Di awal homili Misa Paskah Lansia di Balai Metro Permata, Minggu (21/4), Romo Lamma Sihombing, CICM, melontarkan pertanyaan, “Berapa usia tertua bapak ibu di sini?” Terdengar jawaban agak berteriak, “Sembilan puluh tujuh tahun…!” Umat pun penasaran, mencari-cari dari mana asal suara itu. Sejenak gemuruh.
Di deretan bangku tengah duduk Ibu Riamin Panggabean, nenek yang berusia 97 tahun itu. Dia adalah ibu dari Ibu Paula Siahaan. Ia didampingi Pak JC Simbolon, menantunya, yang rupanya menjawab pertanyaan Romo Lamma tadi.

Pak Simbolon usai misa mengatakan, usia Ibu Riamin tepatnya 97 tahun 4 bulan. “Sudah rabun mata,” katanya. Tetapi pendengarannya masih bagus, komunikasi masih lancar, dan ingatannya pun masih tajam. Ibu Riamin selama ini tinggal bersama keluarga Pak Simbolon, di Kompleks Pinang Griya Permai, Kota Tangerang.

Menurut Pak Simbolon, kalau pagi Ibu Riamin sarapan susu dan roti tawar, makan siang hanya pantang makanan-makanan yang keras, makan ikan laut dan telor bisa gatal-gatal. “Makanan sayur berkuah dan mengurangi santan dan garam. Seperti orang tua biasanya pantang makanan berminyak,” kata Pak Simbolon.

Romo turun mimbar
Kehadiran Ibu Riamin siang itu merupakan salah satu kejutan. Ada kejutan-kejutan lain di acara Paskahan Lansia yang penuh canda tawa itu.
Dalam kotbahnya, Romo Lamma bertanya kepada umat yang mayoritas lansia itu, "Apa yang akan bapak ibu lakukan jika setelah meninggal diberi kesempatan hidup kembali?" Salah seorang bapak nyeletuk, “Kawin lagi…!” Sontak umat terbahak.

Romo Lamma menekankan, selagi ada kesempatan diberi kehidupan, kita harus mengisi waktu sebaik mungkin, seperti lagu Hidup ini adalah kesempatan. Lalu ia turun mimbar dan mengajak semua yang hadir menyanyikan lagu tersebut sambil melambai-lambaikan tangan.

Dalam sambutan sesudah misa, Romo Lamma berharap agar para senior dan yunior semakin guyup, bergembira bersama di hari kemenangan. Karena hari itu bertepatan dengan Hari Kartini, Romo Lamma mengajak semua menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. “Peran wanita untuk negeri ini besar, juga dalam pewartaan kebangkitan Tuhan,” katanya yang diiyakan ibu-ibu secara serempak.

Sesepuh Komunitas Lansia Simeon-Hanna, Bp Z Sunten Manurung, siang itu menyampaikan kegembiraannya karena dalam beberapa tahun terakhir ini perhatian paroki dan keuskupan terhadap lansia besar.
“Yang penting harus ada regenerasi, yang sangat senior ini harus ada yang menopang dari yang sangat yunior. Yang tua harus dihormati karena yang tua pernah muda tapi yang muda belum pernah tua,” kata Pak Sunten dalam sambutannya.

Sementara Ketua Komunitas Lansia Simeon-Hanna St Bernadet periode 2018-2021 Ibu Herawaty Manurung mengingatkan, “Kesempatan kita untuk berbuat baik pada usia senja ini semakin pendek.” Ia mengajak para lansia melayani dengan gembira.
Penuh tawa
Pak Joni Hiwono dari Panitia Paskah AYO selaku MC acara hiburan piawai menyegarkan suasana. Awalnya dia bertanya, “Siapa nama lain RA Kartini, bapak ibu? Tunjuk jari yang tahu, dapat hadiah.” Seorang bapak nyeletuk, “Harum!” “Betul… Ibu Kita Kartini harum namanya,” kata Pak Joni disambut gelak tawa.

“Berapa ukuran sepatu Ibu Kartini?” Pertanyaan ini sendiri sudah memancing tawa. Tetapi ada seorang ibu yang tunjuk jari dan menjawab, “Empat puluh dua!” “Betul…! Wah ini omanya Ibu Kartini, ya?” kata Pak Joni sambil minta panitia memberikannya hadiah...

Acara yang penuh tawa itu dihadiri Bp Stephanus Soegijatno Soesilo, pengurus Lansia KAJ, dan isteri, Ibu Th Irene Corry, mantan Ketua Komunitas Simeon-Hanna St Bernadet. Beberapa warga senior berusia di atas 80 tahun juga hadir.

Misa Kudus yang diikuti 286 orang, tidak semua lansia, itu diiringi oleh Koor Senior St Bernadet dengan pemazmur Ibu Irene. Acara bertambah meriah dengan joget bersama Gemu Famire.


Semoga selalu sehat ya, Oma dan Opa. Tuhan memberkati!
Teks: Lusiana SA, ps/ Foto-foto: Lusiana SA, Yohanes Tutuko Wibowo