Ensiklik Laudato Si' versi digital Bahasa Indonesia.
Dalam Doa Rosario Laudato Si', Minggu, 10 Mei 2020, Uskup Palangka Raya Mgr AM Sutrisnaatmaka, MSF, menekankan dua hal.
Pertama, bantuan Bunda Maria. Kalau dalam Sejarah Gereja Bunda Maria telah membantu umat manusia mengalahkan berbagai ancaman, maka menghadapi ancaman Covid-19 saat ini kita berharap mendapat bantuan dengan perantaraan Bunda Maria.

Uskup Palangka Raya, Sekretaris Keuskupan, dan Suster.
Kedua, pertobatan ekologis. Dalam bulan Mei 2020 ini Doa Rosario dengan tema Laudato Si' bertujuan untuk menunjukkan perhatian kita terhadap lingkungan hidup dan niat kita untuk mengadakan pertobatan ekologis. “Bertobat untuk tidak lagi merusak lingkungan, sebaliknya memelihara dan memperbaikinya,” kata Uskup Sutrisnaatmaka.
Lebih lanjut ia mengungkapkan terjadinya kerusakan lingkungan di mana-mana, termasuk di Indonesia, secara khusus di Kalimantan Tengah, sehingga menimbulkan berbagai bencana, seperti banjir, polusi air, kebakaran hutan, dll. Ia menyebut contoh Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah yang hari-hari ini banjir.
“Dengan pertobatan lingkungan itulah kita tidak lagi merusak tetapi justru memelihara, menanam pohon, mengelola sampah, dan lain-lain. Kita juga hendak mewariskan hal-hal baik untuk generasi mendatang, dan untuk menjamin berkurangnya bencana alam sekitar akibat kerusakan hutan itu,” kata Uskup kelahiran Wedi, Klaten, Jawa Tengah itu.

Flyer digital Doa Rosario Laudato Si'.
Menurut data situs-situs resmi seperti KLHK dan BNPB, kerusakan lingkungan hidup khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, wilayah Keuskupan Palangka Raya, adalah yang paling parah di seluruh Indonesia selama tiga tahun terakhir.
Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik (surat) Laudato Si' mengenai lingkungan hidup pada 18 Juni 2015. Nama ensiklik tersebut merupakan penggalan dari hymne St Fransiskus Asisi, Laudato Si', mi' Signore (Terpujilah Engkau, Tuhanku).
Paus Fransiskus menyerukan pertobatan ekologis, yaitu bagaimana kita memulihkan kembali hubungan yang harmonis dengan alam, setelah sekian lama merosot karena gerak maju modernitas. Ensiklik ini juga diharapkan menggerakkan kita untuk mulai beraksi merawat Ibu Bumi sebagai Rumah Kita Bersama.

Maria, Bunda Perantara.
Ensiklik Laudato Si' sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh seorang pastor, Prof Dr Martin Harun, OFM, bekerja sama dengan OBOR yang membuat versi digitalnya dan bisa diunduh secara gratis melalui situs https://jpicofmindonesia.com/2015/09/ini-naskah-bahasa-indonesia-ensiklik-laudato-si/
Teks: ps, jpicofmindonesia.com, kaj.or.id/ Foto-foto: Cuplikan Video, JPIC OFM Indonesia