Estafet kepanitiaan Natal-Paskah 2018/2019 dari Wilayah Albertus-Yohanes (AYO) ke Wilayah FX-Elisabet (FELIS) untuk tahun 2019/2020 berlangsung secara simbolis menjelang berakhirnya misa kedua, Minggu, 7 Juli 2019, di Gereja Pinang yang dipimpin Romo Lammarudut Sihombing, CICM.

Sesudah masing-masing ketua panitia memberikan kata sambutan, Romo Lamma menyampaikan bahwa pelayanan sejati terjadi jika kita bersedia direpoti dan merepotkan orang. “Saling merepotkan untuk karya Tuhan. Jadi Tuhan akan tersenyum, daripada Tuhan sendiri yang repot? Kalau kita mau repot, pasti Tuhan akan tersenyum,” kata Romo Lamma memancing gelak senyum umat.

Sesudah itu Romo Lamma mempersilakan Wakil Ketua DPH, Aritasius Sugiya, naik ke mimbar untuk memberikan apresiasi kepada AYO dan sambutan bagi panitia yang baru. Dengan suara penuh semangat, Pak Ari mengucapkan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada Wilayah Albertus dan Yohanes.
Pak Ari mengatakan, kedua wilayah itu dengan spirit AYO-nya telah menggelorakan dinamika umat kita. “Sukses dan terima kasih, apresiasi tinggi kepada Tim AYO yang telah membuat perayaan Natal dan Paskah berjalan dengan lancar,” kata Pak Ari disambut tepuk tangan umat.

Berbicara atas nama umat dan DPH, Pak Ari lalu menyampaikan permohonan maaf jika dalam melayani kurang berkenan atau banyak merepotkan umat yang lain. Dia berjanji, dengan semangat transformatif akan berusaha untuk selalu memperbaiki diri dalam pelayanan.
Tentang Tim FELIS, kata Pak Ari, semula sempat diragukan karena jaraknya yang begitu jauh antara kedua wilayah itu. “Tetapi justru dalam jarak yang begitu jauh itu kita didekatkan, sehingga saling mengenal antara FX dan Elisabet,” katanya.

Dengan kepanitiaan FELIS, Pak Ari berharap, ke depan semangat dan dinamika umat akan berjalan dengan baik berkat bantuan kemurahan Tuhan dan kerahiman Ilahi. Ia pun lalu meresonansi ulang pesan Romo Lamma, ”Selamat merepotkan kami semua dan terus terang kami semua siap untuk direpotkan. Supaya apa? Supaya Tuhan tetap tersenyum…” Umat pun tepuk tangan lagi.

Romo Lamma dari panti Imam masih menyambung, “Merepotkan dan direpoti, itulah hidup. Hidup harus mau merepotkan dan mau direpotkan. Kalau nggak mau, nanti kita akan menyanyi begini, Tuhan berikanlah istirahat…”
Mendengar Romo Lamma bersenandung lagu kematian itu, umat tak bisa bereaksi lain kecuali tergelak sebelum menerima berkat.
Teks: ps/ Foto-foto: Hari Kristanto/KOMSOS