Sampah Elektronik? Apa tuh?

29 Januari 2020
  • Bagikan ke:
Sampah Elektronik? Apa tuh?
Bak sampah elektronik di Pinang.

Oleh Sakura--Sie Keadilan Perdamaian

Dari namanya sebenarnya kita sudah bisa menduga-duga, sampah/limbah elektronik atau bahasa kerennya e-waste adalah sampah/limbah yang berasal dari peralatan elektronik. Tidak banyak yang betul-betul sadar bahwa sampah elektronik sebenarnya termasuk kategori B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Jadi sampah elektronik itu bukan sampah an-organik seperti halnya plastik atau kertas, tetapi jenis sampah khusus yang membutuhkan penanganan tepat.

Fakta Sampah Elektronik di Indonesia

Pamor sampah plastik mungkin jadi yang paling populer untuk diperangi saat ini, namun sampah elektronik juga sudah mulai harus menjadi perhatian kita. Sepuluh tahun terakhir, peningkatan jumlah sampah elektronik baik di Indonesia maupun di dunia, sangat signifikan. Terlebih dengan bertambahnya kebutuhan kita terhadap perangkat elektronik dan gadget dewasa ini.

Sebagai gambaran, tirto.id mengatakan bahwa setiap orang Indonesia menghasilkan 3 kg sampah elektronik. Jika diakumulasikan, orang Indonesia menghasilkan sampah elektronik yang jumlahnya 745 kilo ton. Seberapa banyak itu ya? Jika Anda tahu Candi Borobudur, ukurannya candi tersebut kira-kira setara 7.500 ton. Jadi ukurannya kira-kira setara 100 Candi Borobudur.

Menurut data PBB tahun 2014, jumlah sampah elektronik dunia berjumlah 41,8 juta ton. Tahun 2016, jumlah ini sudah mencapai 44,7 juta ton. Diperkirakan setiap tahunnya pertumbuhan sampah elektronik dunia mencapai 3-4%, pada tahun 2021 nanti kira-kira jumlah sampah elektronik dapat mencapai 52 juta ton. Dari jumlah fantastis tersebut, hanya 15-20% saja yang sudah dapat didaur ulang. Sementara sisanya masih belum dapat diolah.

Harus Diolah

Sampah elektronik mengandung bahan-bahan berbahaya seperti merkuri, timbal, kadmium, khromium, arsenik, dan lain-lain. Tidak hanya berbahaya bagi lingkungan dan ekosistem di sekitarnya, penanganan yang tidak tepat juga bisa berdampak bagi manusia di sekitarnya. Kandungan bahan-bahan berbahaya tersebut dapat memicu sel kanker pada manusia, mencemari air, dan tanah.

sampah-e apaan

Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dinas Lingkungan Hidup dan juga komunitas-komunitas yang peduli mulai menyediakan dropzone untuk sampah-sampah elektronik ini. Sampah-sampah elektronik yang terkumpul di dropzone akan dipilah dan diolah untuk kemudian didaur ulang. Residu-residu komponen limbah elektronik ini akan diproses agar tidak membahayakan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.

Beruntung, saat ini Gereja kita, Santa Bernadet, telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang. Kita memiliki dropzone yang berlokasi di halaman Gereja Santa Bernadet, Pinang. Umat yang memiliki sampah elektronik dan masih kebingungan untuk membuang atau mengolahnya, dapat meletakkan sampah-sampahnya di dropzone yang telah tersedia. Semoga bermanfaat!

(dari berbagai sumber)

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna