“Jalan ke Emaus”: Saat Tuhan Berjalan Bersama Kita

27 April 2026
  • Bagikan ke:
“Jalan ke Emaus”: Saat Tuhan Berjalan Bersama Kita

Jalan ke Emaus, Yesus hadir menyertai kedua murid. (Foto ilustrasi: istimewa)

Pernahkah kita merasa berjalan sendirian dalam hidup? Berdoa, tetapi terasa hampa. Berharap, tetapi yang datang justru kekecewaan?

Romo Hieronimus Jemantur, CICM, dalam homili Misa Paskah III, 19 April 2026, mengajak umat St. Bernadet untuk mendalami pengalaman-pengalaman seperti itu dengan merenungkan kisah “Jalan ke Emaus” dalam Lukas 24:13-35.

Dikisahkan dua murid berjalan dengan hati yang hancur. Harapan mereka runtuh. Mereka berbicara tentang luka dan kebingungan. Tanpa mereka sadari, Yesus hadir dan berjalan bersama mereka. Ia mendengarkan, menyertai, bahkan menjelaskan Kitab Suci. Namun mata mereka tertutup; mereka tidak mengenali-Nya. Bukankah ini juga pengalaman kita? Sering kali kita begitu sibuk dengan masalah, hingga tidak mampu melihat kehadiran Tuhan yang sebenarnya begitu dekat.

koor nyanyiPAKAI

Koor Prodiakon St Bernadet.

Perlahan, sesuatu berubah. Ketika Yesus menjelaskan Sabda, hati mereka mulai berkobar-kobar. Bukan hanya emosional, tetapi Roh Kudus menerangi dan menyentuh hati mereka. Sabda Tuhan bukan hanya didengar, tetapi menghidupkan. Namun mereka baru benar-benar mengenali Yesus saat pemecahan roti. Di situlah mata mereka terbuka.

Di sinilah kita diingatkan: Tuhan hadir dalam Sabda yang kita dengarkan, dan dalam Ekaristi yang kita rayakan. Sabda menyentuh hati, Ekaristi membuka mata. Dalam tradisi Gereja Katolik, kisah Emaus dipahami sebagai gambaran misa. Pertama, Liturgi Sabda ketika Yesus menjelaskan isi Kitab Suci; kedua, Liturgi Ekaristi saat makan bersama Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecahkannya, dan memberikannya kepada mereka.

komuniPakai

Menghadiri Perayaan Ekaristi dan menyambut Tubuh Kristus dengan kesiapan hati.

Renungan ini mengajak kita bertanya: Masihkah kita peka akan kehadiran Tuhan? Ataukah kita terlalu larut dalam kekhawatiran dan kesibukan hidup? Kemudian Romo Hieron mengajak umat St. Bernadet untuk lebih membumikan sikap-sikap kita dalam menanggapi kisah tersebut.

Pertama, memberi ruang bagi Sabda Tuhan dalam hidup kita. Kitab Suci hendaknya dibaca, bukan hanya disimpan rapi, karena banyak inspirasi iman yang bisa kita petik di dalamnya. Misalnya Yesus bersabda, ”Kamu adalah sahabat-sahabatKu... (Yoh 15:14-15), sehingga ketika mengalami masalah, kesedihan, kita bisa datang kepadaNya. Masih banyak sekali inspirasi iman yang bisa kita temukan dalam Kitab Suci.

koor prodiakonPAKAI

Koor Prodiakon yang bertugas.

Kedua, datang ke Ekaristi dengan hati yang siap. Hadir bukan hanya secara fisik dan pikiran ke mana-mana, tetapi juga dengan iman yang hidup, dengan pakaian yang pantas sebagai bentuk penghormatan kita kepada Tuhan, dengan tidak datang terlambat, dst.

Sesungguhnya, dalam setiap perjalanan hidup, Tuhan selalu berjalan bersama kita. Hanya saja, apakah kita mau mengenali-Nya dengan mendengarkan sabda-Nya dan merayakan Ekaristi?

Romo JemanturPAKAI

Romo Hieron foto bersama anak-anak usai misa.

Klik Youtube untuk gambar lebih baik.


Peliput/Foto/Video: ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna