
Pernahkah Anda merasa terganggu oleh ributnya anak-anak saat Anda khusuk Misa di gereja? Apakah Anda berusaha memaklumi perilaku mereka karena mereka? Bagaimana perasaan Anda bila yang ribut tersebut adalah remaja atau orang dewasa? Mungkin Anda merasa jengkel karena Anda menganggap mereka sudah bukan anak-anak tetapi tidak peka terhadap kebutuhan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita temukan banyak sekali perilaku yang dikategorikan sebagai perilaku yang tidak didasarkan kepekaan terhadap orang lain, seperti banyak orang merokok di tempat umum (rapat, doa bersama, kenduri) dan di kendaraan umum. Para perokok tersebut tidak peka terhadap pernafasan orang lain yang terganggu karena asap rokok. Kita juga sering mendapatkan orang-orang yang meludah di sembarang tempat, khususnya mereka yang sedang batuk. Mereka tidak peka dengan penyakit yang ditularkan kepada orang lain lewat ludah mereka.
Kita sering menemukan orang-orang dengan mudah memanaskan mesin kendaraan dengan menghadapkan knalpot ke rumah tetangga yang jaraknya sangat dekat. Mereka tidak sadar bahwa asap knalpot menimbulkan polusi udara bagi tetangga. Masih banyak ketidakpekaan sosial lain dalam hidup sehari-hari. Bagaimanakah kita meningkatkan kepekaan sosial kita?
Lawrence E. Shapiro dalam bukunya Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak (1997) menyatakan, kepekaan terhadap kepentingan orang lain harus dimulai sejak anak-anak. Karena kepekaan sosial bukan karena keturunan alamiah tetapi merupakan hasil belajar. Hal terpenting dalam mengajarkan kepekaan sosial adalah komunikasi antara orangtua dengan anak dan contoh dari orangtua.
Tahap awal upaya menumbuhkan kepekaan terhadap orang lain pada anak adalah melatih anak memiliki empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini bisa diajarkan sejak anak-anak berusia balita. Tentu dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, saat anak melihat temannya menangis, kita bisa menanyakan apa yang dilihat. Anak kita latih untuk mengetahui bahwa temannya tersebut menangis. Anak bisa kita tanya lebih lanjut apa yang menyebabkan teman menangis. Mungkin anak menjawab berbagai sebab. Di waktu lain saat anak melempar sesuatu secara sembarangan, kita bisa pura-pura kena dan pura-pura menangis, anak kita latih supaya tahu bahwa apa yang dia lakukan dapat membahayakan orang lain.
Selain itu, anak juga perlu dilatih untuk bertanggung jawab. Contoh setelah makan permen, anak harus meletakkan kulit permen ke tempat sampah. Akan lebih baik bila sejak kecil anak sudah diajarkan untuk memilahkan jenis-jenis sampah, dengan cara menyediakan beberapa jenis kotak sampah di rumah. Misalnya kotak untuk barang-barang yang masih mungkin dipakai lagi seperti kertas, kotak untuk barang-barang bekas yang terbuat dari kaca, sampah kering, dan sampah basah. Saat meletakkan sampah-sampah tersebut, kita bisa menjelaskan kepada anak bahwa kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat. Bila kita makan permen, maka kulit permen haruslah kita yang meletakkan di tempat sampah bukan orang lain. Orang lain akan sedih bila mendapat sampah kulit permen yang kita tinggal padahal orang tersebut tidak memakan permen.
Melatih kepedulian dan tanggung jawab atas perilaku kita juga bisa ditunjukkan saat anak sakit. Banyak anak yang menderita sakit yang tidak terlalu parah tetapi bersifat menular tidak menyadari bahwa penyakitnya dapat menyebabkan teman-temannya ikut sakit. Masyarakat kita cenderung mengajarkan saat anak sakit untuk tidak bermain atau tidak masuk sekolah supaya anak cepat sembuh. Sebenarnya akan lebih baik bila orangtua juga mengajarkan anak bahwa saat anak sakit (khususnya yang menular, seperti flu atau infeksi mata). Anak tidak boleh masuk sekolah selain supaya anak cepat sembuh dan supaya penyakitnya tidak menular ke teman-teman yang lain. Hal ini akan sangat baik bila orangtua dan guru bersama-sama menyadarkan ke anak sehingga anak tahu bahwa saat dia sakit, dia tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga sangat mungkin merugikan orang lain karena orang lain sangat mungkin tertular.
Kita bisa melatih anak mengenai kepedulian sosial dengan cara memberikan contoh. Misalnya saat kita duduk di dalam kendaraan umum, ada penumpang baru naik dengan anak yang lebih muda dari anak kita padahal semua kursi sudah diduduki. Kita bisa menawarkan ke anak tadi untuk berbagi tempat duduk dengan anak kita. Tentu saja kita yang dewasa harus siap berdiri.
Demikian juga saat kita membuka pintu untuk ruang yang harus selalu tertutup, kita bisa mencontohkan ke anak-anak, bahwa sangat baik bila kita tetap memegang daun pintu supaya tetap terbuka dan menyilahkan orang-orang lain lewat dulu baru kemudian kita menutup pintu itu lagi. Kita bisa menunjukkan betapa bahayanya bila kita segera melepaskan daun pintu yang kita pegang tadi tanpa mepedulikan orang lain di belakang kita yang mau lewat. Karena orang-orang di belakang kita bisa tertabrak daun pintu tersebut.
Anak juga perlu dilatih untuk mempunyai rasa malu dan bersalah untuk untuk hal-hal yang tepat. Kita dapat mengamati bahwa rasa malu dan bersalah sebenarnya merupakan konstruksi sosial (bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir). Dalam budaya yang membiarkan anggota masyarakatnya tidak menggunakan baju, orang-orangnya tidak akan pernah malu saat saling bertemu dengan telanjang. Demikian juga di dalam budaya yang mempunyai norma bahwa membunuh orang lain yang dicurigai sebagai musuh adalah suatu tindakan benar maka anggota masyarakat dari budaya tersebut tidak akan merasa bersalah saat membunuh orang yang dicurigai tersebut.
Dengan demikian, supaya anak-anak kita merasa malu dan bersalah saat mereka tidak peduli dengan orang lain, kita perlu mengajarkannya. Misalnya saat anak ribut di dalam Gereja saat orang lain berdoa, kita bisa mengatakan kepada anak tersebut bahwa hal itu memalukan karena orang-orang lain bisa duduk manis dia tidak bisa. Demikian juga saat seorang anak merebut mainan temannya, kita bisa mengajaknya untuk minta maaf karena dia telah membuat temannya sedih.
Bila anak-anak sudah dilatih sejak kecil untuk peka terhadap kepentingan orang lain, maka diharapkan dalam proses perkembangannya mereka akan menjadi generasi yang peduli pihak lain sehingga kita bisa menjadi lebih nyaman dalam hidup bersama. Siapkah para orangtua, guru, dan kita semua memberikan contoh dan melatih anak untuk peka terhadap orang lain? Semoga.
Dr Margaretha Sih Setija Utami Mkes
Sumber : Majalah HIDUP