Di kalangan orang-orang Katolik, yang jumlahnya lebih sedikit dari Kristen Protestan, terdapat nama Ignatius Joseph Kasimo. Setelah memimpin Partai Kotolik, dia juga menjadi anggota Volksraad sejak muda, dari 1931 hingga 1942. Setelah Jepang kalah, Kasimo menghidupkan kembali Partai Katolik yang haluannya jelas-jelas mendukung Republik Indonesia. Sudah pasti juga atas dukungan Uskup Indonesia pertama Indonesia Albertus Soegiopranoto, yang berkedudukan di Semarang. Seperti Kasimo, Soegiopranoto dibaptis Katolik setelah sekolah di sekolah Katolik. Keduanya sekolah di sekolah yang diasuh oleh pastur-pastur Jesuit penerus Romo van Lith.
“100% Katolik, 100% Indonesia,” ujar Uskup Albertus Soegiopranoto. Sebagai Uskup katolik yang penuh kasih, dia terlibat penyelesaian damai Pertempuran Lima Hari di Semarang. Berkat laporan-laporan ke Vatikan tentang Indonesia, sebulan setelah Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia, Vatikan pun menyusul untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
Kami pengikut Kristus dan Kami Indonesia!
Jauh sebelum dukungan Vatikan, pemuda-pemuda Katolik sudah bergabung dalam ketentaraan Republik. Sebutlah Agustinus Adisucipto. Dia pemuda Katolik jago terbang itu ikut merintis pendidikan penerbangan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Lalu di Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) ada Yos Sudarso. Belakangan menjadi Komodor ALRI yang gugur dalam pertempuran laut Aru dalam rangka menggabung Papua dengan Indonesia.
Orang-orang Indonesia kenal sosok Slamet Riyadi, dengan nama baptis Ignatius di depan namanya. Setelah mengepung markas Kenpetai (Polisi Militer Jepang) di Solo dia jadi Komandan Batalyon yang dihormati meski masihmuda. Dia dikenal cerdik sebagai komandan gerilya. Belakangan dia gugur dalam menumpas RMS.
Dari Indonesia Timur, Frans Seda yang niatnya ke Jawa untuk bersekolah kemudian terjebak perang. Di masa revolusi dia terpaksa ikut bergerilya melawan Belanda dengan bergabung dengan laskar perjuangan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Setelah revolusi, di tahun 1950, Frans ikut serta dalam panitian pembubaran Negara Jawa Timur. Setelahnya Frans pernah jadi menteri dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional.
Soegiopranoto, Kasimo, Adisucipto, Yos Sudarso, Frans Seda dan Slamet Riyadi adalah orang-orang Katolik yang jadi pahlawan. Masih banyak lagi orang katolik yang ikut berjuang membela Indonesia. Selain pahlawan-pahlawan itu, tokoh pergerakan beragama katolik adalah Chalid Salim. Dia adik kandung tokoh Sarekat Islam Agus Salim, yang belakangan jadi Katolik, setelah dibuang ke Boven Digoel.
Sumber : Tirtocoid