Salah satu topik pembicaraan hangat Panitia Krisma dari Wilayah Kristoforus menjelang penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santa Bernadet, 3 November 2019 lalu, adalah apa kesukaan makanan atau santapan Bapak Uskup Kardinal Ignatius Suharyo.

Maka panitia pun lalu “bergerilya”, tanya kanan-kiri, khususnya dengan mereka yang pernah ikut makan dalam pesta-pesta Uskup KAJ itu maupun orang-orang dekat yang informasinya bisa dipercaya.

“Makanan tradisional, seperti pecel dan ubarampe (kelengkapan)-nya, peyek, tempe dan tahu goreng bacem. Ya yang begitu-begitulah,” kata salah seorang yang beberapa kali mengikuti pesta atau perayaan khusus Bapak Uskup.


Tentu yang dimaksud pecel di sini bukan pecel lele atau pecel ayam seperti yang dijual di warung-warung tenda di Jakarta dan sekitarnya itu, melainkan pecel ndeso, yang ada di desa-desa di Jawa, yang banyak unsur sayurannya dengan sambel pecel. Meskipun panitia tidak menyajikan pecel yang seperti itu, ada urap yang unsur sayurannya umumnya sama dengan pecel ndeso.

Untuk makan besar, kata pengemudi Bapak Uskup, Pak Leo, “Pokoknya masakan Jawa.” Maka bagi panitia paling mudah ya menyajikan gudeg, lengkap dengan opor ayam, sambal krecek, telor, tempe bacem, dll.


Terus apa snack atau kudapan yang jadi kesukaan beliau? “Bapak Uskup suka pisang raja. Kalau untuk snack-nya ya yang rebus-rebus gitu, kayak pisang rebus atau ubi merah rebus. Minumnya teh Tong-Tji,” kata Ketua Lingkungan Kristoforus 1, anggota panitia, yang mendapat informasi dari Pak Leo.

Dan ketika tiba makan siang di ruang PPRI, Bapak Uskup memang tidak langsung makan nasi, melainkan lebih dulu menikmati teh hangat dan ubi/pisang rebus sambil ngobrol dengan Romo Lamma dan Pak Ari Sugiya. Beliau bahkan makan nasi belakangan setelah mempersilakan anggota DPH, Panitia Krisma, dan awak Komsos makan lebih dulu.
Teks: Josef, ps/ Foto-foto: Kevin Meydio, Bambang Gunadi, Rawuh/Panitia