Dari sisi jurnalistik, Misa Penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santa Bernadet 3 November 2019 mempunyai nilai-nilai berita (news values) tinggi. Oleh sebab itu, peristiwa tersebut layak, bahkan harus, diliput dan disiarkan.

Nilai-nilai berita yang dimaksud itu adalah, pertama, peristiwa tersebut melibatkan orang-orang penting atau terkemuka (mengandung nilai berita prominent), yaitu Uskup Ignatius Kardinal Suharyo dan Pastor Kepala Paroki Ciledug Romo Lammarudut Sihombing, CICM. Kedua, pesertanya berjumlah besar (magnitude), 148 orang, dengan persiapan lama yang melibatkan banyak pihak, baik perseorangan, komunitas maupun lembaga. Ketiga, bagi semua peserta, Penerimaan Sakramen Krisma adalah sesuatu yang baru (new), bahkan hanya sekali seumur hidup.

Keempat, memiliki dampak (impact) luas dan penting karena menyangkut perkembangan iman sedemikian banyak peserta yang akan ikut menentukan masa depan Gereja. Kelima, di era digital ini peristiwa tersebut punya kelayakan disebarkan (shareability) lewat Facebook, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya untuk menjangkau audience (netizen atau warganet) yang lebih luas agar mendapatkan respons.

Mungkin masih ada nilai-nilai berita lainnya. Tetapi intinya, dalam kaidah jurnalistik, semakin tinggi jumlah nilai beritanya, suatu peristiwa semakin layak disebarluaskan.

Awak Seksi Komsos yang meliput dan menyiarkan peristiwa Penerimaan Sakramen Krisma tersebut baik berupa tulisan, foto, maupun video, entah disebar lewat website maupun medsos (multimedia), tetap dituntut profesional. Artinya mereka menulis berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik standar dan terampil menggunakan peralatan liputan lain secara jurnalistik pula.


Misalnya, seorang fotografer berbeda dengan tukang foto, oleh sebab itu ia harus mengambil gambar sesuai dengan kepentingan audience sasaran karena kepada merekalah pelayanan diberikan. Bukan asal jepret sesuai selera pribadi atau hanya membidik orang-orang yang disukainya. Begitu pula pengambil gambar dengan video bukan lagi sekadar video maker (tukang bikin video) tetapi harus mengambil posisi sebagai video journalist.

Semuanya itu tidak bisa dicapai secara instan. Perlu latihan dan waktu. Mewawancarai seseorang perlu belajar dan persiapan, simulasi, termasuk persiapan mental. Degdegan, canggung, malu ketika bertemu nara sumber, awalnya itu biasa. Mengambil foto pun biasanya tidak semuanya langsung bisa memenuhi sudut pandang yang diharapkan. Menulis hampir tidak pernah sekali jadi. Tulisan hasil liputan kadang perlu diedit berkali-kali. Begitu pula pengambilan video. Itu biasa karena semuanya memerlukan proses.

Sebagai sebuah tim, awak media seperti Komsos paroki, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Karena itu, untuk meliput Penerimaan Sakramen Krisma 3 November lalu, awak Komsos Bernadet mengadakan rapat perencanaan, penugasan, kontrol/pemantauan, dan evaluasi hasil. Di era digital pun pertemuan/komunikasi tatap muka (face to face) masih dianggap ideal karena di situlah, demi tujuan bersama, kesalahpahaman bisa diminimalisasi.


Komsos mewartakan segala peristiwa yang menunjukkan geliat umat beriman. Bukan hanya peristiwa-peristiwa besar seperti Natal, Paskah, Penerimaan Komuni Pertama, Penerimaan Sakramen Krisma, melainkan juga kegiatan Wilayah, Lingkungan, Seksi, Kategorial, sampai bagian umat paling ujung. Maksudnya, Komsos mewartakan Gereja yang hidup yang tampak dari geliat umatnya. Geliat umat yang menunjukkan tanda-tanda hidupnya Gereja adalah kabar baik. Itulah pelayanan yang coba diberikan oleh Komsos Santa Bernadet dengan tagline-nya "Wartakan Kebaikan".

Dari segi jurnalistik, apa yang dilakukan Seksi Komsos untuk Gerejanya menyerupai apa yang dilakukan para penulis Kisah Para Rasul (Kisah) yang mendokumentasikan pasang surut perkembangan jemaat Gereja Perdana. "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (Kis 2:42). Namun Gereja Perdana juga mengalami penolakan. "Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati." (Kis 4:2). Gereja Perdana pun tak lepas dari konflik internal (lihat Kis 15:35-41).
Bisa dikatakan bahwa para penulis Kisah melakukan kerja jurnalistik untuk pelayanan karena mereka menemukan dan mengumpulkan fakta, menuliskan, dan menyiarkannya, untuk kepentingan jemaat Gereja Perdana. Mereka mewartakan jemaat Gereja Perdana sebagai Gereja yang hidup.

Niat baik dan kemauan merupakan modal awal pelayanan. Pelayanan Komsos, khususnya, juga didasari oleh komitmen dan profesionalitas jurnalistik dengan segala konsekuensinya. Sama seperti para penulis Kisah, Seksi Komsos melakukan kerja jurnalistik untuk melayani Gereja yang hidup. Semuanya ini membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang memenuhi syarat dan perangkat kerja yang memadai. Semoga!
Teks: Paulus Sulasdi/ Foto-foto: Bambang Gunadi, Hari Kristanto, Kevin Meydio, Margaretha Sylvia Calista, Jassen Novaris, Walter Arya, Rulianti, Juliana Cecilia