Sakramen Baptis adalah yang paling pertama diterima dalam kehidupan setiap manusia dan bukti konkret dari janji sepasang suami-istri ketika menerima Sakramen Pernikahan bahwa bila dikaruniai anak , maka mereka berjanji akan “membawa anaknya untuk dibaptis dan menjadi pengikut Kristus”. Janji itu direalisasikan di hadapan keluarga besar yang menyaksikan pernikahan dan janji tersebut.
-ok_2.jpg?1568981881450)
Pada hari Minggu (15/9), pasangan Glorius Atma Tiopan Manurung dan Laura Hutabarat membaptiskan anak pertamanya, Elizabeth Zelda Manurung, di Gereja Santa Bernadet Pinang bersama orangtua dari 10 anak lainnya. Imam yang membaptis anak-anak waktu itu adalah Romo Manuel V Valencia, CICM.
Usai ibadat baptisan tersebut, di rumah keluarga Bp Sunten Z Manurung, orang tua Tiopan, Bangun Reksa Indah 2, dilangsungkan serangkaian acara syukuran khas keluarga Batak. Terbatas orang-orang yang diundang, khususnya anggota keluarga terdekat saja.

“Kalau di kampung, tetangga akan datang dengan spontan karena tahu ada pesta makan-makan karena semua ikut gembira seorang anak menambah jumlah dalam gereja,” kata Bu Herawaty Manurung, yang akrab disapa Bu Hera, ompung boru atau nenek dari Zelda Manurung.
Sedang di rumah Bangun Reksa, kata Bu Hera, yang berkumpul hanyalah keluarga Pak Sunten Manurung, keponakan-keponakan, keluarga besan, Hutabarat berikut kerabat dekatnya.

Seperti diceritakan oleh Bu Hera, sesuai adat Batak, keluarga pihak pria (Keluarga Manurung) menyerahkan seekor babi tanda kegembiraan pesta yang dinikmati/dirayakan bersama dan pihak wanita/orangtua Laura (Keluarga Hutabarat, besan) memberikan ikan mas yang juga maknanya untuk melengkapi acara makan-makan bersama keluarga besar.
Keluarga Hutabarat juga membawa beras di dalam tandok, semacam karung kecil dari daun pandan, yang intinya keluarga kumpul semua untuk merayakan hari istimewa ini.
Kedua pihak, keluarga Manurung dan Hutabarat duduk berhadapan, maksudnya saling menghormati. Ada sepiring besar ikan mas yang diarsik dan jumlahnya ganjil, 3 atau 5, sepiring besar “seekor anak babi yang lengkap”, kemudian saling menyerahkan tudu-tudu sipanganon, makanan untuk dinikmati keluarga besar.
Pihak perempuan mangulosi, yaitu memberi ulos kepada Elizabeth Zelda, anak yang baru dibaptis, sebagai lambang kasih sayang dengan iringan doa atau harapan semoga dijaga dan dilindungi Yang Maha Kuasa. Setelah mangulosi, memberikan ulos dan menaruh beras di atas kepala Zelda, lambang gemah ripah loh jinawi, selalu beroleh pangan seterusnya.

Keluarga Hutabarat juga membawa beras di dalam tandok, semacam karung kecil dari daun pandan, yang intinya keluarga kumpul semua untuk merayakan hari istimewa ini.
Kedua pihak, keluarga Manurung dan Hutabarat duduk berhadapan, maksudnya saling menghormati. Ada sepiring besar ikan mas yang diarsik dan jumlahnya ganjil, 3 atau 5, sepiring besar “seekor anak babi yang lengkap”, kemudian saling menyerahkan tudu-tudu sipanganon, makanan untuk dinikmati keluarga besar.

Pihak perempuan mangulosi, yaitu memberi ulos kepada Elizabet Zelda, anak yang baru dibaptis, sebagai lambang kasih sayang dengan iringan doa atau harapan semoga dijaga dan dilindungi Yang Maha Kuasa. Setelah mangulosi, memberikan ulos dan menaruh beras di atas kepala Zelda, lambang gemah ripah loh jinawi, selalu beroleh pangan seterusnya.
“Menarik bahwa peristiwa keagamaan sangat erat dengan budaya lokal. Filosofinya untuk merayakannya adalah gotong royong, saling bawa makanan untuk ‘menu utama’, yaitu lauk pauk/ ikan dan daging dari keluarga inti yang punya hajat, keluarga lain ngelengkapin, nambah-nambahin sesuai dengan kemampuan,” kata Bu Hera lebih lanjut.
“Adat ini masih berjalan dalam situasi yang disesuaikan dengan keadaan,” imbuh Bu Hera tentang salah satu kekayaan adat istiadat budaya nusantara itu.

Beberapa warga komunitas Simeon-Hanna Santa Bernadet yang diundang hadir untuk ikut bersyukur dan bersukacita, khususnya dengan menikmati hidangan-hidangan khas Batak.
Teks: ps, hm/Foto & Video: dokumentasi keluarga.