyi yang baik agar tidak fals PAKAI_2

Sedang diberi pengarahan oleh pelatih koor mengenai teknis bernyanyi yang baik agar tidak fals.

Komitmen untuk selalu hadir latihan ini menjadi kendala utama karena anggota WKRI kebanyakan adalah ibu-ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga yang punya kesibukan luar biasa. “Banyak yang mau ikut tapi lalu mundur karena persyaratan kehadiran latihan tersebut. Tapi ya mau tidak mau hal itu harus diterapkan karena targetnya adalah menjadi juara lomba dan pasti itu butuh kerja keras yang kompak, apalagi kami belum terbiasa ikutan lomba semacam ini,” tambah mbak Maya. Berbagai upaya lalu dicoba dilakukan sehingga akhirnya terkumpul sebanyak dua puluh lima orang anggota yang siap meluangkan waktu mereka dan berkomitmen bersama.

Serius tekun terus menerus sebuah komitmen luar biasa yang hasilnya oke punya PAKAI_2

Serius, tekun, terus menerus, sebuah komitmen luar biasa yang hasilnya oke punya.

Proses latihan seminggu dua kali di hari Rabu dan Minggu malam pun segera dimulai dengan penjelasan teknis lomba dan penyamaan teknis bernyanyi (vokalisi). “Proses penyamaan cara beryanyi seperti ini mutlak dilakukan agar suara yang dihasilkan secara bersama-sama dapat berpadu dan menjadi suara yang indah dan merdu sesuai tuntutan lomba. Jika tidak, masing-masing akan bernyanyi dengan caranya sendiri-sendiri dan tidak akan pernah bisa ditoleransi saat didengarkan oleh dewan juri,” jelas mas Totot selaku pelatih paduan suara. “Proses vokalisi ini kita lakukan secepatnya agar dapat segera berlatih bernyanyi lagunya dengan membaca notasi pada partitur yang sudah disediakan panitia. Termasuk juga belajar dengan cara mendengarkan contoh rekaman per suara yang akan kita bagikan pada para anggota peserta,” tambah mas Totot menjelaskan proses latihan yang wajib dilakukan. Dan karena semangat yang sama serta punya satu tujuan bersama, maka dalam lima kali latihan sudah mulai terbentuk lagunya secara utuh dan mulai nyaman didengarkan. Sampai pada hari rekaman yang ditentukan, semangat dan tujuan bersama tersebut terus menerus ditingkatkan agar dapat bernyanyi sebaik-baiknya. “Menjaga mood ibu-ibu saat berlatih agar dapat bernyanyi dengan indah itu tidak mudah ternyata ya,” papar mbak Maya sambil tertawa.

Sesi latihan bersama dirigen PAKAI_2

Sesi latihan bersama dirigen.

Hasil dari lomba tahap pertama benar-benar tidak mengkhianati waktu dan tenaga yang sudah dicurahkan oleh semua anggota peserta. WKRI Cabang Santa Bernadet berhasil masuk babak final sebagai enam belas besar dari total 120 kelompok peserta nasional. “Sungguh membanggakan dan meningkatkan rasa percaya diri bahwa kita bisa menang jika kita benar-benar serius dan berkomitmen bersama-sama, buktinya ada dan nyata,” ujar mbak Lukita Mira selaku dirigen tim lomba.

Babak berikutnya adalah lomba tingkat final dengan peserta sebanyak 30 peserta dan akan diambil 6 peserta terbaik dengan mengirimkan rekaman dua lagu, satu lagu wajib lomba dan satunya adalah lagu pilihan berupa lagu daerah. Proses latihan babak ini dimulai dengan pembuatan aransemen lagu Gundul-gundul Pacul sebagai lagu pilihan oleh mas Totot dan putrinya, Tita, sehingga aransemen lagu tersebut benar-benar baru pertama kali dinyanyikan sebagai lagu pilihan. “Sengaja buat baru aransemen lagunya agar memberi efek kejutan pada dewan juri,” jelas mas Totot. Dan semangat serta kerja keras para anggota peserta benar-benar terasa dan berkobar-kobar. Lagu Gundul-gundul Pacul dapat menjadi sangat dinamis, bernuansa etnis Jawa dan sungguh enak didengar. Saat rekaman, ibu-ibu peserta lomba mengenakan dua seragam berbeda dalam nenyanyikan lagu-lagu tersebut. Nuansa etnis Jawa Tengah dihadirkan dengan seragam lurik coklat. Sementara lagu wajib dibawakan dengan busana atasan putih bawahan batik.

Mbak Theresia Maya -baju merah- berpose sejenak saat jeda latihan PAKAI_2

Mbak Theresia Maya (baju merah) berpose sejenak saat jeda latihan.

Sekarang saatnya dilakukan proses rekaman video yang sejak awal lomba telah melibatkan tim Komsos Paroki Pinang yang dioperatori Jassen dan Sigit. Ruangan gereja yang luas menghasilkan efek reverb yang membantu membuat hasil rekaman menjadi lebih nikmat didengarkan saat diiringi oleh mas Adit dengan piano, pak Mujadi dengan kendang dan mas Totot dengan siternya. Hasil rekaman ini lalu diunggah di Youtube Sanberna. Saatnya bagi para peserta untuk menanti hasil penjurian dengan hati berdebar-debar dan harap-harap cemas.

Tim lomba cabang St Bernadet yang tadinya gak pede di awal latihan PAKAI_2

Tim lomba WKRI cabang St Bernadet yang tadinya gak pede di awal latihan.

Setelah waktu penjurian tahap final usai, lalu diumumkan hasilnya via streaming Youtube. Hasilnya adalah tim lomba WKRI Sanberna walau tidak menyabet juara tapi menjadi favorit kedua dari penonton streaming Youtube. “Ya, kami sadar memang belum bisa membawa predikat juara dan hadiah dari lomba ini, tetapi semangat kami tidak akan pernah padam untuk terus bernyanyi dengan sebaik-baiknya di mana pun kami berada, sesuai pesan pelatih paduan suara kami,” papar beberapa orang peserta mewakili curahan hati setelah mendengarkan hasil pengumuman panitia lomba.

Dan pernyataan itu dibuktikan dengan suara yang cukup merdu saat bertugas koor dan tata laksana pada Minggu Adven ke 4 sekaligus memperingati Hari Ibu tanggal 22 Desember 2024 pada misa jam 08.30 di gereja Santa Bernadet. “Pengalaman untuk mengikuti lomba dengan waktu persiapan seketat itu adalah pengalaman baru yang sangat berharga dan bisa dipetik pelajarannya sehingga jika ada lomba seperti ini lagi, kami tentu akan lebih siap untuk juara, doakan kami ya!” harap Mbak Maya penuh antusias. Tetap semangat ibu-ibu WKRI Cabang Santa Bernadet! (Tots HDM)

Sesi latihan yang cukup menyita waktu dan tenaga

Gundul-gundul Pacul, edisi final Seabad WKRI, aransemen Totot dan Lalita.


Foto-foto/Video: Wanita Katolik RI Cabang Bernadet/ Komsos Sanberna

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna