Go-Kil Virtual Sie KKS Dinilai Bagus, Perlu Melibatkan Pengurus Lingkungan dan Mengajak Kaum Muda

26 Juni 2020
  • Bagikan ke:
Go-Kil Virtual Sie KKS Dinilai Bagus, Perlu Melibatkan Pengurus Lingkungan dan Mengajak Kaum Muda

Sebagian dari peserta Go-Kil Sie KKS St Bernadet.

Ada lonjakan besar jumlah peserta Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) virtual yang diselenggarakan Sie KKS Paroki Ciledug, dari 25 orang warga 9 wilayah pada 13 Juni, menjadi 118 orang warga 20 wilayah pada 20 Juni 2020.

Sejumlah peserta yang dihubungi secara acak tak lama sesudah Go-Kil 20 Juni lalu pada umumnya menilai acaranya bagus dan ke depan para ketua lingkungan perlu mendukung ibadat ini. Selain itu kaum muda, khususnya OMK, perlu juga didorong agar ikut.

eti--

Ibu Eti Herisusanti, Sekretaris II DPH.

“Kesan saya, acaranya  sangat bagus, menarik. Dalam membawakan renungan, pewartanya  sangat  jelas dan antusias. Peserta juga cukup banyak,” kata Ibu Eti Herisusanti, Sekretaris DPH yang mengikuti acara itu. Ia menambahkan, kehadiran Romo Matius Pawai, CICM, memberi warna semangat tersendiri.

Ibu Eti memberi masukan, ke depan peserta perlu diberi  tahu tatacara mengikuti acara berbasis online. “Misalnya kapan mic mesti mute, kapan unmute, sehingga suara-suara lain tidak masuk dan mengganggu,” katanya.

Ia juga menyarankan agar pemandu lagu suaranya  lebih kuat. “Meskipun ada live music, saya nggak tahu di mana kurang pasnya,” ujarnya.

Sementara itu Pak Stevanus Pristi Wahyudono, anggota DPH, mengatakan,  “Kesan pertama ikut Go-Kil dagdigdug… apa sih gitu ya? Rupanya Go Kitab Suci...Sangat senang. Tapi semakin banyak kita belajar Go-Kil, sepertinya kita semakin kecil di hadapan Tuhan dan  semakin  sempit pengetahuan kita akan iman kita terhadap Kristus." Ia pun mengajak kaum muda ikut terlibat.

pristi3-ok--

Bp Stevanus Pristi Wahyudono, anggota DPH.

Pak Pristi mengaku, yang lebih aktif di SKKS sebenarnya istrinya, Bu Lita, yang sekolah juga di Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS). “Ya aku bantu musiknya saat istri dikasih tugas singer. Sekalian ikut buat pengetahuan dan belajar lebih dalam lagi tentang Karya Keselamatan dan arti Tubuh Kristus,” tambahya.

Mantan Korwil Loyola itu berharap agar pengurus lingkungan, khususnya pamong sabda, mendukung acara ini dan sebaiknya ikut. Selain itu perlu Go-Kil khusus OMK. ”Seru kali ya dimana Tuhan bisa lebih berkarya saat teman-teman OMK masih muda,” katanya.

Bisa bebas bertanya

Kaling Fabiola 1 CB Wahyu mengaku lega karena dalam Go-Kil virtual itu bisa bebas bertanya. “Kesannya indah. Banyak wawasan baru. Yang selama ini tabu dipertanyakan bisa bebas ditanyakan,” ujarnya.

Pak Wahyu masih merasakan gangguan teknis di samping terasa terlalu berisik dan alur bicara perlu diatur. “Lebih dibuat teratur untuk arah pembicaraan dan pemakaian alat bantunya,” usulnya. Ia juga maklum, mungkin karena baru mengikuti Zoom, masih banyak yang mengalami kendala teknis.

wahyubener-ok--

Ketua Lingkungan Fabiola 1, Bp CB Wahyu.

Pak Bernard de Cunha dari wilayah FX mengapresiasi Go-Kil virtual itu. Ia pun maklum kalau masih ada kendala teknologi, gaptek, yang dialami orang tua.

Pak Bernard menyampaikan gagasan, untuk peserta yang lingkupnya sudah seluas paroki seperti Go-Kil 20 Juni, narasumbernya diusahakan seperti pastor atau yang sudah benar-benar berpengalaman.

bernard-ok--

Pak Bernard da Cunha, Wilayah FX.

Ketua Lingkungan Maria Goretti 1 Ibu Cecilia Henny mengaku senang karena sudah lama tidak bertemu teman-teman di gereja. Ia mengaku belum terbiasa dengan acara online tapi bisa juga. “Tuhan memberkati pelayanan tim SKKS,” katanya.

henny2--

Ibu C Henny, Kaling Maria Goretti 1.

Menggelitik

Sementara itu Pak Hindrata Lengkey awalnya mengira Go-Kil seperti pendalaman KS lingkungan biasa. “Namun di pertemuan Go-Kil virtual ini, penjelasannya ‘menggelitik’ ketika narasumbernya menanyakan  'apakah rotinya yang hidup?'," kata Koordinator Prodiakon St Bernadet yang juga anggota EJ ini.

Warga Elisabeth yang tinggal di Bumi Permata Indah itu mengaku terkejut senang dengan kehadiran Romo Matius.

“Jujur, baru ikut pertama. Tapi kalau ada pertemuan virtual dengan komunitas lain di lingkungan, saya seperti orang yang promosi ‘Ikutin deh, pertemuan Go-Kil’. Menarik karena membahas serba-serbi iman,” katanya.

Hindrata-ok--

Pak Hindrata Lengkey, Koordinator Prodiakon St Bernadet.

Masukan Pak Hindrata, pada saat berdoa di-mute saja agar bisa mendengar lebih khusuk dan ikut berdoa dalan hati. Dia sendiri tidak mengalami kesulitan teknis. “Sangat jelas dan koneksinya bagus,” imbuhnya.

Meski tak ada hubungan langsung, Pak Hindrata sempat mengirim apresiasi tinggi untuk tim Komsos atas pelayanannya selama ini.

Ibu Anton dari Lingkungan Kristoforus 2, sama seperti teman sewilayahnya Ibu Vita, merasa Go-Kil ini sangat membantu untuk lebih memahami makna Kitab Suci. Ia hanya usul agar host pegang kendali untuk mengatur pembicaraan, misalnya kalau satu orang bicara, yang lain di-mute.

BuAntonCollage-ok--

Ibu Anton, Lingkungan Kristoforus 2.

Prodiakon dari Wilayah Fabiola 1 Ibu Luciana Purwanti Suweni mengapresiasi pelayanan Sie KKS. “Teman-teman yang berkiprah di Sie Kitab Suci sudah melakukan pelayanan  prima,” katanya.

Vita-ok--

Ibu Vita, Lingkungan Kristoforus 1.

Bu Pur, sapaan akrabnya, bahkan membuat summary dari Go-Kil tersebut untuk dibagikan di lingkungannya yang banyak memberikan tekanan pada makna Perayaan Ekaristi bagi kehidupan iman kita.

Bu Pur-ok--

Ibu Luciana Purwanti Suweni.


Peliput: Elsa, Yolla, Livita, Laras, Karin/ Foto-foto: dok.pri, dok. Komsos, WA, FB/ Olah foto: ps

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna