Kesaksian Panggilan Frater Steve Ramli di Gereja St Bernadet Paroki Ciledug*)

4 Mei 2020
  • Bagikan ke:
Kesaksian Panggilan Frater Steve Ramli di Gereja St Bernadet Paroki Ciledug*)

Frater Steve bersaksi tentang perjalanan panggilannya.

Bapa, Ibu, Saudara-Saudari yang terkasih. Saya akan menceritakan kisah singkat panggilan saya.

Saya memulai perjalanan panggilan saya dengan masuk seminari menengah atau yang setara dengan SMA. Setelah tamat SMP, saya melanjutkan pendidikan saya di Seminari Menengah Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.

Cerita kenapa saya masuk seminari sangat lucu sebetulnya. Waktu itu saya hanya mau skip/absent dari kelas karena ada beberapa mata pelajaran yang saya tidak suka. Ketika Romo bertanya, “Siapa yang mau masuk seminari?” saya dengan cepat mengajukan diri. Saya mengajukan diri biar bisa menghindari mata pelajaran tersebut. Walaupun waktu itu saya belum memiliki gambaran seperti apa itu seminari. Berawal dari coba-coba eh… ternyata saya salah satu yang lulus test untuk masuk seminari.

Cover

Bersama anak-anak di tempat live-in, Filipina.

Saya memulai kisah perjalanan saya di Seminari Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo tahun 2005 dan menempuh pendidikan di sana selama 4 tahun. Hal yang membuat saya merasa betah di sana waktu itu adalah sistemnya yang sangat disiplin. Semua kegiatan sudah dijadwalkan, sehingga para seminarisnya tidak merasa bosan. Ada waktu untuk berdoa, ada waktunya untuk belajar, ada waktunya untuk olahraga. Selain itu kebersamaan dan persaudaraannya juga sangat kuat.

Saya tamat dari seminari menengah tahun 2009. Di akhir penghujung perjalanan saya di Seminari Menengah Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo, saya dan teman-teman diminta untuk melamar ke projo atau tarekat. Hati saya waktu itu tertarik untuk bergabung bersama Tarekat CICM. Saya tertarik karena saya membaca majalah yang ditulis oleh para frater CICM. Majalah tersebut berisikan refleksi, sharing pengalaman mereka menjadi seorang frater yang bekerja sebagai buruh bangunan, hidup dengan anak jalanan, jadi pengamen, dan sebagainya. Di bagian luar majalah tersebut ada sebuah tulisan yang sungguh menantang saya waktu itu:

Hai kaum muda beranikah engkau bermimpi? Mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus? dan Kami para misionaris CICM berani mewujudkan mimpi, mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus.

steve9-9

Waktu menjalani novisiat di Filipina.

Karena saya merasa ditantang dan ingin mengalami apa yang dialami oleh para frater yang men-sharing-kan pengalamannya di majalah tersebut, maka tahun 2009 saya mengambil keputusan untuk melamar begabung dengan Tarekat CICM. Puji Tuhan lamaran saya diterima.

Saya memulai perjalanan saya di CICM dengan ke-15 teman saya pada tanggal 1 September 2009. Dan sampai sekarang, dari 16 yang masuk, yang tersisa hanya 3 orang, dan saya sendiri dan 2 teman angkatan saya yang masih melanjutkan kuliah Teologi di Kamerun.

Bapa, Ibu, Saudara-Saudari terkasih,

Perjalanan saya bersama CICM berawal dari Makassar (setahun), lanjut ke Jakarta untuk kuliah Filsafat-Teologi (4 tahun), terus lanjut ke Filipina (untuk novisiat dan juga Teologinya) selama 3,5 tahun.

steve14-4_2

TOP tahun pertama di pedalaman Kalimantan. 

Sesudah itu kembali ditugaskan untuk bermisi di negara sendiri sebagai intern/ Frater TOP (Tahun Orientasi Pastoral). Di sini, di Paroki Ciledug, adalah TOP tahun kedua saya. TOP tahun pertama saya jalani di Pegunungan Meratus di pedalaman Kalimantan Keuskupan Banjarmasin. Perjalanan formasi pendidikan saya bersama Tarekat CICM, kalau saya hitung hingga  saat  ini,  sudah 11 tahun, dan 11 tahun rasanya seperti kemarin.

Perjalanan saya dari awal sampai sejauh ini, saya secara pribadi menyadari bahwa dari motivasi awal yang hanya coba-coba, tetapi seiring berjalannya waktu motivasi tersebut berubah. Dari motivasi yang hanya mencoba, saat ini saya berani untuk mengatakan bahwa keinginan saya untuk menjadi seorang misionaris religius karena saya menyadari bahwa Tuhan memanggil saya dan saya menjawabi panggilan Tuhan secara bebas dan dengan penuh kebahagiaan.

steve10-0

Teman-teman novis dari China, Filipina, dan Indonesia.

Saya mau melayani Tuhan dengan jalan panggilan ini. Proses pemurnian motivasi tentu lewat pengalaman-pengalaman yang ada sepanjang perjalanan dalam formasi. Pengalaman tersebut ada bermacam-macam. Ada pengalaman perjumpaan dengan para pastor yang menjadi misionaris di luar negeri, atau misionaris yang bertugas di Indonesia yang berasal dari luar negeri. Pengalaman hidup berkomunitas, pengalaman live in, pengalaman berapostolat dan pengalaman perjumpaan dengan umat. Saya sungguh percaya bahwa lewat pengalaman-pengalaman tersebut Tuhan hadir untuk mengubah saya, Tuhan hadir untuk menunjukkan jalan kepada saya, menguatkan saya.

steve12

Kardinal Luis Tagle: Perayaan 100 tahun CICM hadir di Filipina.

Titik awal yang mengubah motivasi saya untuk menjadi imam, ketika saya berjumpa dengan para pastor CICM yang berasal dari Indonesia yang bertugas di luar negeri maupun para pastor yang berasal dari luar negeri yang bertugas di  Indonesia. Pengalaman perjumpaan dengan mereka dan pengalaman hidup mereka banyak memberi pengaruh terhadap panggilan hidup saya untuk menjadi imam.

Dalam diri saya pribadi, ketika melihat atau mendengar para misionaris bercerita tentang pengalaman hidup mereka di tanah misi, selalu muncul rasa kagum, rasa penasaran, rasa ingin tahu. Kekaguman saya itu muncul karena melihat pengorbanan mereka demi misi Tuhan yang dipercayakan kepada mereka sungguh luar biasa. Mereka meninggalkan segalanya, orangtua, keluarga, kenyamanan, untuk melayani orang-orang di tempat di mana mereka diutus. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, mereka rela mempersembahkan semuanya itu untuk Tuhan. Mereka melayani orang yang sungguh berbeda dari mereka (bahasa, budaya, ras dan sebagainya) dan kebanyakan daerah yang mereka layani itu adalah daerah yang terpencil.

steve1-1

Berjalan memasuki sebuah kampung di Filipina.

Berawal dari rasa kagum maka timbul rasa penasaran untuk mencari tahu, apa sih yang membuat mereka berani meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus dengan jalan seperti itu? Seiring berjalannya waktu pengalaman-pengalaman saya, baik di Indonesia (secara khusus di Makassar, Jakarta, Kalimantan Selatan) maupun pengalaman saya dengan orang-orang yang saya jumpai di Filipina, sangat membantu saya menemukan jawaban dari rasa penasaran saya.

Ada beberapa pengalaman yang tentunya menjadi sangat berharga dalam perjalanan panggilan saya, dan pengalaman tersebut menguatkan dan meneguhkan saya tentunya.

Pertama: Pengalaman hidup dengan seorang misionaris Belgia yang sudah lama hidup di Indonesia. Di mata saya dia orang yang sangat sederhana, selalu senyum, sangat ramah, dan punya kedisiplinan dalam hidup, terutama dalam hidup doa, dan siapa saja dan kapan saja orang datang meminta dia untuk memberikan pelayanan sakramen, dia pasti selalu siap, tanpa banyak kata. Dia merupakan salah satu orang yang menginspirasi saya untuk menjadi imam. Kekaguman saya terhadap dia  menjadikan saya punya keinginan untuk menjadi seperti Dia.

steve3-3

Sebuah keluarga di bukit Katmun, di luar Kota Cebu Filipina.

Kedua: Pengalaman live-in waktu di novisiat. Selama novisiat ada dua pengalaman yang masih membekas dalam hati saya.

Pada bulan Januari 2016, saya dan teman-teman novis diutus untuk pergi tinggal di suatu daerah pinggiran di Manila. Daerah tersebut bisa dikatakan daerah tempat tinggal di mana kebanyakan orang hidupnya sangat miskin. Setelah sampai di sana, kami ditemani oleh ketua lingkungan untuk berjalan dari rumah ke rumah, dan bertanya apakah mereka bersedia menerima salah satu dari kami. Ada beberapa keluarga yang tanpa banyak kata menerima dengan senang hati dan ada juga keluarga yang menolak karena mungkin belum siap/ mungkin punya alasan lain di balik penolakan tersebut.

Saya termasuk orang yang mendapat keluarga untuk tinggal paling terakhir, setelah sekian lama kesana-kemari mencari keluarga yang bersedia untuk menerima kehadiran saya.  Untungnya ada seorang ibu yang lagi duduk di depan rumahnya dengan senang hati menerima saya untuk tinggal bersama dengan mereka. Saya hidup dengan mereka selama kurang lebih seminggu. Tinggal di rumah yang sangat kecil, hanya memiliki satu kamar, dan saya pun tidur di luar, di lantai.

steve4-4

Bersama seorang anak di daerah miskin, pinggiran Manila.

Tujuan kami tinggal bersama mereka sebenarnya untuk merasakan apa yang mereka rasakan, solidaritas dengan kehidupan mereka. Kami harus bisa menjadi salah satu dari mereka. Hati saya sungguh tersentuh oleh keramahan mereka. Dalam keterbatasan mereka mau berbagi, mau menerima kehadiran saya. Dari sharing yang saya dapat dari mereka adalah dalam hidup kita harus terus bersyukur dengan segala yang ada. Dengan terus bersyukur, hidup kita akan menjadi lebih bahagia dan selalu merasa cukup.

Waktu saya tinggal dengan mereka ada sebuah pengalaman yang sungguh menggugah hati saya. Waktu itu, sebelum kami kembali ke novisiat, kami mengadakan acara kumpul bersama dengan pengurus lingkungan, dan untuk acara makannya, mereka memotong beberapa ekor ayam. Saya pun mengajak anak dari keluarga tempat saya tinggal. Waktu itu dia masih kelas 4 SD. Ketika jam makan tiba, anak tersebut dengan penuh antusias mangambil nasi dengan ayam. Tak lama kemudian dia keluar dari ruangan, sepertinya ingin mencari sesuatu. Ketika saya memperhatikan makanannya, saya melihat daging ayamnya sudah habis. Saya berpikir bahwa dia sangat lapar, makanya dia makan dengan cepat. Saya pun mengambil bagian saya dan memberikan kepada dia.

Setelah selesai acara perpisahan kami kembali ke rumah masing-masing. Dan sesampai di rumah, saya begitu kaget ketika anak tersebut mengeluarkan plastik dari sakunya yang berisikan daging ayam untuk dibagikan kepada bapa dan mamanya, serta salah satu anak kecil  yang tinggal bersama mereka. Hati saya sungguh terenyuh/tersentuh dengan tindakan anak tersebut.

steve6-6

Kapel di satu kampung wilayah karya CICM di Mindanao.

Jujur saja, pengalaman hidup dengan mereka dan cara hidup mereka memotivasi/ menginspirasi saya untuk terus berada di jalan panggilan ini. Saya sungguh percaya bahwa Tuhan berkarya lewat mereka untuk meneguhkan dan menguatkan saya. Dari pengalaman tersebut saya merefleksikan bahwa hidup akan lebih bermakna kalau kita mau berbagi. Ada bermacam bentuk berbagi dalam hidup, tetapi alangkah lebih bahagia dan indahnya yang kita bagikan adalah seluruh hidup dan diri kita, seperti yang dilakukan oleh Mother Teresa dan tentunya Sang Gembala kita sendiri, yaitu Yesus Kristus, yang mau mengorbankan diri-Nya untuk umat manusia.

Waktu novisiat juga saya dan teman-teman diberi kesempatan untuk live-in di salah satu paroki CICM. Waktu itu saya diutus untuk pergi live-in salah satu paroki CICM di Mandawe-Cebu City. Ketika saya sampai di sana, saya dikirim ke sebuah kampung yang jauh dari kota. Sekitar 3-4 jam dari Kota Cebu. Tempat tersebut namanya Katmun, daerah bukit.

3-4 jam-m

Menuju daerah misi CICM di pedalaman Filipina.

Daerah tersebut tidak ada signal dan sangat sulit dijangkau dengan mobil. Dan untuk sampai ke daerah perkampungannya harus menempuh dengan jalan kaki sepanjang sungai dan hanya kendaraan khusus saja bisa pergi ke perkampungan tersebut. Di sana saya tinggal dengan seorang anak yang berusia 16 tahun, yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya. Dia dipercaya oleh salah satu umat di Cebu untuk menjaga perkebunan mangga milik mereka.

kapel-ganti-i

Kapel yang tidak terawat, hanya setahun sekali ada misa.

Di perkampungan tersebut ada sebuah kapel kecil tetapi tidak terawat. Saya bertanya kepada salah satu umat Katolik di situ: “Kapan ada misa di kapel ini?” Dia menjawab, “Sekali setahun, brother.” Misa hanya diadakan saat perayaan Santo pelindung dari kapel tersebut. Ketika saya tinggal di sana mereka berpikir bahwa saya bisa memimpin misa untuk mereka sehingga mereka begitu senang dengan kehadiran saya di tengah-tengah mereka.

Saudara-saudari terkasih,

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa begitu banyak orang merindukan kehadiran Tuhan lewat Sakramen Ekaristi, namun kerinduan mereka tidak terpenuhi oleh karena begitu kurangnya tenaga pelayanan dan situasi daerah mereka yang sangat terisolasi/susah dijangkau. Pengalaman ini tentunya menguatkan saya untuk tetap pada jalan panggilan yang telah saya pilih. Dengan terus berada di jalan ini, saya bisa menjadi pelayan Tuhan untuk mendekatkan Tuhan kepada orang-orang yang memiliki kerinduan akan kehadiran-Nya atau mendekatkan orang-orang kepada Tuhan, terutama mereka yang belum mengenal Tuhan.

steve2-2

Kapel di daerah paroki CICM, tiap bulan selalu dikunjungi.

Ketiga: Pengalaman waktu live-in ketika saya masih belajar Teologi di Filipina.

Saya dikirim ke Mindanao untuk tinggal di salah satu paroki CICM. Kebetulan waktu itu saya tinggal dengan salah satu pastor Indonesia yang sudah lama bertugas di sana. Suatu hari kami mengunjungi sebuah kampung yang lumayan jauh dari parokinya. Untuk sampai di daerah tersebut kami harus naik habal-habal (habal-habal adalah sebuah motor yang dipasang sayap, dan sayap bisa digunakan untuk mengangkut orang dan bisa memuat sampai 9 orang). Setelah naik habal-habal kami harus berjalan kaki kurang lebih 1-2 jam.

Dalam perjalanan dia mengisahkan suka duka menjadi pelayan di daerah seperti itu. Terus saya coba mengomentari dengan sebuah candaan, “Ngapain Pater jauh-jauh ke luar negeri tapi tugas di daerah seperti ini? Mendingan tugas di kampung Pater sendiri, masih lebih baik.” Dia tersenyum dan mengatakan kepada saya, “Bro, kalau mau bermimpi hidup enak, punya uang banyak, punya segalanya, memang di sini bukan tempatnya. Tetapi kalau mau melayani Tuhan dengan penyerahan diri yang total di sini tempatnya. Dan saya jamin kamu akan menemukan wajah Tuhan dalam diri orang yang kamu jumpai/kamu layani.

steve5-5

Kalau bermimpi hidup enak bukan di sini tempatnya...

Saudara-Saudari terkasih,

Memang benar apa yang dikatakan oleh Pater tersebut bahwa pengalaman perjumpaan dengan orang yang sederhana, orang yang hidup apa adanya, memberikan kebahagiaan tersendiri dalam bermisi, dan itu saya alami sendiri. Diri merekalah yang menghadirkan Tuhan yang kita layani dalam hidup. Dan saya selalu percaya, merekalah yang selalu menjadi berkat bagi hidup seorang misionaris.

Saudara-Saudari terkasih,

Saya sangat bersyukur dan berterima kasih bahwa Tuhan memanggil saya untuk menjadi salah satu pelayan-Nya. Sebagai ungkapan syukur, saya mau  mempersembahkan diri saya untuk melayani Dia dengan menjadi seorang misionaris religius.

Saya menyadari bahwa menjadi pelayan Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Begitu banyak tantangan yang harus dihadapi, begitu banyak hal yang harus dikorbankan. Tetapi saya selalu percaya bahwa segala tantangan yang ada sebetulnya menjadikan saya untuk menjadi pribadi yang kuat, menjadi pribadi yang lebih baik, dan tentunya menjadi pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

steve7-7

Menyusuri sungai ke bukit Katmun, 3-4 Km dari Kota Cebu.

Dalam setiap tantangan/rintangan yang ada, tangan Tuhan selalu bekerja, campur tangan Tuhan selalu ada. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang kadang manusia tidak mampu memahaminya. Hanya bisa diterima dengan iman. Dan hal ini saya sungguh merasakannya terutama sepanjang perjalanan panggilan saya. Dalam menjalani panggilan ini satu hal yang saya selalu imani bahwa jika Tuhan yang memanggil, apapun persoalan, apapun tantangan, Dia akan selalu menunjukkan jalan. Dan saya merasakan bahwa berjalan di jalan Tuhan itu walaupun ada tantangan tetapi penuh dengan sukcita.

steve8-8

Diutus ke pedalaman bukit Katmun, yang bukan paroki CICM.

Untuk orang muda di luar sana, jika kalian merasa Tuhan mengetuk pintu hati kalian, jangan pernah ragu untuk menjawab bisikan Tuhan itu. Menjadi seorang pelayan sungguh sesuatu yang membahagiakan. Selalu dekat dengan Tuhan itu sungguh indah. Bukalah hati kalian untuk menjawab undangan Tuhan tersebut. Untuk bapa-ibu di rumah, teruslah mendoakan para biarawan-biarawati agar tetap setia pada jalan panggilannya. Doa bapa-ibu sungguh sangat berarti. Tuhan memberkati!

Come and join us…

 *) Artikel sharing panggilan ini dimuat seizin Frater Steve Ramli, CICM, yang sudah membawakannya dalam Misa Minggu Paskah IV dan Minggu Panggilan, 3 Mei 2020, di Gereja St Bernadet. Foto-foto: dokumentasi pribadi/ cuplikan video.

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna