Pak Trisno Kambali (baju batik paling kanan) dan Pak Simbolon (baju batik sebelah Uskup) adalah dua Katekis yang mengajar kelas calon penerima Sakramen Krisma dewasa. Foto bersama diambil usai misa penerimaan Sakramen tersebut di Gereja Bernadet, Minggu, 9 November 2025.
Pulang dari mengikuti misa umat harus membawa sukacita. Jangan sampai mereka pulang dengan muka manyun, muka cemberut, masam atau murung. Menurut Pak Trisno Kambali, dalam hal ini peranan para petugas tata laksana sangat penting.
Sesudah menikah tahun 1987 di Gereja Salvator Slipi dan tinggal di Lingkungan mertua di Petamburan, Pak Trisno lebih banyak pergi ke gereja di Jakarta atau Gereja Santa Maria Tangerang. Kadang ia diminta tugas tata laksana di Gereja Salvator. Menjadi petugas tata laksana itulah sebenarnya awal dari pelayanannya untuk Gereja. Hampir empat puluh tahun lalu.
Ketika melaksanakan tugas itu Pak Trisno juga menyambut tamu yang datang untuk mengiktui misa dengan menyalami, mengucapkan ”Selamat pagi” atau ”Selamat sore”, agar mereka mengalami sukacita. ”Sampai sekarang prinsip saya seperti itu,” katanya. Kelak di Loka Genta (zaman Gereja Diaspora), ketika sudah menempati rumah di Ciledug Indah yang dibelinya tahun 1986, dia melakukan hal yang sama, bahkan ketika tidak bertugas.
”Banyak orang yang tidak sukacita, enggak ada yang nyambut, banyak masalah, ke gereja enggak dikenal lagi, datang manyun pulang tetap aja manyun, nggak ada sukacita. Maka saya berusaha membangun orang yang masuk gereja itu punya sukacita dengan ucapan salam,” katanya.

Pelayanan untuk Gereja Pak Trisno Kambali diawali di Gereja Kristus Salvator Slipi sebagai petugas tata laksana 38 tahun lalu. (Foto: Istimewa)
Masuk dan mulai aktif di Paroki Ciledug (sekarang Paroki Pinang) tahun 1991, Pak Trisno diminta Romo Ludo Reekmans CICM, pastor paroki pertama, untuk mengajar seorang manula yang akan menerima baptis darurat—pembaptisan untuk orang dalam bahaya kematian dan bisa dilakukan oleh siapa saja—karena menderita kanker lidah. Permintaan itu tak lepas dari peran Pak Mateus Suparto (wafat tahun 2019), Katekis senior paroki waktu itu, yang mulai ”meliriknya” untuk diajak menjadi Katekis.
Merasa belum pernah mengajar awalnya Pak Trisno ragu-ragu, apalagi manula tersebut tidak bisa bicara karena kanker lidahnya itu sehingga didampingi cucunya. Tetapi Romo Ludo mengatakan dia hanya diminta mengajari doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan, dalam 4 kali pertemuan. Singkat cerita, orang tersebut akhirnya dibaptis dan menerima komuni. Kanker lidahnya sembuh setelah operasi meskipun bicaranya cadel karena lidah hanya dikerat dan tidak harus dipotong. Bagi Pak Trisno kesembuhan itu diyakininya sebagai mujizat penyembuhan dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengalaman rohani yang menguatkannya untuk tetap melayani Gereja.

Pak Simbolon dan Pak Suraji, rekan-rekan Katekis yang lebih senior daripada Pak Trisno Kambali. Pak Simbolon sampai sekarang masih Katekis aktif, sementara Pak Suraji sudah pensiun.
Namun setelah itu ia belum puas. Agar lebih dipercaya sebagai pengajar, ia merasa harus membekali diri lebih banyak lagi. Tidak cukup hanya baca-baca saja. Lalu mulai ikut pendalaman-pendalaman iman Lingkungan, menerima ajakan Pak Mateus untuk menjadi Katekis, mendampingi katekumen. Yang diingatnya, tahun 1992 itu Pak Suraji, Pak Simbolon, Pak Tampubolon, Pak Tino, dan Pak Sukijo sudah menjadi Katekis.
Ada pengalaman kecil menggelikan yang tidak pernah Pak Trisno lupakan ketika tahun 1992 itu diajak Pak Simbolon, sesama Katekis, ke rumahnya di Pinang Griya Permai. ”Di rumahnya saya diajak makan erwe untuk pertama kalinya, nggak pernah sebelumnya ha-ha-ha,” kenangnya dengan tawa. RW atau erwe singkatan dari rintek wuuk (bahasa Manado: bulu halus), ungkapan halus untuk daging anjing. Dalam bahasa Batak biang, kodenya B1.

Di awal-awal pelayanannya di Paroki Ciledug (Pinang), Pak Trisno mengalami penggembalaan Romo Ludo, Romo Gilbert, dan Romo Frans Pranata.
Pak Trisno mendapat pembekalan lebih serius sebagai Katekis ketika mengikuti Kursus Pendidikan Iman (KPI) Santo Paulus di Gereja Theresia, Jakarta, seminggu 2 kali selama 3 tahun. Para pengajarnya dari Lembaga Biblika Indonesia (LBI), Komisi Kateketik KAJ, dan dosen Universitas Atmajaya Jakarta. Alumni KPI yang lebih senior waktu itu antara lain Pak Suradji, Pak Simbolon, Pak Tampubolon, dan Pak Palendeng. ”Saya angkatan terakhir karena setelah itu tidak ada lagi,” katanya.
Pada tahun 1992 itu juga Pak Trisno mulai ikut Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik (PDPKK). Pergi ke Cikanyere dan mengikuti kursus-kursus, retret atau seminar di berbagai tempat untuk lebih mendalaminya, bahkan sampai Tumpang, Malang, Jawa Timur, karena untuk Pembaharuan Karismatik tidak ia temukan pendidikan formalnya. Ingin mengikuti pembekalan yang lebih formal seperti Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) Shekinah selalu terbentur waktu kerja.
Akhirnya paroki mengadakan sendiri KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) di Ciledug tahun 1996 untuk pertama kalinya, bertempat di Bangunan Sementara Sekolah (BSS) Sang Timur dengan izin dari Pastor Paroki waktu itu, Romo Gilbert Keirsblik CICM, dan melibatkan Katekis lain sebagai panitia seperti Pak Simbolon dan beberapa teman lain. Mereka peserta sekaligus panitia KEP. Pengajarnya diundang dari Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) Shekinah.
KEP di Ciledug sudah diadakan sampai 8 angkatan. Dari angkatan 1-5 ada jeda-jeda karena kerusuhan Mei 1998 dan kasus Sang Timur tahun 2004, dan setelah angkatan 8 KEP itu berhenti lagi karena wabah Covid-19 sampai sekarang. Pak Trisno ikut Training for Trainers tahun 1998 pasca-kerusuhan di Pusat Karismatik Katolik Shekinah di Duta Merlin, lalu ikut mengajar di SEP dan KEP dari tahun 2000-sekarang.

PDPKK Yoselina dan PDPKK Santa Bernadet tumbuh subur di Paroki Pinang. Pak Trisno mulai ikut PDPKK tahun 1992. Foto diambil usai seminar Doa Rosario dengan narasumber Romo Albertus Purnomo, OFM, Minggu, 18 Oktober 2025 di Aula Sehati Sejiwa.
Pembaharuan Karismatik Katolik di KAJ dalam wadah BPK PKK KAJ (Badan Pelayanan Keuskupan) di dalam strukturorganisasinya antara lain mempunyai empat forum komunikasi pelayanan, yaitu FKPP (Forum Komunikasi Pembina Pengajar) untuk bidang pengajaran, FKPM (Forum Komunikasi Pewarta Mimbar) untuk pewarta mimbar dengan memberi renungan atau kotbah di PD, FKPE (Forum Komunikasi Pengajar Evangelisasi) untuk pengajaran di SEP dan KEP serta Bina Lanjutnya, dan FKP3 (Forum Komunikasi Pelayan Pujian & Pemusik) untuk pelayanan musik dan lagu.
”Kenapa saya bisa ke mana-mana karena saya member dari ketiganya kecuali nyanyi (FKP3). Dalam Gereja Katolik ada yang namanya Perutusan, jadi saya ke mana-mana karena diutus, asasnya Perutusan seperti Imam, Aku melayani karena diutus,” kata Pak Trisno.
Dalam struktur organisasi kepemimpinan/pelayanan di Paroki Ciledug (sekarang Paroki Pinang), Pak Trisno pernah terlibat di hampir semua lini. Menjadi Sekretaris DPH/PGDP di zaman Pastor Gilbert, Pastor Frans Pranataseputra Pr, dan Pastor Jos Cobbe, dari tahun 1997-2003 dengan Pak Stephanus Soegijatno Soesilo dan Pak Priyo sebagai Wakil Ketua 1 dan 2, dan anggota-anggota lain Pak Darwin, Pak Sulis, Bu Ratna, Pak Thomas Suraya, Pak Yos, Pak Anton, Pak Sumarlan, dan Pak Pujo Pranowo. Sejauh dia ingat, mereka itu semua generasi ketiga kepengurusan DPH setelah para senior seperti Pak Anton Tumijo, Pak Kardjo, Pak Andreas Sunarto, dan Pak Soegijatno Soesilo sebagai generasi pertama.

Pak Soesilo, Pak Anton Tumijo, Pak Andre Sunarto, dan Pak Thomas Suraya hanyalah beberapa orang saja yang bersama Pak Trisno Kambali terlibat dalam kepengurusan DPH di masa-masa awal berdirinya Paroki Pinang (Ciledug).
Pernah juga bersama Pak Anton Tumijo, Pak Trisno dan teman-teman terlibat menjadi ketua dan anggota pengurus PPG/PPRI dan kepengurusan lain dalam DP Inti dan DP Pleno, seperti Ketua Lingkungan dan Ketua Seksi. (bersambung)
Teks/Foto: ps/dok.Komsos/Panitia Seminar Rosario/Adv
Artikel ini bisa dibaca di Google dengan mengetik kata kunci Gereja Santa Bernadet, lalu klik Santabernadet.