Aneka kuliner untuk menyiasati masa sulit pandemi.
Gracia Celestine membuka cabang kedai “Ayam Bakar Turunan” di area kuliner Jl Boulevard Graharaya Bougenvile Loka setelah suaminya, Morgan, terkena PHK pada bulan Juli akibat pandemi.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, mengandalkan pemasukan dari usaha kuliner online di rumahnya yang dibuka sejak Januari tak mungkin lagi. “Untungnya masih ada tabungan sedikit, lalu buka usaha di sini,” kata Gracia di kedainya beberapa hari lalu.

Ayam bakar turunan, khas di bumbu dan sambalnya.
Kedai itu kini dijaga bergantian dengan suaminya. Jika Gracia menjaga kedai di Graharaya, sang suami berjaga kuliner yang di rumah dan sebaliknya. Berjaga di rumah berarti sekalian menjaga anaknya, Milan (2).
“Sejak dibuka September, dari bulan ke bulan di sini trend-nya lumayan bagus. Untuk ayam bisa 2 ekor per hari, minimal,” kata warga Wilayah Kristoforus yang waktu SMA sudah suka jualan camilan Rp 2.000-an itu.

Ayam Turunan, menu ayam bakar original.
Omzet rata-rata per hari bisa Rp 250.000-an dan untuk sewa tempat Rp 1,5 juta/bulan dia bilang masih aman. “Saingan di sini praktis tidak ada, karena para pedagang tidak menjual menu yang sama,” ujarnya.
Menu andalan Ayam Bakar Turunan adalah ayam bakar. Disebut “Turunan” karena, kata dia, bumbu dan sambalnya adalah warisan turun-temurun di keluarga suaminya. Karenanya pada nama kedai itu tertera embel-embel bernada promosi “Rahasia Nenek Moyang”. Namun ada juga aneka menu lain seperti lele, nila, dan ceker.

Meski tidak setiap hari, ada menu ikan nila.
Ditanya apa kiat bertahan di masa pandemi, Gracia menjawab, “Ya berdoa itu pasti, itu yang paling utama. Tapi kalau jualan, apalagi di pinggir jalan, harus tahan banting. Modal nekat sebenarnya ha-ha-ha…”
Gracia bercerita, awalnya selama 5 hari berturut-turut tidak laku. “Tidak ada yang beli sama sekali. Ayam terpaksa dibawa pulang, dimasukkan freezer, dan dijual di rumah. Tapi tetep aja pusing karena di sini harus mikirin sewanya juga,” kata warga Kompleks Pinang Griya Permai itu.

Menu lain yang dijual, namanya "ceker meledak".
Kondisi itu tertolong oleh Warung Jawa Timur Cak Arief di sebelahnya. Kalau warung itu kehabisan minuman untuk tamunya, belinya di Gracia. “Es-nya habis beli di sini, jeruk habis beli di sini,” katanya lagi. Saat itulah Gracia melihat tanda-tanda awal ketika orang mulai melirik kulinernya.
Buka dari siang sampai lewat tengah malam, kedainya kini melayani pembeli untuk makan di tempat atau pemesanan online, sambil tetap berpromosi lewat berbagai platform digital.

Gracia berjaga di kedai Graharaya.
Pensiun Fransiscus Pratomo dipercepat karena kondisi kantor yang mengharuskan pengurangan karyawan. “Efektif Januari 2020 sudah pensiun,” kata Pak Tommy, sapaan akrab Korwil Ign Loyola itu, ketika dihubungi.
Pada bulan Maret ia berjualan makanan karena dapat tawaran di Sekolah Abdi Siswa (Absis), Graha Bintaro. Itu sebelum pandemi. Jualannya soto ayam, bubur ayam cakwe, dan makaroni manis.

Bubur ayam cakwe, termasuk kuliner andalan.
Karena pandemi sekolah diliburkan, tetapi jualan harus jalan terus. “Setelah pandemi mulai melayani pesanan dengan sistem pre-order (PO) agar tidak terlalu banyak yang kami masak,” katanya.
Menu andalannya bubur ayam cakwe dan tahu campur Magelangan. Maklum, sang istri berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Belakangan tambah Sup Kacang Senerek—kuliner khas Magelang juga. Kalau ada yang kangen makan brongkos pun “difasilitasi”.

Untuk pesanan tetangga bisa dengan alas daun pisang.
Memakai merk usaha “Danecy”, ayunan langkah diawali dengan broadcast di grup WhatsApp Lingkungan dan Wilayah, teman-teman eks kantor di seputaran Graharaya dan Bintaro, serta teman-teman istri di perkantoran Sudirman-Thamrin Jakarta.
Untuk pengirimannya, pesan ojek online, termasuk ojek same day, yaitu satu driver mengantar beberapa alamat yang bisa lebih murah, bahkan pernah ke Depok.

Mangut gurame.
Sadar akan sulitnya situasi dan ketatnya persaingan usaha kuliner, Pak Tommy merasa harus jeli membidik celah pasar, baik lewat media sosial maupun promosi langsung dengan mengirim paket ke kanalan-kenalan secara acak untuk mendapatkan masukan agar bisa mengevaluasi.
“Marketing itu penting. Tidak perlu malu. Persoalannya berbeda kalau kita punya tempat mangkal sendiri,” ujarnya.

Paket-paket kupat tahu Magelangan yang siap dikirim.
Omzet harian Selasa-Jumat rata-rata Rp 250 ribuan dengan pesanan minimal 5-10 paket, Sabtu-Minggu 15-20 paket dan bisa mencapai Rp 500 ribuan. “Weekend mungkin jadi ‘hari tidak masak’ bagi keluarga,” duganya.
Pak Tommy merasa nyaman dengan usaha kuliner ini, apalagi bisa sekalian masak untuk keluarga. “Masak dan menyiapkan pesanan dibantu anak-anak karena tidak mungkin hanya saya dan istri saja. Seluruh anggota keluarga wajib ikut untuk kelangsungan usaha ini,” ujarnya.

Tersedia juga cake tape dan cake pisang.
Usaha ini ingin dijalaninya seperti ‘air mengalir’ saja. “Namanya usaha, ya, harus ditekuni dengan baik. Semua harus dijalani dengan doa dan disyukuri,” ucapnya.
Berbelanja aneka bahan ke pasar pun sudah menjadi kerutinannya. “Jadi kenalan saya tidak hanya orang Gereja. Ajarannya kan begitu, ya? He-he-he,” celetuknya. “Kalau ada rapat boleh diorder,” candanya bernada promosi.

Sup Kacang Senerek khas Magelang.
“Karena belum ada pekerjaan jadi aku dan mama buka usaha ini,” kata Maria Ayu Paramita dari Wilayah Petrus. Sambil mengisi waktu luang, ia berbisnis kuliner rumahan.
Usaha kulinernya diberi nama ‘mamameals’, yang sudah tercetus sejak akhir tahun 2019. Ia bersama mamanya membuat sendiri makanan yang dijual.

Kuliner rumahan.
Mita sedari dulu memang memiliki cita-cita untuk memiliki usaha di bidang kuliner. Berjualan bukan lagi pengalaman baru. Sebelum pandemi, ia sudah biasa membuka stan makanan di gang rumahnya ketika tiba bulan puasa, termasuk ikut bazar di Gereja Bernadet.
“Jualan di gang rumah itu udah dari aku sekolah. Mama jualan masakan matang, ada sayur dan lauk,” katanya. “Sekarang ada berbagai macam makanan yang dijual seperti tahu isi, chicken wings, dimsum, dan yang lainnya,” imbuhnya.

Nama kuliner ini: chicken popnyus...
Beradaptasi dengan tuntutan zaman, kini jualannya harus beralih melalui media sosial seperti Instagram dan WhatsApp, selain beberapa makanan yang dapat dipesan lewat aplikasi ojek online.
Untuk menghindari makanan tidak habis terjual, Mita menyiasatinya dengan open order; yang dibuat hanya makanan yang sudah dipesan beberapa hari sebelumnya. Dalam seminggu pesanan bisa 10 sampai 20.

Dimsum ayam udang dan caramel custard pudding.
Ditanya berapa omzetnya, Mita menyebut angka Rp 500 ribuan per minggu. Bukannya dia tak sadar tantangan. “Karena lagi pandemi kayak gini jadi makin banyak juga pesaingnya. Banyak orang punya pikiran sama untuk berjualan makanan,” jelasnya.
Mita menduga, banyak yang belum tahu ‘mamameals’ sehingga ragu-ragu untuk beli. “Mereka yang terkena dampak di ekonominya juga mungkin jadi mikir-mikir untuk jajan,” imbuhnya.

Stars in jar bisa jadi hiasan atau souvenir.
Namun ia percaya rezekinya sudah diatur Tuhan. “Yang penting tetap berusaha, berdoa, dan terus kembangin ide-ide lainnya he-he-he," kata Mita pula.
Di sela-sela mengurus ‘mamameals’ Mita membuat kerajinan tangan stars in jar yang bisa dijadikan hiasan ataupun souvenir. “Waktu itu aku buat karena mau kasih kenang-kenangan di tempat magang, akhirnya diterusin lagi.” Untuk itu dia membuat Instagram-nya.

Bukan hanya bakmi, bihun pun tersedia.
Sebelum pandemi, Cristabella Shania membantu orangtuanya berjualan bakmi di depan SMP Sang Timur Tomang, Kemanggisan. Nama kedainya “Bakmi Bangka Perjuangan”, yang sudah dirintis sejak 1997.
“Karena pandemi, kegiatan di sekolah dan di gereja ditiadakan. Pelanggan jadi berkurang. Kita juga sempat gak boleh berjualan, karena tempat makan kan ramai orang. Meresahkan warga sekitar karena takut jadi sumber penyebaran Covid,” kata warga Wilayah Maria Goreti itu.

Bakmi Bangka Perjuangan.
Kedai pun tutup 4-5 bulan. “Selama tutup gak ada pemasukan dari situ. Lalu pindah di tempat yang baru, daerah Karang Tengah,” lanjut Shasha, sapaan akrabnya. Grand opening sekitar 3 bulan lalu.
Selama 4 hari pertama di tempat baru pengunjungnya jauh di bawah sebelum Covid. “Meskipun untuk ukuran lokasi baru terhitung cukup ramai,” ujar salah satu Kakak Pembina BIA Santa Bernadet ini.

Kedai Bakmi Bangka Perjuangan yang dirintis sejak 1997.
Ke depan usaha keluarga ini tetap akan dilakukan di Karang Tengah karena dirasa cukup menjanjikan, baik dari segi lokasi maupun peta virtualnya yang sudah dikenal.
Belum lama ini ketika ditanya bagaimana perkembangan kulinernya di lokasi baru itu, Shasha mengatakan, “Lancar. Puji Tuhan banget he-he-he.” Pelanggan banyak, baik yang makan atau pesan langsung di tempat maupun pesanan lewat ojek online.

Shasha (paling kiri), papa-mama, dan kakaknya.
Shasha mengaku, jika ditotal jualan di tempat plus pesanan lewat ojol, omzetnya bisa Rp 300 ribuan per hari. “Kalo weekend baru ramai,” imbuhnya. Sebagai anak milenial ia pun gencar berpromosi lewat berbagai platform digital.
Tim Peliput: Margaretha Elsa, Rafaela Chandra, Gabriela Laraswati, ps/ Foto-foto: dok. Pribadi, IG, ps/ Olah Foto: ps.
Catatan Redaksi: Jika Bapak/Ibu/OMK St Bernadet juga punya pengalaman dalam menyiasati masa sulit pandemi ini—apapun usahanya—dan bersedia untuk diliput, silakan mengirimkan data ke bernadetkomsos@gmail.com dengan nomor WA. Semoga bisa menjadi inspirasi dan ajang berbagi.