Salah satu tugas prodiakon adalah memimpin Ibadat baik di lingkungan ataupun di gereja. Dan yang menjadi beban dalam memimpin ibadat biasanya adalah homili atau memberi renungan. Maka untuk mengatasi itu prodiakon harus banyak membaca buku buku rohani, dan alangkah baiknya ikut kursus Kitab Suci atau pendalaman Kitab Suci lainnya.
Hal tersebut diungkapkan Pak Bambang Hermanto, prodiakon senior yang menjadi salah satu pembicara dalam temu prodiakon St Bernadet, Kamis (30/5) di Gereja Pinang.
Pertemuan yang dimulai sekitar jam 11 siang seusai Misa Hari Raya Kenaikan Tuhan tersebut diikuti oleh 64 prodiakon. Sebagian prodiakon tidak bisa ikut karena berbagai urusan seperti sedang ziarah, ikut rekoleksi katekis, dan ada pula yang sudah pulang kampung karena libur panjang Hari Raya Idul Fitri.

Pertemuan tersebut dipandu oleh Bapak Petrus Maryana yang saat ini didapuk menjadi Wakil Koordinator atau Ketua 2 Prodiakon. Sedangkan materi pertemuan siang itu dibawakan oleh Bp Hindrata Lengki selaku Koordinator Prodiakon atau Ketua 1 dan Bp Bambang Hermanto.

Agenda pertemuan siang itu adalah mengulangi kembali bagaimana tata gerak prodiakon selama Perayaan Ekaristi, tata cara mengirim komuni orang sakit, ibadat kematian sampai pemakaman atau kremasi. Disisipkan pula spiritualitas prodiakon dan buku-buku panduan untuk membantu prodiakon dalam menjalankan tugas.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut Romo Lamma Sihombing CICM selaku Pastor Paroki. Dalam sambutannya Romo Lamm mengucapkan banyak terimakasih atas kerelaan bapak ibu prodiakon dalam membantu pastor paroki melayani umat, baik itu menerimakan komuni kudus dalam misa di gereja dan terlebih pelayanan komuni kudus untu orang sakit dan jompo.

Khusus untuk orang sakit dan jompo Romo Lamm berpesan agar sebelum memberikan komuni dipastikan bahwa umat yang bersangkutan dapat menelan hosti suci. Jika tidak memungkinkan diberikan utuh, dipotong sekecil mungkin, yang penting dapat tertelan. “Jangan sampai diberikan utuh tetapi tidak dapat ditelan atau dikeluarkan dari mulut, ini jangan sampai terjadi,” pesan Romo Lamm.

Teks & Foto: Bambang Gunadi