“Anak-anak, kita hari ini akan turun untuk ibadat Jalan Salib, ya. Ayo kita pakai sepatunya, kita mau turun,” kata seorang pendamping BIA.
Mendengar perintah tersebut, anak-anak BIA yang berkumpul di Aula Pinang itu pun bergegas mengenakan sepatu masing-masing. Bahkan ada yang tergesa-gesa seperti mau diundang pesta ulang tahun temannya saja.
Dengan semangat, anak-anak itu lalu berjalan ke arah Taman Pinang, didampingi para pembina yang hari itu mendapat giliran mengajar, yaitu Wilayah Kristoforus, seperti Bu Murtiningsih dan Bu Anton, plus kakak-kakak pendamping dari OMK Kristoforus yang berseragam kaos putih.
Ada sekitar 60 anak yang ikut. Di antara anak-anak BIA itu banyak yang masih balita, yang biasanya kalau ikut BIA di Pinang masih dijagai orangtuanya. Ibadat Jalan Salib tersebut diadakan pada hari Minggu, 17 Maret 2019, dengan mengambil waktu pembinaan BIA mingguan, mulai pukul 08.45.
Sesampai di Taman Pinang, para pembina mengajak anak-anak BIA itu bersiap-siap. Mereka diajak untuk hening, karena ibadat Jalan Salib akan segera dimulai. Dengan mik wireless salah satu kakak pendamping mulai dengan lagu pembukaan dan melanjutkannya dengan ibadat Jalan Salib. Anak-anak mengikutinya dengan menyimak buku ibadat.
Karena belum ada Buku Jalan Salib versi anak-anak, maka yang dipakai adalah buku yang biasa dipakai oleh orang dewasa, tapi bagian renungan tidak dibacakan. Dari perhentian satu ke perhentian berikutnya anak-anak itu mengikuti dengan khidmad layaknya orang dewasa.
Semula, dari perhentian 1 anak-anak BIA itu tampak semangat dan penuh perhatian mengikuti Jalan Salib. Tetapi ketika sampai ke perhentian 11 mulai kelihatan tidak fokus, ada yang cari-cari tempat buat duduk-duduk. “Ini masih lama gak sih, cape nih,” tanya seorang anak kepada kakak pembimbing. Beberapa anak lain mulai ngomong sendiri.
Mungkin anak-anak itu belum menyadari benar bahwa mereka harus melewati 14 perhentian. Jika ditarik garis lurus, Jalan Salib di Taman Pinang panjangnya bisa mencapai 500-an meter atau lebih, bukan jarak pendek untuk anak-anak. Di pertengahan perhentian 12, pembina sempat mengingatkan agar menjaga ketenangan, ”Ayo berlutut terus.”
Tapi setelah kira-kira 25 menit, anak-anak BIA itu pun berhasil menyelesaikan 14 perhentian! Setelah itu menuju aula dan mendapat minum dari kakak-kakak pendamping. Beberapa dari mereka sudah biasa bawa minum sendiri.
Para pendamping BIA hari itu memang ingin memperkenalkan ibadat Jalan Salib kepada anak-anak BIA dalam rangka Prapaskah ini.
Para pendamping merasa senang dengan Jalan Salib BIA hari itu. Itu tampak pada lalu lintas percakapan di grup WA pembina BIA.
“Saya seneng karena teman-teman di sini peduli dengan anak-anak BIA, Generasi Penerus Gereja. Aset paling berharga, kata Romo Lamma,” tulis Bu Fanny Komarudin, koordinator pembina BIA Santa Bernadet.
“Anak-anak BIA Bernadet hebat, para pembimbingnya juga,” bunyi postingan yang lain.
“Terima kasih banyak kakak-kakak Kristoforus yang sudah mendampingi anak-anak hari ini,” kata yang lain lagi.

Selamat ya, adik-adik BIA!
Teks dan Foto: Jassen Novaris dan Amadeus Satria