Renungan Minggu Panggilan: Yesus, Gembala yang Baik

26 April 2026
  • Bagikan ke:
Renungan Minggu Panggilan: Yesus, Gembala yang Baik

Yesus Gembala yang Baik. (Foto ilustrasi: istimewa)

Minggu Paskah IV, 26 April 2026, dirayakan sebagai Minggu Panggilan. Perayaan Ekaristi pertama pukul 06.00 di Gereja St. Bernadet Pinang dipimpin oleh pastor tamu, Romo Cristoforus Wahyu Tri, SCJ.

Dalam homilinya, Romo Wahyu mengajak umat merenungkan sosok Gembala yang Baik sebagaimana diwartakan dalam Injil Yohanes 10:1–10. Yesus disebut Gembala yang Baik karena Ia sungguh peduli terhadap hidup kita. Melalui peristiwa Paskah, Yesus menunjukkan bahwa Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan umat-Nya. Ia rela melakukan apa saja demi domba-domba yang dipercayakan kepada-Nya.

Romo Wahyu kemudian mengisahkan tentang katakombe di Roma, yaitu lorong-lorong bawah tanah yang menjadi tempat pemakaman sekaligus tempat perlindungan bagi umat Kristen pada masa Gereja Perdana. Pada masa penganiayaan, khususnya di era Kaisar Valerianus, umat Kristen bersembunyi di sana. Di katakombe itu mereka berdoa, berkatekese, merayakan Ekaristi, bahkan mengakhiri hidup mereka. Salah satu kisah terkenal yang berasal dari sana adalah tentang Santo Tarsisius, seorang martir muda yang wafat ketika mempertahankan Sakramen Mahakudus yang hendak ia bawa kepada umat yang dipenjara.

Romo WahyuPAKAI

Pastor Tamu, Romo Cristoforus Wahyu Tri, SCJ, usai misa. (Foto:ps)

Di dalam katakombe, terdapat berbagai simbol iman, salah satunya adalah gambaran Gembala yang Baik: seorang gembala yang memanggul seekor domba di pundaknya. Simbol ini melambangkan Kristus yang menyelamatkan jiwa manusia. Dalam beberapa gambaran, tangan kirinya memegang ketel, semacam ember, berisi makanan atau air, dan di sampingnya terdapat seekor anjing.

Romo Wahyu menjelaskan bahwa simbol-simbol ini memiliki makna mendalam. Domba di pundak melambangkan jiwa yang diselamatkan dan dirawat oleh Kristus. Wadah yang dibawa menggambarkan pemeliharaan rohani—bahwa Yesus memberi kita “makanan” dan “minuman” rohani melalui Sabda dan Ekaristi. Hal ini ditegaskan dalam perjamuan terakhir ketika Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku, makanlah.” Ia ingin agar kita tidak mengalami kekeringan rohani dalam peziarahan hidup ini, melainkan selalu memperoleh kekuatan dan arah hidup dari-Nya.

Sementara itu, anjing dan tongkat gembala melambangkan perlindungan. ”Bukan karena Yesus itu dog lover,” selorohnya. Tongkat dengan kait digunakan untuk menarik domba yang tersesat, sedangkan bagian lainnya untuk menghalau bahaya. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya memelihara, tetapi juga menjaga umat-Nya. Ia tidak ingin seorang pun tersesat atau terpisah dari-Nya, karena di luar Dia tidak ada keselamatan.

Koor TheresiaPAKAI

Koor Wilayah Theresia bertugas Minggu, 26 April 2026, Misa I Pinang. (Foto: Koor Wil.Theresia)

Lebih lanjut, Romo Wahyu menegaskan bahwa sikap Yesus sebagai Gembala yang Baik menjadi teladan bagi kita semua. Kita dipanggil untuk meneladani kepedulian, kasih, dan tanggung jawab-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak harus menjadi imam, setiap orang dapat menjadi “gembala” bagi sesamanya—di dalam keluarga, lingkungan, maupun komunitas.

Akhirnya, umat diajak untuk bertanya dalam hati: sudahkah kita bersikap seperti Yesus, Sang Gembala yang Baik? Semoga dengan meneladani-Nya, kita dapat menjadi saluran keselamatan bagi orang lain, sehingga keluarga kita diberkati dan hidup kita semakin terarah dalam kasih Tuhan.

Pesan Hari Panggilan Romo Cristoforus Wahyu Tri, SCJ. Klik Youtube untuk gambar lebih baik.

Koor Wilayah Theresia. Klik Youtube untuk gambar lebih baik.


Peliput/Video: ps

Tags
Pinang

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna