Penyintas Stroke Rainer dan Steven memberikan testimoni.
“Ikut BEP bagus untuk pernafasan. Saya stroke, saya BEP, saya gowes, dan kunci saya adalah percaya walau tidak melihat karena anugerah itu datang dari Yang di Atas ke bawah … dan diberikan kepada orang yang berkenan kepada-Nya…!”
Lontaran kata-kata dengan suara lantang penuh semangat, bermuatkan ungkapan iman, dan disertai gerakan-gerakan tangan tersebut adalah bagian awal testimoni Rainer Rarumangkay (69) di depan para peserta BEP Sanberna Pinang, Jumat, 28 Februari 2025.

Peserta BEP 28 Februari melakukan Gerakan ke-3.
Rainer gowes ke mana-mana. Tiap hari. Ia menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan sepedanya dari rumahnya di kawasan Bintaro untuk mengikuti Latihan Bersama (latber) BEP di Sanberna. “Padahal bonggol tulang pinggul kanan saya ini tahun 2018 patah dan diganti besi,” katanya sambil menyentuh pantat kanannya usai latber tersebut. “Pertama kali ikut BEP tahun 2018 di Matius Bintaro, waktu itu masih pakai kruk,” kenangnya.
Rainer adalah seorang penyintas stroke. Lewat percakapan WhatsApp ia melanjutkan ceritanya. Dua kali serangan stroke dialaminya. Pertama tahun 2017, kaki dan tangan kanannya lumpuh. Kemudian tahun 2019 serangan kedua dengan akibat gangguan keseimbangan.

Rainer Rarumangkay dengan sepedanya.
Namun sejak mengikuti BEP, Rainer rajin gowes, dan berserah diri kepada Yang di Atas. Tiga tahun terakhir tak pernah kontrol ke dokter lagi. Terapi medis hanya dilakukan 3 kali di awal stroke. “Terapi saya sekarang adalah BEP dan gowes setiap hari,” katanya. Dua tahun terakhir ini juga sudah tidak minum obat sama sekali sebutir pun, entah itu amlodipine, pengencer darah, atau simvastatin untuk kolesterol.
“Maaf, bukannya ‘sok tahu’ atau belagu melawan dokter, tetapi inilah kesaksian saya. Saya percaya walau tidak melihat, dan imanku menyelamatkanku,” pungkasnya.

Tradisi foto bersama sesudah Latber BEP.
Penyintas stroke kedua yang memberikan testimoni adalah Steven Andika Pratama (55). “Dulu tangan saya tidak bisa diangkat seperti ini,” katanya sambil mengangkat tangan kanannya lurus ke atas ketika mengawali testimoninya. “Saya tahu manfaat BEP ini sangat luar biasa. Jangan kendor… Hidup BEP!” pekik Steven yang sejak 2023 tercatat sebagai salah satu dari 5 Pelatih BEP Bersertifikat KGPlus di rS Sanberna.
Steven bergabung di BEP Sanberna sejak 2019 setelah terkena serangan stroke kedua. Selama hampir 6 tahun sejak itu tidak pernah absen. Terapi medis sudah tidak dijalaninya lagi, hanya ikut BEP. Tetapi check up kesehatan atau kontrol rutin tetap dilakukan. Atas saran dokter ia masih minum obat-obat yang dianjurkan, seperti obat untuk menstabilkan tekanan darah, penurun kolesterol, pengencer darah, penghilang nyeri, dll.

PD Subagya (paling kanan), salah satu pelatih senior BEP Sanberna.
Steven setiap hari dalam sepekan mengikuti BEP di mana saja di wilayah Kota Tangerang dan Tangsel. Dari tempat tinggalnya di Regency Melati Mas Jelupang Serpong Utara, dia naik sepeda motor untuk mengikut BEP, entah ke Matius Bintaro, Sanberna Pinang, Laurensius Alam Sutera, Bintaro Jaya Sektor 4, Inpres XVI Ciledug, Nicodemus Ciputat, maupun Monica BSD, atau kadang juga di Bumi Bintaro Permai 1 Pesanggrahan, Jaksel.
Ketika suatu saat ditanya bagaimana dia hafal jalan-jalan ke lokasi-lokasi itu, Steven menjawab, “Dulu saya salesman.” Merasa mengalami sendiri manfaat BEP untuk kesehatannya, dia lalu getol mengajak orang untuk ikut. Bisa dibilang, perkembangan jumlah peserta BEP di Sanberna tidak lepas dari “salesmanship”-nya. Setiap ada peserta baru yang ditanya dari mana tahu ada BEP di Pinang, hampir pasti jawabannya, “Dari Pak Steven…” Bahkan sampai ada yang berseloroh, “BEP itu punya Steven…”

Komunitas BEP San Nico Ciputat yang pernah dikunjungi Steven.
Steven juga rajin membuat video dan mengunggahnya di Youtube. Ketika Covid-19 mewabah ia minta foto-foto peserta ketika melakukan BEP di rumah untuk divideokan dan diunggah di platform medsos itu. Sampai tulisan ini dibuat subscriber-nya sudah 547. Video BEP-nya juga ia unggah ke TikTok.

Ngerumpi dulu sebelum pulang.
Apakah Bio Energy Power (BEP) bisa menyembuhkan penyakit? Sejauh bisa ditelusuri, BEP tidak pernah mengklaim diri bisa menyembuhkan suatu penyakit. Namun buku kecil berjudul Olah Gerak & Olah Nafas Bio Energy Power Sehat, Kuat, Bahagia yang diterbitkan oleh Komunitas BEPers KGplus untuk kalangan sendiri (tanpa tahun) memuat penjelasan berikut ini:
“Bio Energy Power adalah perpaduan antara Olah Napas dan Olah Gerak selanjutnya disebut ON OG yang dirancang sesuai dengan teori medis, yang mampu meningkatkan derajat kesehatan dan membangkitkan kemampuan tubuh dalam menyembuhkan dirinya sendiri.” (hal. 19, Alinea 1)
“Bio Energy Power juga dipahami sebagai self healing method based on medical science dan sebagai Yoga berbasis medis.” (hal. 19, Alinea 2)

Bu Ambar dan Bu Catur memandu Latber BEP.
Kalau boleh ditarik benang merahnya, BEP bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan sebagai prasyarat mutlak untuk membantu penyembuhan suatu penyakit yang bisa dilakukan sendiri.
Namun seperti kerap kali diingatkan oleh para pelatih senior yang sudah berpengalaman, untuk mencapai tujuan itu BEP kurang berfaedah kalau hanya dilakukan sesekali saja atau hanya kalau ingat. Melakukan BEP seminggu sekali bersama komunitasnya tentu masih bisa memetik manfaat, minimal kesehatan sosial-psikologis, karena senang bertemu teman, foto-foto bareng atau ngerumpi.
Idealnya, kata para pelatih itu, untuk mencapai hasil optimal BEP dilakukan setiap hari dan dengan cara yang benar, yaitu bergerak pelan-mengalir dengan mematuhi aturan-aturan yang sudah dibakukan untuk setiap gerakannya. Dan persis di situlah tantangnnya!
Pak Rainer dan Pak Steven memandu BEP. Untuk mendapatkan gambar lebih baik, klik segi tiga merah, dilanjutkan klik Youtube.
BEPers Sanberna dan Testimoni Pak Rainer dan Pak Steven. Untuk mendapatkan gambar lebih baik, klik segi tiga merah, dilanjutkan klik Youtube.
Untuk melihat ALBUM FOTO, klik link di bawah ini:
https://drive.google.com/drive/folders/1IJL6VTW-fQpmLCy2hYoBDM9wyubRKUm3?usp=drive_link
Berikut ini link materi tentang Gerakan BEP untuk Penyembuhan Pascastroke (makalah Rengganis Anandi, Seksi Pendalaman Kepengurusan BEP KGPLus 2022-2027)
https://drive.google.com/file/d/1zzhUhol12Cny3CV3DhlYBChhFftkq98k/view?usp=drivesdk
Artikel di atas bisa diakses lewat Google dengan kata pencarian "Gereja Santa Bernadet", dua-tiga hari setelah penerbitan ini.
Teks: ps/ Foto-foto & Video: BEPers Sanberna Pinang