Pada hari Rabu malam (24/4) Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik (PDPKK) Santa Bernadet merayakan ulang tahun ke-23 dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Lammarudut Sihombing, CICM, di Gereja Pinang yang dihadiri oleh sekitar 60 orang.
Dalam kotbahnya, Romo Lamma mengatakan bahwa cara berdoa dari masing-masing umat itu berbeda-beda, sesuai selera, ada yang dengan cara Karismatik, tetapi ada juga yang berdoa biasa. Itu pula yang terjadi dulu ketika Yesus dan para murid menyebarkan ajaran-ajaran iman.

Usai misa syukur, ulang tahun dirayakan secara sederhana dengan peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun oleh para pegurus PDPKK St Bernadet. Sesudah itu ada ramah tamah.

Teritori pelayanan
Koordinator PDPKK St Bernadet Thomas Soraya dalam wawancara khusus di tenda bawah menjelaskan tentang sejarah dan struktur keorganisasian PDPKK.
Di Paroki Ciledug ada dua PDPKK, yaitu PDPKK St Bernadet dan PDPKK Yoselina. Yoselina adalah kependekan dari Yoseph, Elisabet, dan Anna. “Yoselina itu bukan nama Santa. Dulu malah ada tiga, karena ada Monika-Fabiola yang di kemudian hari bergabung di PDPKK St Bernadet,” jelasnya.

“Jadi ini masalah teritori pelayanan, Yoselina mencakup daerah Metro, sedang PDPKK St Bernadet wilayah-wilayah lainnya. Karena dulu tempatnya tidak cukup lalu dipisah, jadi bukan perpecahan,” kata Pak Thomas.
“Kalau ada acara-acara khusus kadang kita gabung jadi satu. Kalau nanti sudah punya gedung sendiri yang memadai, seperti Romo bilang tadi, jadi satu sangat mungkin,” imbuhnya.

“Untuk acara besar, seperti seminar, kebangunan rohani Katolik, gabung di Badan Pelayanan Keuskupan (BPK). Kita sendiri karena kendala tempat jarang mengadakan, dulu di Sang Timur ada. Kendalanya tempat,” ujar warga Wilayah Ignatius Loyola itu.
Kegiatan rutin PDPKK St Bernadet adalah persekutuan doa (PD) tiap Rabu ke-2 dan ke-4 di Gereja Pinang, jam 19.30, dan mengikuti agenda paroki, seperti Bulan Maria.

Tentang acara Seminar Maria 5 Mei 2019, Pak Thomas menjelaskan, Karismatik tidak hanya berdevosi kepada Roh Kudus, tetapi juga Bunda Maria.

“Kita mengadakan seminar itu supaya umat punya pengetahuan iman soal devosi itu seperti apa, misalnya menyembah itu bagaimana, dan sebagainya. Dengan ikut seminar yang ragu-ragu bisa nanya, kan ini pembicaranya pakar yang belajar teologinya sampai ke Amerika,” katanya.

Struktur hirarkis
PDPKK memiliki struktur hirarkis. Ada yang disebut Badan Pelayanan Keuskupan (BPK). “Jadi semua yang membawa bendera Karismatik harus teregistrasi di Badan Pelayanan Keuskupan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPK PKK) KAJ. Semua koordinator PDPKK itu harus teregistrasi di sana,” jelas Pak Thomas lagi.

Begitu pula para pewarta yang boleh mengisi dalam Persekutuan Doa (PD) harus terdaftar dalam buku Pewarta Mimbar karena semua pewartaannya harus diketahui oleh komunitasnya, Komunitas Pewarta Mimbar di pusat.
Untuk menjadi pewarta mimbar ada pelatihannya, retretnya, dan pertemuan-pertemuan lain. Kalau beberapa kali tidak hadir bisa-bisa tidak tercantum di buku berikutnya. “Sangat ketat seleksinya,” katanya.
Silakan datang
Pada ulang tahun PDPKK Santa Bernadet ke-23 ini Pak Thomas memberi pesan, umat yang tertarik dengan cara tumbuh kembang penghayatan iman secara Karismatik di komunitas ini dipersilakan datang.

“Kalau dengar-dengar yang aneh-aneh, tidak yakin, lebih baik datang, bicarakan. Ada saya sebagai koordinator. Kita diskusi, kita luruskan, kan kadang kata orang ada Bahasa Roh yang nggak jelas seakan-akan oleh hirarki tidak direstui, padahal sampai Dewan Kepausan ada hirarkinya semua,” katanya.

“Lahirnya Karismatik itu atas restu hirarki juga, jadi namanya Karismatik Katolik. Itu semuanya terkontrol, ada moderator, ada Romonya. Kalau Romonya katakan stop nggak boleh, ya kita berhenti. Kita harus taat ke moderator, yaitu Pastor Paroki. Semua tergorganisasi dengan rapi,” tegas Pak Thomas.
Teks: Carolus WA
Foto-foto: Carolus WA, Jassen Novaris