Pemazmur cilik Mandriva tampil perdana Minggu sore (5/5) pada misa pukul 16.30. Penampilannya terasa istimewa bukan saja karena ia bermazmur dengan bidikan nada yang tak pernah meleset, tetapi juga karena dialah pemazmur paling belia di Komunitas Pemazmur Santa Bernadet.
Siswa kelas 5 SD Sekolah Abdi Siswa Bintaro yang biasa disapa Driva itu ketika berdiri di belakang podium untuk mendaraskan mazmur kakinya harus diganjal dingklik berukuran panjang 50 cm x lebar 25 cm x tinggi 40 cm, supaya bisa bernyanyi tepat di depan mik dan melihat umat.

Bukan hanya itu. Jubah pemazmur pun agak sulit mencari ukuran yang pas untuk Driva. Maka dengan izin khusus pendamping misdinar Bu Yuni dipinjamlah jubah misdinar ukuran paling kecil. Pak Yus, Pak Koster kita, ikut membantu memilihnya siang hari dan jubah itu disimpan di lemari sakristi untuk dipakai sore harinya.
Jadilah bocah perempuan berkacamata itu tampil meyakinkan dalam misa di Gereja Bernadet untuk mendaraskan mazmur dan Alleluia pengantar Injil di hadapan umat yang memadati gereja lantai atas sore itu. Semua lancar, tak ada kesan aneh walaupun ia memakai jubah misdinar dan berdiri di atas dingklik.

Usai misa ketika ditanya seorang bapak bagaimana rasanya tampil pertama sebagai pemazmur, Driva menjawab singkat sambil tertawa lebar, “Grogi,” meskipun mungkin tak seorang pun menangkap kesan seperti itu.
Terlahir 29 Mei 2008 dengan nama lengkap Odelia Mandriva Her Aristi, Driva adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Selain menyanyi ia juga memegang alat musik biola. "Penyanyi pujaannya sementara ini Michael Jackson," kata ibundanya, Intan Esticahyani, umat dari Fabiola 2, Pondok Serut, Tangerang Selatan.

Banyak pihak yang sebenarnya berperan melayani di balik penampilan perdana Driva Minggu lalu. Sebut saja misalnya Pak Edi Sarwono sebagai koordinator pemazmur yang sudah memohon izin ke Romo Lamma dan Ketua Seksi Liturgi Pak Yulianus Sunaryo untuk penampilan bocah 11 tahun itu. Pak Edi juga yang menentukan mazmur untuk Mandriva.
Koordinator lektor Mbak Lusi juga sudah memungkinkan penggunaan tambahan dingklik di mimbar, dan tentu saja semua pendamping dan pengurus pemazmur banyak terlibat dalam kelancaran tugas perdana Mandriva tersebut.
Berbakat dan rajin
Mandriva mulai mengorbit pada lomba pemazmur paroki beberapa watu lalu mewakili Wilayah Fabiola untuk kategori BIA. Karena semangatnya, ia mendaftarkan diri sebagai pemazmur Santa Bernadet dan kini tercatat sebagai pemazmur termuda.
Melatih Driva mendaraskan mazmur kesulitan utamanya bukan pada diri anak itu karena dia punya bakat menyanyi dengan modal suara dan teknik yang cukup baik. Lagipula, Puji Tuhan, Mandriva cepat tanggap terhadap apa yang dilatihkan dan diajarkan.
Persoalannya lebih pada masalah membagi waktu karena pada setiap latihan rutin pemazmur pelatih harus berkonsentrasi untuk pemazmur-pemazmur lain yang tak jarang mendapat umpan balik umat.

Driva sudah dipersiapkan untuk penampilan perdananya itu sejak sebelum Pekan Suci. Ia rajin berlatih, bahkan kelewat rajin.
Pernah, ketika ada gladi bersih 30-an pemazmur Kamis malam 11 April 2019 untuk Pekan Suci, salah seorang pelatih diminta menyampaikan pesan ke Driva agar tidak usah datang karena bocah itu belum ikut bertugas. Tetapi Driva malam itu tetap datang. Selidik punya selidik ternyata penyampai pesan lupa…
Teks & Foto: Rulianti, ps