Mahasiswa Atma Jaya Jakarta Diarahkan untuk Menjadi Inklusif

16 Oktober 2019
  • Bagikan ke:
Mahasiswa Atma Jaya Jakarta Diarahkan untuk Menjadi Inklusif
Tim Atma Jaya foto bersama Romo Noel usai misa, Minggu (13/10).

Saat-saat sekarang ini di lingkungan Gereja Santa Bernadet Pinang ramai bertebaran spanduk-spanduk promosi penerimaan peserta didik baru dari lembaga pendidikan berbagai jenjang.

Ada yang sekadar pasang spanduk, tapi ada juga yang model jemput bola dengan membuka stand seperti Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Minggu (13/10). Ini untuk kedua kalinya, sejak kedatangan tim Atma Jaya ke Pinang pada tahun 2016.

Di stand tersebut orang bisa mendapatkan brosur, bertanya, berkonsultasi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi Katolik itu.

WhatsApp Image 2019-10-13 at 22.33.17-ok

RD Yogo Prasetianto dan RP Manuel V Valencia, CICM (Romo Noel).

Pembukaan stand tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari paket promosi dalam kemasan pelayanan liturgis oleh Unit Kegiatan Khusus Pastoran Atma Jaya (UKK PAJ). Tim promosi terdiri dari Pastor Pendamping RD Albertus Yogo Prasetianto, Wakil Rektor Bidang 1 Dr. Phil. Juliana Murniati, M.Si, dan kelompok Paduan Suara Gema Atmajaya.  

Bersama Romo Manuel V Valencia, CICM, Romo Yogo mempersembahkan misa Minggu (13/10), pukul 08.30. Dr. Juliana yang mendapat kesempatan berbicara sebelum misa berakhir mengatakan bahwa Pastoran Atma Jaya menyelenggarakan pelayanan-pelayanan sakramental dan pastoral seperti di paroki.

“Bukan paroki tetapi aktivitas di paroki ada di sana. Sejauh yang saya ingat, rasanya satu-satunya sakramen yang belum pernah diberikan di Atma Jaya hanya Sakramen Perkawinan,” kata Dr. Juliana.

WhatsApp Image 2019-10-13 at 22.32.31-ok_1

Dr. Phil. Juliana Murniati, M.Si, Wakil Rektor Bidang 1, UAJ Jakarta.

Pengajaran untuk Katekumen dewasa, penerimaan Komuni Pertama, Pengakuan Dosa, dan Penguatan/Krisma dilayani di UKK PAJ. “Semua kegiatan kerohanian itu dikelola oleh mahasiswa, termasuk Natal dan Paskah. Lulusan Atma Jaya juga ada yang menjadi anggota tarekat atau kongregasi,” jelasnya lagi.

Menjadi inklusif

Meskipun para mahasiswa katolik Atma Jaya mengelola kegiatan-kegiatan rohani, mereka tidak lalu diarahkan menjadi kelompok eksklusif, melainkan inklusif atau merangkul semua pihak, khususnya melalui kegiatan-kegiatan non-kurikuler.

Ada dua nama yang disandang sekaligus, kata Dr. Juliana, yaitu Universitas sekaligus Katolik. “Double universality,” katanya. Universitas berarti lembaga pendidikan yang sifatnya umum, sedang Katolik juga berarti umum. Karena itu mahasiswa Atma Jaya diarahkan menjadi inklusif.

Untuk mencegah eksklusivitas, Universitas Atma Jaya mewajibkan mahasiswa menambah 15 SKS untuk bisa lulus Sarjana Strata 1. Ada program  live in.

WhatsApp Image 2019-10-15 at 19.59.49-ok

Romo Yogo menerimakan Sakramen Maha Kudus.

“Nah di dalam program kurikuler dan non-kurikuler, ini kan kami syaratkan untuk wajib  lulus bersama-sama. Di seluruh universitas di Indonesia untuk lulus minimal 144 SKS untuk S1. Atma Jaya mewajibkan 15 SKS tambahan untuk satuan kredit partisipasi di kegiatan non-kurikuler dan tidak harus terpusat di kegiatan Katolik,” jelasnya.

Dr. Juliana menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan untuk mengarahkan agar mahasiswa menjadi inklusif berlangsung di ketiga kampus Atma Jaya, yaitu Kampus Semanggi, Kampus Pluit, dan Kampus BSD, Cisauk.

Kampus Pluit merupakan satu-satunya kampus yang ada Fakultas Kedokteran, termasuk untuk profesi dan farmasi, dan Ilmu Kesehatannya, sementara di kedua kampus lain ada semua program studi.

Ajaran Sosial Gereja

Menyinggung Kampus Semanggi yang sering  diberitakan sebagai “kampus demonstrasi”, Dr. Juliana mengatakan, bukan berarti bahwa mahasiswa-mahasiswa Atma Jaya itu ahli demonstrasi. “Itu pilihan sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja, preferential for the poor."

WhatsApp Image 2019-10-15 at 20.05.56-ok

Standing banner Unika Atma Jaya di Taman Gereja Pinang.

“Berpihak pada orang yang membutuhkan, orang yang tidak beruntung. Atma Jaya menjadi tempat penampungan mahasiswa-mahasiswa lain yang mengalami luka. Jadi kami menjadi tempat untuk (karya) kemanusiaan,” katanya.

PS Gema Atmajaya

Paduan Suara Gema Atmajaya dibentuk 5 Mei 2015 pada saat Ulang Tahun ke-55 Universitas Atma Jaya. Anggota Paduan Suara terdiri dari karyawan, dosen, mahasiswa, bahkan almuni universitas. Nama Gema Atmajaya diberikan oleh Bapak Uskup Ignasius Kardinal Suharyo.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini sudah terlibat dalam Pelayanan Ekaristi di hampir seluruh gereja di Keuskupan Agung Jakarta, bahkan sampai Bogor dan Lampung.

stand-ok_1

Stand informasi penerimaan mahasiswa baru UAJ Jakarta. 

“Pelayanan ini sebagai ungkapan kasih dan sapaan kepada Gereja-gereja  Katolik di Keuskupan Agung Jakarta dan sekitarnya,” kata Paulus Chandra, ST, alumnus Atma Jaya yang kini menjadi dirigennya.

 

Teks, Foto, Video: Hari Kristanto, ps/KOMSOS/ Dekorasi Altar: Wilayah Agustinus

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna