Menutup rangkaian Doa Rosario Mei 2019 Wilayah Ignatius Loyola berziarah ke Gua Maria Pohsarang dengan tema “Berbagi Berkat, Makin Berhikmat”.
Gua Maria Pohsarang (sering dilafalkan: Puhsarang) yang juga dikenal sebagai Gua Maria Lourdes Puh Sarang, berada di kompleks Gereja Pohsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Terletak di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dengan udara sejuk rata-rata 21-25 derajat Celcius, gua ini dari Kota Kediri berjarak sekitar 10 km arah barat daya.
Sebanyak 65 peziarah Wilayah Loyola yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua, berangkat menuju Pohsarang dari SPBU Maharta, 29 Mei 2019 pukul 21.00 dan sampai di Poh Sarang Hotel sekitar pukul 16.00 hari berikutnya.

Karena perjalanan panjang berbarengan dengan arus mudik lebaran terpaksa rencana mampir berziarah ke Gua Maria Asumpta di Ambarawa dibatalkan. Tidak ada masalah karena memang tujuan utamanya adalah Poh Sarang. Sempat berhenti sejenak untuk istirahat dan makan siang di Restoran Taman Sari Solo.
Setiba di Poh Sarang rombongan beristirahat sebentar sebelum makan malam bersama sekitar pukul 19.30 di ruang makan Poh Sarang Hotel, kemudian berdoa Rosario dengan ujub doa dari Panitia Bulan Rosario Gereja Santa Bernadet.

Kira-kira satu jam kemudian rombongan turun dari Poh Sarang Hotel menuju Goa Maria. Ternyata ribuan peziarah sudah mulai memadati area sekitar Gua Maria, padahal acara baru akan berlansung 1,5 jam kemudian.
Selain dari Jakarta, peziarah datang dari Indonesia Timur dan mayoritas dari Jawa Timur sendiri. Di area parkir ada sekitar 8 bus besar dan puluhan mobil pribadi berpelat nomor polisi Kediri dan sekitarnya, AG.

Tirakatan Jumat Legi
Di Gua Maria Poh Sarang selalu dilakukan Tirakatan Jumat Legi dengan rangkaian Doa Rosario, Misa Konselebrasi, dan Adorasi, pukul 22.00- 02.00 dini hari.
Tanggal 30 Mei malam menurut perhitungan Jawa sudah masuk hari Jumat Legi, sehingga “Peziarah dari Ciledug”— sapaan Lektor lokal kepada rombongan Loyola di akhir acara—mendapatkan kesempatan sangat berharga itu, Tirakatan Jumat Legi.

Setelah Doa Rosario ada pembacaan ujub (intensi) doa yang dituliskan sebelum sembahyang tesbeh tersebut dimulai. Ada panitia khusus yang menangani intensi ini. Mereka mengelompokkannya berdasarkan ujub-nya, misal untuk usaha, kesehatan, ungkapan syukur, dan lain-lain.
Doa-doa tertulis itu kemudian dibakar dalam dua tong besar di depan altar. Sudah barang tentu pembacaan doa-doa dengan beragam ujub tersebut makan waktu, sekitar 1 jam. Umat yang sudah menuliskan ujub tapi tidak sempat menyampaikan ke panitia tetap bisa membakarnya bersama-sama.

Setelah Doa Rosario dan pembakaran ujub doa, dipersembahkan Misa Syukur Konselebrasi 8 Imam. Koor dilayani karawitan Jawa yang untuk telinga orang Yogya-Solo terasa tidak biasa.
Peziarah non-Katolik
Ujub-ujub doa yang dibacakan tersebut ternyata tidak hanya datang dari umat Katolik tetapi juga dari saudara-saudari peziarah yang beragama lain. Pada hari-hari biasa, menurut seorang peziarah, banyak peziarah non-Katolik datang dan berdoa dengan cara mereka sendiri.

“Bagi kami lumrah kalau ada peziarah non-Kristiani datang dan berdoa dengan cara mereka,” kata seorang peziarah yang diamini oleh pedagang souvenir di sekitar gua. Katanya juga banyak warga dengan identitas pakaian tertentu yang sering datang ke tempat ini. Yang jual souvenir tasbih kaum Muslim pun ada.

Sesudah Adorasi selesai, ribuan peziarah—diperkirakan 5000-an—mulai membubarkan diri, meskipun ada juga yang tiduran di area Gua Maria.

Inilah Tirakat. Inilah Ziarah. Orang Jawa bilang Jiarah, siji sing diarah. Satu yang menjadi tujuan utama, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Teks & Foto: Hari Kristanto/KOMSOS