Peserta webinar eco enzyme dengan hasil karyanya.
Minggu 21 Februari 2021 Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet menyelenggarakan webinar. Tema yang diangkat dalam webinar ini “Eco Enzyme: Cairan Multi Guna untuk Kebutuhan Rumah Tangga”, dengan narasumber Bp Aang Hudaya, seorang pegiat eco enzyme lulusan Institut Pertanian Bogor.

Bp Aang Hudaya, narasumber webinar Eco Enzyme.
Dalam sambutan pembuka Ibu Stephanie Natalia Sutedjo selaku Ketua Wanita Katolik RI Cabang Santa Bernadet menyampaikan, kegiatan ini dilakukan untuk mengisi Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap tanggal 21 Februari. Webinar eco enzyme ini dipilih sebagai bentuk pertobatan ekologis seperti yang tercantum dalam Ensiklik Laudato Si, yakni kepedulian memelihara alam ciptaan sebagai rumah umat manusia.

Ibu Stephanie, Ketua Wanita Katolik RI Cabang Bernadet.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Wanita Katolik RI Cabang Bernadet dengan Seksi Pendidikan dan Kaderisasi (Pekad), Seksi Lingkungan Hidup, dan Seksi Komsos Paroki Ciledug, serta didukung oleh Sekolah Abdi Siswa Bintaro.
“Webinar ini diselenggarakan via zoom. Karena terbatasnya users maka kami menggandeng Seksi Komsos agar webinar ini dapat ditayangkan di kanal youtube Santa Bernadet sehingga lebih banyak yang dapat mengikuti,” jelas Ibu Stephanie.

Ibu Widi dari Seksi Pekad selaku host.
Webinar yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB itu dipandu MC Ibu Maria Sriwidiastuti. Dalam penjelasannya ia mengatakan, webinar ini dibagi menjadi 2 sesi, yakni teori dan praktik. Maka para perserta diingatkan untuk mempersiapkan bahan dan peralatan yang sudah diinfokan sebelumnya.
“Apa itu Eco Enzyme ? Adalah larutan zat organik kompleks yang diperoleh dari proses fermentasi sisa organik (sayuran dan buah) air dan gula. Eco enzyme pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh Dr Rosukan Poomvanpong, pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand sekaligus peneliti enzim selama 30 tahun,” jelas Pak Aang Hudaya di awal sesi.

MC Ibu Maria dan narasumber.
“Sisa organik saya lebih suka menyebutnya daripada sampah organik. Ketika kita menyebut sampah kesan yang muncul adalah kotor dan bau sehingga membuat kita enggan untuk bersentuhan. Dan eco enzyme menjadi cara yang paling mudah untuk mengolah sisa organik dibandingkan yang lainnya seperti komposter atau bio gas,” katanya lagi.

Sebanyak 60% sampah di Indonesia organik.
Berikut panduan praktis membuat eco enzyme
- Gunakan wadah berbahan plastik, bermulut lebar dan dapat ditutup rapat
- Gunakan gula merah, yang terbaik adalah gula merah tebu
- Gunakan air yang layak minum
- Perbandingan baku (1:3:10) yakni 1 liter air, 300 g kulit buah/sayur, 10 g gula
Setelah semua bahan siap, masukkan air ke dalam wadah/toples, tambahkan gula. Masukkan kulit buah/sayur yang sudah dipotong-potong, lalu tutup toplesnya, bolak-balik agar gulanya larut. Di minggu pertama buka tutup toples beberapa kali agar gas yang terbentuk bisa keluar. Simpan selama 3 bulan dan siap untuk dipanen.

Para peserta dengan hasil karyanya.
Cara memanen eco enzyme
- Saring cairan eco enzyme untuk memisahkan ampas
- Simpan cairan dalam botol terpisah sehingga wadah dapat digunakan kembali
- Eco enzyme tidak akan basi atau kadaluwarsa
- Ampas eco enzyme dapat dijadikan pupuk kompos

Flyer undangan webinar yang disebar sebelumnya.
Manfaat eco enzyme
- Cairan pembersih serbaguna (mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan lantai, membersihkan dapur, mencuci buah dan sayur)
- Pengusir hama/serangga
- Pupuk Organik
- Antiseptik alami rumah tangga
Lewat penjelasan singkat tersebut tampak di layar zoom semua peserta langsung dapat mempraktikkan pembuatan eco enzyme di rumah masing-masing.

Ibu Sani Matilda dari DPD Wanita Katolik RI Jakarta.
Dalam webinar ini ada 90-an peserta yang terdaftar lewat zoom dan 200-an yang mengikuti lewat youtube. Hadir pula dalam webinar ini Ibu Sani Matilda dari DPD Wanita Katolik RI Jakarta serta Bp Joanes Wijayanto Koordinator Bidang Teritorial dan Kategorial Paroki Ciledug.
Mari kita selamatkan Bumi kita tercinta. Kita tunggu panen eco enzyme 3 bulan yang akan datang.
Teks: Bambang Gunadi/ Foto-foto: Screenshot