Maria Lydia dan Romo Andang dalam talkshow Ekaristi.
Dalam acara talkshow “Keindahan Ekaristi” menjelang Misa OMK online dari Gereja Theresia Jakarta, Sabtu (9/5), Romo Andang L. Binawan, SJ, menjawab sejumlah pertanyaan tentang Ekaristi.
Di awal acara yang dipandu OMK Gereja Theresia Maria Lydia itu Romo Andang mengatakan bahwa Ekaristi adalah sebuah doa. Ekaristi adalah syukur, thanksgiving, terima kasih karena kita menerima kasih dari Allah.

Bel Cantare Choir bernyanyi secara virtual.
Ditanya tentang misa online, Romo Andang menjelaskan bahwa Ekaristi memiliki dua dimensi, yaitu hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama orang beriman (aspek sosial). Hubungan dengan orang lain sewaktu mengikuti Ekaristi menguatkan kita sehingga upaya untuk bersyukur lebih berasa. “Aspek sosial itulah yang biasanya dirindukan,” katanya.
Masa pandemi Covid-19 merupakan pemurnian dalam banyak hal, termasuk kehidupan beragama. Dulu mungkin kita lebih banyak menekankan aspek sosialnya, seperti pergi ke gereja karena kewajiban, bertemu teman-teman atau karena naksir orang... “Boleh saja, tetapi kalau itu saja, maka kita bisa lupa bahwa esensi dari Ekaristi adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan,” katanya.
Kalau sekarang ini kita sungguh-sungguh mau berelasi dengan Tuhan dalam Ekaristi online, kita sebenarnya dilatih dalam perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Kita rasakan sungguh-sungguh Tuhan yang datang kepada kita.

Romo Andang memberikan homili dalam Misa OMK online.
Hosti, Tubuh Kristus yang riil memang tidak diterima. Tetapi di situlah sebenarnya relasi pribadi dihidupkan. Termasuk dalam keluarga supaya kita melihat keluarga sebagai tempat persemaian sebagai orang beriman. Pemurniannya ada di sana. “Bahwa nanti dalam kehidupan normal kita tetap ke gereja bersama, sekarang sudah belajar bahwa relasi pribadi dengan Tuhan itu tidak boleh dilupakan,” tegasnya.
Karena yang penting relasi dengan Tuhan, kita diberi panduan dalam mengikuti misa online supaya tidak seenaknya, misalnya sambil tiduran. Tetap pasang lilin, salib, kalau perlu ada bunga, supaya suasana terbantu dalam suasana doa, fokus, karena pada dasarnya Ekaristi adalah doa, Ekaristi adalah perjumpaan dengan Tuhan secara personal.
Menanggapi pertanyaan boleh-tidaknya band mengiringi misa, Romo Andang kembali menekankan bahwa pada dasarnya Ekaristi adalah doa. Doa adalah membuka hati, membuka jiwa, yang dalam arti tertentu memang membutuhkan suasana yang pas supaya fokus.

Romo Andang memberikan berkat.
Lagu-lagu dalam Gereja Katolik memang agak spesifik. Pada dasarnya band tidak dilarang masuk gereja, tetapi yang harus diperhitungkan dengan hati-hati adalah memilih lagu-lagu yang bisa mengantar kita sungguh berdoa. “Fokusnya pada Tuhan, bukan pada kita. Kalau tidak, fokus kita lebih pada band-nya, lebih pada meriahnya, lebih pada asyiknya, sehingga kita lupa pada Tuhannya,” kata Romo Andang.
“Itu yang perlu kita ingat supaya kita tidak gagal fokus bahwa kita merayakan Ekaristi. Artinya berdoa, berjumpa dengan Tuhan. Perlu kita ingat, Ekaristi adalah syukur dan berjumpa dengan Tuhan. Puncaknya adalah di dalam penerimaan komuni,” tegasnya.
Ada pertanyaan kecil tentang perbedaan Misa dan Ekaristi. Kata Romo Andang sama saja, tapi memang ada sejarahnya. Dulu, ketika misa masih menggunakan Bahasa Latin, sesudah berkat imam mengatakan, Ite, missa est (pergilah, tugas perutusan telah diberikan). “Ekaristi adalah seluruh rangkaian upacara liturgi dari tanda salib sampai berkat, sedang misa adalah diutus. Salah kaprah, tapi ya… sama saja,” katanya.
Misa dimulai pukul 18.00. Menyimak live chat -nya, Misa OMK online dan talkshow yang digawangi Komsos Theresia dan Krismapedia tersebut diikuti oleh OMK dari berbagai wilayah di Indonesia.
Teks: ps/ Foto-foto: Cuplikan Video Misa OMK Online