KPKS Santo Paulus adalah Kursus Pendidikan Kitab Suci di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Mengutip laman kpks-santopaulus.info kursus ini bertujuan memberikan pengetahuan, keterampilan, dan spiritualitas Kitab Suci sehingga peserta mampu ikut menjawab kebutuhan Gereja sehubungan dengan pewartaan sabda Tuhan.

Selain itu KPKS St Paulus juga mempersiapkan lulusan yang dapat mendampingi umat, baik dalam pertemuan, doa, ibadat, serta pendalaman iman di lingkungan, maupun dalam pendalaman Kitab Suci.
Sejak tahun 2015 lembaga kursus yang berpusat di daerah Tebet, Jakarta Selatan, ini membuka Cabang di Tangerang, tepatnya di Kampus Universitas Katolik Atma Jaya BSD. “Kursus ini berlangsung selama 3 tahun, jadi kami mulai belajar itu tahun 2016,” ungkap Bapak Gatot Untoro salah satu wisudawan dari Paroki Ciledug.
-ok.jpg?1571662315836)
Jumat, 18 Oktober 2019, bertempat di Gereja Santo Laurensius Alam Sutera, diadakan Wisuda untuk 104 peserta didik angkatan ke-2.
Dalam sambutannya Kepala Sekolah KPKS St Paulus Cabang Tangerang Romo Lukas Sulaiman OSC menyampaikan harapannya:
“Wajah cerah dan kegembiraan Anda menggambarkan rasa terbebas dari beban PR dan ujian yang selama tiga tahun Anda hadapi. Maka hasil jerih payah dan kerja keras Anda jangan digenggam sendiri tetapi dibagikan kepada lebih banyak orang. Semoga Anda sekalian juga mau terlibat dalam karya pelayanan di Paroki masing-masing, terlebih pada pelayanan Kerasulan Kitab Suci.”
-ok.jpg?1571662381137)
Rangkaian acara Wisuda diawali dengan Misa yang dipimpin oleh Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, sebagai selebran utama didampingi Romo Bernadus Yusa Bimo Hanto OSC Pastor Paroki Serpong, RD Yosef Natalis Kristianto Pastor Paroki Vila Melati Mas , Romo Lukas Sulaeman OSC, RD Hardijantan Dermawan, pengajar di KPKS, dan RD Kristoforus Lucky Nikasius, Pastor Paroki Bintaro Jaya

Misa yang dimulai pukul 17.00 tersebut dihadiri juga oleh para keluarga wisudawan dan beberapa rekan angkatan sebelumnya. Dari gereja Santa Bernadet tampak hadir Ibu Lusi, Ibu Melati, dan Ibu Dyahretno yang merupan peserta kursus angkatan 1.
Di tempat paduan suara tampak pula Bapak Margo Yuwono yang akrab disapa Pak Margot yang tergabung dalam Magnificat Choir yang dipimpin Bapak Andra dengan dirigen Ibu Wulan. Sebagai lektor dalam Misa tersebut Ibu Veronica Etty Iswanti, Ketua Seksi Kerasulan Kitab Suci Paroki Ciledug.

Dalam homilinya Uskup Ignatius Kardinal Suharyo mengucapkan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan kursus selama 3 tahun, bukan saja bersama para Romo yang hadir tetapi juga bersama para Romo se-Dekenat Tangerang 1 dan 2. “Perjuangan dan persahabatan Anda bersama teman-teman seangkatan tentu menjadi persembahan kepada Tuhan,” kata Kardinal Suharyo.
“Dalam Gereja Katolik itu ada Imam yang di dalamnya ada Paus, Uskup, Pastor, ada biarawan dan biarawati, yakni Bruder dan Suster, serta awam. Awam itu ya bapak ibu semua. Nah tugas perutusan kaum awam itu menyucikan dunia. Berat ya memang berat,” ucap Bapak Uskup.

“Nah semoga dengan menyelesaikan kursus ini Anda siap menerima perutusan itu. Apa yang harus kita lakukan, yakni agar lingkungan di sekitar kita menjadi lebih manusiawi dan kristiani. Entah sebagai politisi, pengusaha, karyawan, guru, intinya adalah belarasa,” tegasnya.
Dalam wawancara terpisah, Uskup KAJ itu mengatakan, Gereja Katolik melalui Konsili Vatikan II mengatakan, “Bagi kaum beriman kristiani jalan menuju Kitab Suci harus terbuka lebar-lebar. Masalahnya hal ini sudah terlalu lama terkunci dan tertutup rapat, maka butuh perjuangan untuk membukanya."
-ok.jpg?1571662773127)
"Maka KPKS Santo Paulus diadakan untuk membantu umat supaya dengan tepat dapat menggali nilai-nilai dan pesan-pesan iman yang terkandung dalam Kitab Suci. Semoga dengan demikian harapan Gereja agar pintu masuk ke dalam Kitab Suci terbuka lebar-lebar sungguh-sungguh dapat dirasakan oleh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta ini," imbuh Bapak Kardinal.

Puncak acara Wisuda berupa pengalungan medali oleh Uskup Ignatius Kardinal Suharyo dan penyerahan sertifikat tanda kelulusan oleh Kepala Sekolah KPKS Tangerang Romo Lukas Sulaeman OSC. Acara yang digelar setelah Misa di Aula Gereja St Laurensius tersebut dilanjutkan dengan ramah tamah.
Dari 104 wisudawan angkatan ke-2 ini ada 4 wisudawan dari Paroki Ciledug Gereja St Bernadet, yakni Ibu Irene Santi Widi Astuti dari Wilayah Petrus, Ibu Angelina Lily dari Wilayah Elisabet, Bapak Donald Richard Vetter dari Wilayah Monica dan Bapak Crissantus Gatot Untoro dari Wilayah Thomas.

Salah satu wisudawan, Ibu Irene Santi Widi Astuti, mengungkapkan rasa bahagia dapat menyelesaikan kursuti selama tiga tahun ini. “Saya sadar tidak tau apa-apa, hanya pingin ikut saja tanpa ada yang menyuruh dan mengajak, tetapi setelah dijalani menjadi tertarik untuk ikut sampai selesai. Bahkan saya masih pingin ikut belajar lagi untuk hal lain tentang Kitab Suci,” katanya.

“Dalam kursus ini kami tidak saja belajar tentang Kitab Suci tetapi kami juga belajar tentang iman Katolik , Kredo , Teologi Gereja dan Sakramen. Maka setelah saya belajar di KPKS, saya menjadi lebih paham tentang iman Katholik, lebih memahami dasar kepercayaan kita dalam Credo. Selain itu saya menjadi sadar memahami bahwa kita mendapat tugas pewartaan agar semakin banyak umat Katolik mengenal dan mencitai Kitab Suci. Di sana kami juga diterangkan makna dari simbol tata liturgi ibadat dan sakramen,” imbuhnya.

“Tentu porsi belajar tentang Kitab Suci jauh lebih banyak, kepada kita juga diajarkan untuk membuat renungan Kitab Suci sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Kita juga berlatih untuk membedah teks dalam Kitab Suci, sehingga kita menjadi paham bagaimana penulis ingin menyampaikan pesannya. Maka setelah ini diharapkan kami berani menyampaikan suatu kisah dalam Kitab Suci baik berbentu tulisan dan video,” jelasnya lagi. Hal ini diamini oleh ketiga wisudawan lainnya.
-ok_1.jpg?1571663664499)
Pak Gatot Untoro menambahkan, “Sebelum mengikuti kursus ini saya sudah merasa tahu banyak tentang Kitab Suci dan agama Katolik. Tetapi nyatanya setelah saya mengikuti kursus ini semakin banyak yang saya belum tahu. Maka selama 3 tahun kursus ini kalau sampai nggak masuk itu rasanya sayang banget.”
Teks: Bambang Gunadi/Foto-foto: Jassen Novaris/KOMSOS