(5) Sebuah cerita yang membarui kita
Cerita kita menjadi bagian dari setiap cerita agung. Ketika membaca Kitab Suci, kisah orang-orang kudus dan juga cerita-cerita yang mampu membaca jiwa manusia dan mengungkapkan keindahannya, Roh Kudus memiliki kebebasan menulis di dalam hati kita dan membarui diri kita, serta mengingatkan tentang siapa diri kita di mata Allah.
Ketika kita mengingat cinta yang telah menciptakan dan menyelamatkan, ketika kita menaruh cinta ke dalam cerita-cerita kita setiap hari, dan ketika kita menenun jalan cerita sehari-hari kita dengan belas kasihan, maka kita akan berpindah ke halaman berikutnya.

Hendaklah kita tidak berhenti dengan penyesalan dan kesedihan, terikat pada kenangan menyakitkan yang memenjarakan hati. Melainkan membuka hati dan diri pada yang lain, pada visi yang sama dengan sang Narator.
Menceritakan kisah kita kepada Allah tidak pernah sia-sia, meskipun riwayat peristiwa-peristiwa tidak berubah, tetapi makna dan perspektifnya akan berubah. Bercerita kepada Tuhan berarti masuk ke dalam tatapan cinta-Nya yang berbelas-kasih kepada kita dan orang lain.
Kita bisa menceritakan kepada-Nya kisah-kisah yang kita jalani, membawa orang-orang dan mempercayakan berbagai situasi dalam kehidupan kita. Bersama-Nya, kita dapat menyimpul kembali jalinan kehidupan, menjahit kembali yang putus dan terbelah. Betapa kita membutuhkannya, semuanya!

Dengan cara pandang Narator–satu-satunya yang memiliki cara pandang akhir–kita mendekatkan diri kepada para pemeran utama, kepada saudara dan saudari kita, para aktor yang berada bersama di dalam cerita kita hari ini.
Ya, karena tidak ada seorang pun yang menjadi tambahan di panggung dunia dan cerita setiap orang terbuka pada perubahan yang mungkin terjadi. Bahkan ketika menceritakan keburukan, kita dapat belajar untuk memberikan ruang untuk penebusan. Di tengah-tengah keburukan, kita juga dapat mengenali kembali dinamisme kebaikan dan memberikannya ruang.
Karena itu, ini bukan berarti hanya sekadar mengikuti logika penceritaan (storytelling) atau mengiklankan diri, tetapi untuk mengingat siapa diri kita di hadapan Allah; Untuk memberi kesaksian akan apa yang ditulis oleh Roh Kudus dalam hati kita; Untuk mengungkapkan kepada setiap orang bahwa cerita dirinya mengandung keajaiban yang luar biasa.

Untuk dapat melakukan ini, marilah kita mempercayakan diri kepada seorang wanita yang telah merajut kemanusiaan Allah di dalam rahimnya, dan sebagaimana disampaikan dalam Injil, telah merajut segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Santa Perawan Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk. Luk 2:19).
Marilah kita meminta bantuan kepada Sang Bunda, yang telah mengetahui cara melepaskan ikatan simpul-simpul kehidupan dengan kekuatan cinta yang lembut:
O Maria, perempuan dan Bunda, engkau telah menenun Sabda ilahi di dalam rahim-Mu, engkau telah menceritakan karya Allah yang luar biasa di sepanjang hidupmu. Dengarkanlah cerita-cerita kami, simpanlah dalam hatimu dan jadikanlah milikmu sendiri, juga cerita-cerita yang tidak seorang pun mau mendengarkannya. Ajarilah kami untuk mengenal kembali benang-benang baik yang memandu jalan cerita. Lihatlah kumpulan simpul-simpul kusut dalam hidup kami yang melumpuhkan ingatan kami. Dengan tanganmu yang halus, setiap benang kusut dapat dilepaskan. O Wanita yang penuh Roh, Ibu yang penuh kepercayaan, berikanlah juga kami inspirasi. Bantulah kami untuk membangun cerita-cerita perdamaian, cerita-cerita yang mengarah menuju masa depan. Dan tunjukkanlah kepada kami jalan untuk menghidupinya bersama.
Roma, di Basilika Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2020, Peringatan Santo Fransiskus dari Sales
Fransiskus
Teks: Konferensi Waligereja Indonesia.