Sebenarnya senam BEP bukan sekadar senam tetapi juga ajang silaturahmi. Di Pinang nama panjangnya Rumah Sehat BEP San Berna KG Plus, tapi biasa disebut BEP San Berna saja. KG adalah singkatan dari Kompas Gramedia, payung bernaung sebagian besar guru BEP ketika mereka masih aktif bekerja.

Hari Jumat (17/5) pada latihan bersama (latber) datang Pak Alex Sudarto (67), guru BEP yang rupanya selama ini diplot untuk melatih di Pinang. Kedatangan Pak Alex yang tinggal di BSD dan masih lincah naik vespa itu terasa jadi kejutan kecil sesudah hampir sebulan tidak hadir di Pinang karena sibuk melatih atau membuka pelatihan baru di tempat-tempat lain.
Ada alasan lain. BEP San Berna setelah setahun berjalan sudah punya 4 orang pelatih resmi sehingga, menurut Pak Alex, harus bisa disapih agar berlatih mandiri. Tiga di antara pelatih itu mengikuti Training of Trainers/TOT dengan restu penuh paroki Februari lalu. Sertifikat kelulusan mereka berlaku untuk melatih BEP secara nasional.

Hari Jumat itu Pak Alex mengajarkan “ilmu” baru, yaitu tentang kesinambungan rangkaian gerak senam agar energi tubuh tidak bocor sehingga bisa lebih bermanfaat untuk kesehatan.

Kesinambungan gerak itu, menurut Pak Alex, oleh guru BEP senior Mas Widyarto diibaratkan listrik yang on terus, sehingga energi mengalir tanpa henti. Namun kesinambungan gerak adalah proses yang tidak bisa dipaksa-paksakan. Tetap harus bertahap untuk mencapainya.
Penyembuhan diri
Senam Bio Energy Power (BEP) adalah kombinasi olah nafas dan olah gerak yang dirancang sesuai teori medis dengan tujuan membangkitkan atau mengoptimalkan kemampuan tubuh dalam mengobati diri sendiri baik fisik maupun psikis. Inilah pengertian senam BEP menurut penemu, pencipta, dan pendiri BEP Harry J Angga yang sudah dikutip dalam banyak sumber tertulis, baik cetak maupun digital.

Dengan kata lain senam BEP sebenarnya merupakan kegiatan yang bermanfaat untuk penyembuhan diri (self healing atau autotheraphy). Untuk mencapai manfaat tersebut peserta dilatih melakukan gerakan-gerakan dengan pola tertentu, diharapkan sesantai mungkin, syukur-syukur ada iringan musik penyaman suasana.

Idealnya senam BEP dijalankan setiap hari dengan melakukan rangkaian 3 jenis gerakan sederhana. Di latber San Berna senam dilakukan dengan 30 rangkaian 3 jenis gerakan tersebut nonstop dengan 6 pelatih secara bergantian.
Anjurannya kalau di rumah, karena suasana berbeda, latihan dilakukan pagi 15 rangkaian dan sore 15 rangkaian. Kepepetnya, pagi 10 sore 10 rangkaian sudah cukup.

Tapi berlatih di rumah memang membutuhkan niat bulat yang kuat karena tidak ada teman ber-ha-ha-hi-hi seperti halnya kalau latber. Kalau di Pinang peserta dan pelatih latber yang hadir rata-rata stabil 30-35 orang, bahkan ada yang dari Gereja Mateus, Laurensius, dan Ambrosius. Lumayan ramai dan akrab.

Beberapa peserta yang memberikan kesaksian mengatakan, di depan umum maupun bisik-bisik, setelah mengikuti senam BEP tubuh terasa lebih segar (fit), lebih gampang tidur, pelan-pelan bisa menggerakkan organ tubuh tertentu yang sebelumnya sulit diajak kompromi atau sakit kalau digerakkan, dan lain-lain.
Tiap Jumat
Seperti apa itu senam BEP memang tidak cukup diceritakan di sini. Yang penasaran harus vini dan vidi alias datang dan melihat sendiri dan ikut latihan. Di Aula Pinang senam ini diadakan tiap Jumat, mulai jam 09.00, paling lama satu setengah jam.




Meskipun merupakan kegiatan sub kategorial lansia Simeon-Hanna, senam BEP San Berna terbuka untuk siapa saja dan dari mana saja. Artinya tidak harus lansia dan tidak harus warga Gereja. Silakan datang. Gratis.
Teks: ps/Foto-foto: dokumentasi BEP San Berna.