Judul tulisan di atas itulah kira-kira ide dasar yang dihadirkan oleh Wilayah Agustinus dalam mengikuti lomba Menghias Altar. Tampilan dekor altar untuk Misa Kudus , Sabtu-Minggu (12-13 Oktober) tersebut, selain untuk menyongsong peringatan Hari Pangan Sedunia, rupanya dimaksudkan juga untuk memindahkan suasana alam pedesaan ke altar.
-OK.jpg?1571159011784)
“Sebagian besar kami berasal dari desa. Karena tugas demi sesuap nasi terdamparlah di wilayah Ciledug. Semoga gereja yang kita inginkan cepat terwujud, indah seperti di Yogya,” ujar Pak Broto yang didapuk sebagai koordinator dari seluruh kegiatan ini.
-ok.jpg?1571159091262)
Kalau melihat hasilnya, sudah terbayangkan pasti banyak umat Wilayah yang terlibat. Benar saja, dengan persiapan 3 minggu, mulai dari pengumpulan bahan, pembagian tugas sesuai keahlian masing-masing ditambah imbauan terus-menerus kepada semua umat wilayah bahwa sekecil apapun sangat diharapkan peran sertanya dan, Puji Tuhan, banyak umat yang tergerak.

Buktinya, seperangkat kursi jadoel, rangkaian janur berbagai bentuk, banyaknya jenis palawija, buah, dan sayur yang disajikan, tanaman bonsai yang berjajar, beberapa buah sepeda ontel, yang semuanya dibawa dan diangkut dari lokasi tempat tinggal yang cukup jauh dari Gereja. Belum lagi tersedianya makanan dan minuman yang cukup beragam tersaji selama pembuatan di rumah-rumah umat dan di gereja dari hari Kamis sampai Minggu.
-ok.jpg?1571159321082)
Ditanya kenapa yang bekerja kebanyakan bapak-bapak, seorang ibu menjawab, ”Para emak tugasnya belanja ke pasar Lembang, mencari segala keperluan. Jadi bapak-bapak di gereja, para emak bolak-balik ke pasar Lembang sampai jam 24.00. Terakhir kemarin cari waloh sampai jam 23.00 ha-ha-ha. Tapi kami seneng dan semangat 45.”

Dari banyaknya orang yang berswafoto dan mengabadikan hasil dekorasi, serta menyebarkannya ke grup-grup WA, jelas bahwa banyak umat yang menikmati dan mengaguminya. Misalnya saja tim PSE yang setelah koor sempat mengabadikannya, lalu ada tim koor yang sedang berlatih, juga koor Antonius yang bertugas Minggu sore silih berganti minta difoto dekat sepeda tua di tenda bawah, dan entah berapa banyak umat lain lagi.

“Indah, njawani, kembali ke budaya lokal, kreatif, nyeni… koyok mantenan,” kata mbak Tanti dari Fabiola.
-ok.jpg?1571159671411)
“Keren… seneng lihat dekornya. Tidak kalah menarik dengan dekor bunga pada umumnya. Pasti bangga ya karena hasil bumi Indonesia sungguh beraneka ragam. Salut juga untuk tim dekor yang penuh ide dan kreasinya, apalagi ada air mancur/aliran air, sehingga benar-benar terlihat alami,” kata Ibu Maria Antonia yang sempat berfoto bareng koor PSE yang bertugas hari itu.

Pak Broto berpendapat, tujuan dari penyelenggara dekorasi altar, yaitu Seksi Lingkungan Hidup Paroki, terwujud sudah.
-ok_1.jpg?1571160173349)
“Saya memuji yang punya ide dan gagasan lomba ini, bisa membaca dan menggerakkan umat yang masih memegang budaya Jawa dan nuansa desa yang subur. Untuk itu tolong sampaikan seandainya Gereja terbangun jangan tinggalkan budaya penghuninya,” kata Pak Broto mengakhiri perbincangan.


Proficiat Wilayah Agustinus
Proficiat Penyelenggaraa Lomba, Seksi Lingkungan Hidup.
Teks: Arum Pranastuti/ Foto-foto/ Video: Wilayah Agustinus