Hari Minggu, 23 Juni 2019 diperingati sebagai Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Biasanya hari raya tersebut digunakan oleh paroki-paroki untuk melaksanakan Penerimaan Komuni Pertama. Paroki Ciledug salah satunya dengan jumlah peserta sebanyak 173 orang.

Anak-anak calon penerima komuni tersebut berasal dari berbagai sekolah yaitu Sekolah Sang Timur, Abdi Siswa, Amore, Angelina, dan PERSINK (Persaudaraan Siswa-Siswi Negeri Katolik). Sejak pukul 07.30 para calon penerima komuni pertama sudah berkumpul di samping gereja. Mereka datang dengan didampingi oleh orang tua beserta keluarga lainnya.

Sambil menunggu peserta yang lain berkumpul ada yang mempersiapkan diri dengan merapikan pakaian, ada pula yang merapikan atribut yang dipakai seperti aksesori kepala bandana bunga untuk perempuan dan dasi kupu-kupu untuk peserta laki-laki.

Kira-kira 10 menit menjelang perarakan anak-anak dresscode warna putih itu sudah siap berbaris rapi di depan pintu masuk gereja.

Diiringi oleh paduan suara dari guru-guru sekolah Abdi Siswa, perarakan misa dimulai dari misdinar, prodiakon, romo dan diikuti oleh para peserta komuni pertama dengan membawa lilin. Wajah bahagia terlihat dari senyum yang mereka lemparkan ke umat yang melihat.

Sayangnya umat yang ada di dalam gereja banyak yang mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar ataupun video.

“Mengikuti perayaan Ekaristi itu full dari awal sampai akhir”, kata Romo Lamma dalam homilinya. Sebelumnya romo memberikan pertanyaan untuk dijawab oleh umat yang sudah menerima komuni mengenai apa rasanya menerima komuni? Ada yang merasa damai, tenang, sukacita, tetapi ada pula yang merasa biasa saja, yang penting terima komuni.

Tidak datang terlambat ke geraja, ikut Ekaristi dari awal sampai akhir, menjaga kerukunan antar sesama adalah salah dampak yang luar biasa dari menerima komuni. “Komuni yang kita terima itu menguatkan dan mendamaikan. Penghayatan komuni berdampak dalam hidup kita sehari-hari,” imbuh Romo Lamma.

Arti kata “Amin”
Suatu ciri khas Romo Lamma ketika homili adalah suka memberikan pertanyaan. Begitu pula beliau memberikan pertanyaan interaktif untuk para calon penerima komuni pertama. Tentunya anak-anak tersebut sangat antusias dan berlomba-lomba menjadi yang tercepat mengangkat tangan.

Salah satu pertanyaannya adalah apa arti kata “Amin”, yang jawabannya adalah setuju. Romo menjelaskan sedikit bahwa “Amin” berarti “ya”, “aku percaya”, “aku menerima Tuhan”. Maka Tuhan yang mengubah hidup kita, karena Tuhan sang penyelamat kita.

Sebagai manusia kita harus bersyukur memiliki iman kepada Allah yang menciptakan dan juga menyelamatkan. “Inti dari perayaan Ekaristi adalah perayaan cinta kasih yang menyelamatkan. Maka dari itu kita harus mewartakan cinta kasih dan juga menjadi berkat bagi orang lain,” jelas Romo Lamma. Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengupayakan kerukunan dan persaudaraan satu sama lain tanpa pandang bulu.

Menjadi berkat paroki
Peserta komuni pertama yang sangat banyak ini menjadi berkat bagi gereja Santa Bernadet. Penerima komuni pertama, juga keluarga yang mendampingi, merasa sangat bahagia.
“Ya senang banget lah, eyangnya dari Jawa sampai diminta hadir untuk menyaksikan,” kata Pak Agus, salah satu orang tua yang mendampingi putrinya.

“Saya sangat suka cita, terharu, dan degdegan banget, ternyata anak saya sudah besar,” ujar Bu Emmy Kristanto, ibu dari Ficia yang menerima komuni pertama.
Anak bernama Elisabeth Jenifer Sekar Nahak ketika ditanya memberi jawaban yang bisa membuat orang tersenyum geli. “Saya sangat senang menerima komuni pertama karena saya ingin jadi biarawati, dan hostinya juga enak,” ujarnya.

Romo Lamma menyampaikan juga rasa syukurnya bagi Paroki Ciledug. ”Tahun ini yang menyambut komuni 173 anak menjadi berkat dan karunia bagi paroki kita ini. Terima kasih kepada orang tua yang makin menyadari pentingnya komuni pertama untuk anak-anak. Sehingga mereka support anak-anak dalam pembinaan. Harapan Romo semoga anak-anak tetap didampingi untuk ke gereja.”

Suasana gereja Minggu lalu itu memang luar biasa meriah, apalagi dengan adanya tarian Persembahan anak-anak Sekolah Sang Timur asuhan koreografer Pak Nyoman yang beragama Hindu dan lagu lagu dengan iringan alat-alat musik tambahan oleh anak-anak Absis.
Beda Paroki
Karena mekanisme pendaftaran Komuni Pertama ini melalui sekolah dan bukan paroki, tidak semua peserta di Gereja Santa Bernadet berasal dari Paroki Ciledug. Ini terjadi karena murid di suatu sekolah bisa berasal dari berbagai paroki. Misalnya seorang siswa Sekolah Abdi Siswa yang berasal dari Paroki Bintaro mengikuti Komuni Pertama di Paroki Ciledug karena sekolah tersebut masuk teritori Paroki Ciledug.

Sebaliknya anak yang berasal dari Paroki Ciledug belum tentu menerima Komuni Pertama di Gereja Santa Bernadet, parokinya sendiri. Contohnya Tristan. Dia berasal dari Lingkungan Fabiola 1 Paroki Ciledug. Karena menjadi murid sebuah sekolah di wilayah Melati Mas, dia mengikuti Komuni Pertama di Gereja Ambrosius.
Selamat untuk adik-adik penerima Komuni Pertama tahun 2019. Tuhan memberkati.
Teks: Margaretha Elsa, Gabriela Laraswati, Bambang Gunadi/ Foto-foto: Carolus WA, Jassen Novaris, Arum/KOMSOS