Gereja Stasi Santo Paulus Jatibarang di kampung halaman Pak Trisno Kambali. Diresmikan 22 Oktober 2024 setelah direnovasi. Moto Gereja: Omnia vestra in caritate Fiant (Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih. 1 Kor 16:14). [Foto: Paroki St Maria Fatima Brebes] Peta Lokasi gereja klik di sini: https://maps.app.goo.gl/DR8n8JAtKB8J7X1XA?g_st=aw
Perjalanan hidup Pak Trisno Kambali sampai kini bisa diringkas dalam 3 episode: masa perkenalan awal dengan Gereja Katolik di kampung halamannya; masa pontang-panting berjuang mencari uang; dan masa melayani Gereja sebagai ungkapan syukur.
Berasal dari keluarga bukan katolik di Jatibarang Jawa Tengah, Pak Trisno ingat ketika neneknya meninggal dimakamkan secara katolik walaupun upacaranya campur-campur dengan tradisi pemakaman Tionghoa seperti peti jenazah yang diangkut dengan kereta. Dia sendiri tidak yakin apakah neneknya sudah katolik waktu itu. Yang dia tahu pasti koko sepupunya katolik dan sudah jadi misdinar di gereja Jatibarang (sekarang Gereja Stasi Santo Paulus dari Paroki Gereja Santa Maria Fatima Brebes, Keuskupan Purwokerto).
Meskipun demikian, Trisno Kambali kecil yang tahun 70-an itu masih kelas 3 SD sudah sering disuruh anak yang lebih senior untuk jadi ”provokator” alias tukang ngoprak-oprak anak-anak katolik lain supaya berkumpul setiap ada kabar Romo Loogman akan datang. [Menurut beberapa sumber, Pastor Handoyo Loogman MSC adalah perintis pengobatan alternatif Radiestesi Medik dengan penginderaan gelombang elektromagnetik. Ada juga yang bilang ”ilmu bandul” karena medianya pendulum.]
Di teras sebuah gudang yang dijadikan seperti kapel untuk misa, sebelum misa Romo Loogman sering bercerita tentang Santo-Santa di hadapan anak-anak. ”Lalu kasih pertanyaan, yang bisa menjawab mendapat hadiah gambar-gambar dari luar negeri,” kenang Pak Trisno dengan derai tawa.

Romo Handoyo Loogman, MSC. (Foto: Istimewa)
Sekolah di SD Negeri, sejak masuk SMP Katolik sampai SMA Negeri Pak Trisno sudah ikut aktif di Mudika Gereja stasi Jatibarang, bahkan sampai menjadi seperti wakil ketua meskipun ia belum katolik resmi karena ayahnya dengan alasan tertentu tidak mengizinkannya dibaptis. Ia baru dibaptis tahun 1979 ketika usianya 18 tahun menjelang lulus SMA tahun 1980 sesudah diizinkan ayahnya karena dianggap sudah dewasa.
”Saya dibaptis 23 Desember di Gereja Maria Immaculata Slawi, dulu masih Stasi dari Gereja Hati Kudus Yesus Tegal, Keuskupan Purwokerto,” katanya. Ketika ditanya apakah waktu itu sudah bercita-cita menjadi Pewarta atau pelayan Gereja, ia menjawab, ”Nggak kebayang!”
Di SMA Trisno Kambali muda termasuk dalam rangking 10 Besar. Ia diperkenankan pihak sekolah untuk masuk PTN Jalur Perintis II tahun 80-an lewat penelusuran nilai tanpa tes dan yang dituju di IPB Bogor. Namun tidak jadi kuliah di sana, kandas di awal karena orangtua tidak mampu membiayai hidupnya di luar kampus. ”Memang dapat biaya kuliah (SPP) dan uang saku dari pemerintah (Departemen P&K), tetapi orangtua tidak mampu membiayai uang sewa mess untuk tempat tinggal dan biaya hidup lainnya. Akhirnya nganggur di rumah 2 tahun bantu orangtua dagang,” katanya.
Namun pada tahun 1982 ada teman yang mengajaknya mengadu nasib ke Jakarta. Ia mendapat pekerjaan pertama di optik yang berlokasi di Aldiron Plaza (sekarang Blok M Square), milik bos Taman Safari, Pak Hadi Manansang (alm), dan mendapat akomodasi mess di rumah sang bos di Pondok Indah.
Di optik itulah Pak Trisno muda belajar seluk beluk dunia optik dari mantu-mantu perempuan bos yang mengelola optik. Mereka adalah ahli optik atau optician (kalau sekarang lulusan Akademi Refraksi Optisi -LEPRINDO) yang mampu melakukan pemeriksaan dasar mata, menetapkan resep kacamata, serta membuat dan memasang lensa kacamata atau lensa kontak.
”Maka saya bisa memeriksa mata. Karier bagus, sampai aku meraih jabatan seperti manajer,” katanya. Tapi baru satu tahun enam bulan bekerja, tahun 1983 dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan jabatannya itu.
Alasan keluar dari pekerjaan tersebut adalah karena dia ingin kuliah dengan tabungan hasil kerjanya setahun lebih itu. Ia lalu kuliah Akuntansi di YAI (Yayasan Administrasi Indonesia) malam hari. Tak lagi tinggal di mess bos di Pondok Indah tapi nebeng kos teman sekampung karena tak ada keluarga di Jakarta.

Gereja Stasi Santo Paulus Jatibarang sebelum direnovasi. Trisno Kambali kecil sampai remaja mengalami gereja ini. (Foto: Istimewa)
Lulus tahun 1986 Pak Trisno mengantongi ijazah Sarjana Muda Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) karena waktu itu Akademi Akuntansi YAI (sekarang: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAI dan Universitas Persada Indonesia YAI) masih dengan status belum disamakan, sehingga ujian harus nebeng ke STAN (sekarang: Politeknik Keuangan Negara STAN atau PKN STAN) untuk mendapat status persamaan.
Pak Trisno mengakui, pada saat ia keluar dari pekerjaan pertamanya itu keinginannya adalah mencari uang sebanyak-banyaknya—obsesi lama yang dia pendam bahkan sejak SMP dan SMA. ”Aku harus punya duit. Pameo saya, saya ingin memiliki segala sesuatu yang belum saya miliki. Serakah banget kan? Ha-ha-ha,” katanya dengan derai tawa.
Berdasarkan pengalaman hidupnya Pak Trisno punya refleksinya sendiri tentang uang. Uang, katanya, penting untuk kelangsungan hidup, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selagi masih muda mengejar uang tidak masalah. Bagaimanapun orang yang punya uang jika dibarengi dengan kehidupan rohani yang bagus dia tidak akan menyusahkan orang lain. Kemudian, kalau hatinya tersentuh tentu akan lebih berkontribusi untuk orang lain. Gereja bertumbuh secara materi, punya gedung, dll, bukan (hanya) dari pelayanan-pelayanan rohani, melainkan ada kontribusi dari mereka yang punya uang. Orang-orang itu belum tentu selalu religius, rajin pertemuan lingkungan, rajin ke gereja, dll, tetapi mau memberikan sumbangan uang.
”Saya tidak menafikan orang-orang yang tidak aktif dalam kegiatan Gereja. Mereka tetap anggota Gereja yang harus tetap disapa. Harus diberi undangan kalau ada pertemuan, karena orang yang aktif ke gereja pun belum tentu memberi sumbangan besar ke gereja,” katanya.
”Karena itu saya selalu mengajak orang-orang untuk mencari penghasilan. Orang Yahudi kan begitu ceritanya, sebelum jadi dewasa dikasih pendidikan untuk mencari uang, cari penghasilan. Jangan heran Paulus itu sebelum berkarya (Saulus) menjadi murid Gamaliel dan sudah dididik keterampilan untuk menghasilkan uang sendiri,” ujarnya merujuk Kis 22:3. Paulus adalah pembuat tenda. (Kis 18:3)

Pak Trisno termasuk "doyan omong" dalam waktu lama. Ia enthusiast (antusias) ketika berbicara hal-hal penting tetapi juga geli jika mengingat hal-hal lucu.
Sesudah keluar dari pekerjaan pertama Agustus 1983 dan kuliah, Pak Trisno sempat 2 bulan menganggur dan baru mendapat pekerjaan lagi Oktober di sebuah perusahaan grosiran optik dan alat kesehatan mata di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Malam harinya tetap kuliah. Ia ingat betul sempat terlibat baksos pemeriksaan mata dan kacamata perusahaannya, bekerja sama dengan sebuah instansi selama dua hari, di Gedung DPR Senayan.
Di perusahaan itulah Pak Trisno bekerja di bagian marketing sebagai salesman, keluar-masuk rumah sakit dan bertemu banyak dokter spesialis mata untuk menawarkan produk jualannya ke berbagai kota, dari Medan, Surabaya, dan Manado, selama 8 tahun. ”Yang belum ke Irian (Papua sekarang),” katanya.
Kian menguasai produk-produk optik dan alkes mata karena rajin mengikuti berbagai training, buah dari kesenangan belajar, loyalitas, dan penguasaan produk itu adalah prestasi kerja yang bagus, sehingga Pak Trisno pernah menjadi sales teladan dua tahun berturut-turut dengan penghasilan besar.
Sesudah 8 tahun bekerja di perusahaan tersebut, ketika sudah enak dengan posisi bagus dan penghasilan besar, ia memutuskan diri untuk keluar, tepatnya tahun 1991, justru ketika prestasinya berada di puncak dan memberi kontribusi besar bagi perusahaan. ”Karena saya ingin sesuatu yang lain,” katanya memberi alasan.
”Ketika saya mau keluar digondeli karena dalam kondisi sedang berprestasi. Saya minta apa saja dikasih karena prestasi saya bagus. Saya punya previlege. Dua tahun sebelum keluar saya minta fasilitas mobil operasional dan diberi, padahal supervisor saya pun tidak mendapatkannya. Di situ saya tunjukkan hasilnya dan terbukti,” lanjutnya.
”Aku waktu itu punya prinsip, bukan soal jabatan tapi soal duit. Keluar punya penghasilan yang jauh lebih gede. Yang tinggal, tidak keluar, cuma gitu-gitu aja. Saya punya kebebasan waktu, kebebasan finansial,” katanya.

Gereja Maria Immaculata Slawi, tempat Pak Trisno Kambali dibaptis tahun 1979. (Foto: Istimewa)
Dari pengalaman itulah Pak Trisno menyelipkan pesan kepada teman-teman yang bekerja di suatu perusahaan. Kalau mau keluar, rencanakan. Misalnya mau keluar 6 bulan atau 1 tahun ke depan, buatlah rencana untuk bekerja sebaik-baiknya dengan prestasi setinggi-tingginya selama periode itu dan keluarlah pada saat prestasi di puncak. Jangan keluar dalam prestasi biasa-biasa saja. ”Kalau waktu memutuskan untuk keluar prestasi biasa-biasa saja, Anda tidak akan dihargai. Apalagi kalau banyak persoalan, seperti punya utang, itu malah langsung ditendang ha-ha-ha,” kata Pak Trisno yang mengaku belajar semuanya itu dari pengalaman kerjanya. (bersambung)
Teks/Foto: ps/Arya/Adv
Artikel ini bisa dibaca di Google dengan mengetik kata kunci Gereja Santa Bernadet, lalu klik Santabernadet.