Ada pemandangan yang berbeda pada Misa Hari Minggu 25 Agustus 2019 jam 08.30 di Gereja Santa Bernadet Pinang. Anak-anak yang biasa mengikuti sekolah minggu di Aula dibawa masuk ke Gereja, bahkan disiapkan empat baris bangku di bagian depan di tenda atas.

Menurut Ibu Fenny Komarudin, Pembina BIA Paroki Ciledug, yang biasa disapa Bu Fenny, kegiatan ini merupakan bagian dari pengajaran sekolah minggu. “Selain anak-anak diberi pelajaran dasar tentang iman Katolik lewat lagu-lagu dan bacaan Kitab Suci, anak-anak juga harus mengenal liturgi Ekaristi dengan mengikuti Misa Kudus di gereja,” jelas Bu Fenny.

Jadi dalam pengajaran BIA atau sekolah Minggu itu, kata bu Fenny, sudah disusun panduannya dari Keuskupan Agung Jakarta, semacam kurikulum.

Dalam pengajaran setiap minggu semuanya sesuai dengan kalender liturgi, baik bacaan Kitab Suci, lagu-lagu dan aktivitas nya. “Nah, untuk mengikuti Misa Kudus dalam 1 tahun disediakan 3 kali, yakni Misa Natal, Misa Paskah, dan satu kali Misa masa biasa. Harapannya anak-anak sejak dini sudah mengenal sikap dan tata gerak serta doa doa dalam Misa Kudus,” kata Bu Fenny lagi.

Anak-anak pun dilibatkan dalam tugas liturgi Misa minggu itu. Koor dari BIA Wilayah Paulus dengan iringan biola, petugas tata laksana dari BIA Wilayah Monica, petugas persembahan dengan tarian Dayak dari BIA Wilayah Anna.



Sementara itu pemazmur Mandriva yang masih duduk di bangku sekolah kelas 6 SD. Lektor juga anak-anak BIA meski mereka tetap didampingi lektor senior saat bertugas. Entah kebetulan atau disengaja, Misa di lokasi lain, yaitu di Metro Permata jam 5 sore tugas koor oleh BIA Sesilia.

Romo Yeremias, CICM, yang memimpin Misa pagi itu mengungkapkan, “Lewat aktivitas Bina Iman yang terlibat dalam Misa pagi ini suguh menggembirakan. Meski saya baru sekali Misa di Gereja ini. Ini sesuatu yang positif.”
“Saya selalu mengikuti persoalan dan perkembangan Gereja (Santa Bernadet, Red) ini. Tetaplah semangat dan berusaha, biarlah Tuhan yang mengatur,” ungkap Romo Yeremias CICM yang kini bertugas di Makassar, dan 2 tahun terakhir di pedalaman Kalimantan itu.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Carolus Wahyu