Go-Kil Februari: Dengan Kuasa Allah Yesus Menyembuhkan untuk Keselamatan

28 Februari 2021
  • Bagikan ke:
Go-Kil Februari: Dengan Kuasa Allah Yesus Menyembuhkan untuk Keselamatan

Ibadat Go-Kil Seksi Kerasulan Kitab Suci, Sabtu (13/2).

Menempatkan teks Kitab Suci dalam konteks kehidupan zaman penulis Firman Tuhan itu merupakan suatu metode untuk menggali pesan aslinya, agar dapat ditimba maknanya untuk kehidupan zaman sekarang. Sabda Tuhan itu tetap, tetapi manusia dan zamannya selalu berubah-ubah dalam cara memaknainya.

Romo Windyatmoko Romo Koko--

Romo Bernardus Windyatmoko, MSF.

Metode itulah yang ditempuh Romo Bernardus Windyatmoko, MSF, pastor dari Paroki Temanggung yang akrab disapa Romo Koko, ketika mengulas serta menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Injil Markus 1:40-45 dalam Ibadat Go Kitab Suci Lingkungan (Go-Kil) virtual Seksi Kerasulan Kitab Suci (SKKS) Paroki Ciledug, Sabtu (13/2).

Tiga pokok renungan

Romo Koko memberikan 3 pokok renungan untuk Mark 1:40-45 yang berkisah tentang Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta, berangkat dari kondisi kehidupan zaman penulis Firman Tuhan itu. (Teks pararel: Mat 8:1-4; Luk 5:12-16)

Pelaksana Ibadat Gokil_Wil Yohanes-

Romo Koko dan pelaksana Ibadat Go-Kil dari Wilayah Yohanes.

1. Menurut Alkitab, dalam kehidupan orang Yahudi waktu itu orang sakit kusta dikucilkan, dianggap najis, dan disingkirkan dari peribadatan di Bait Allah. Jika sudah sembuh, otoritas yang bisa menyatakannya sudah bersih sehingga bisa beribadat lagi di Bait Allah adalah para imam. Persoalannya, mereka sulit mendekati para imam.

Penderita kusta ingin sembuh, dinyatakan bersih, dan ikut beribadat. Yesus menjadi satu-satunya harapan mereka karena Dia menyembuhkan mereka sehingga dinyatakan bersih dan bisa beribadat di Bait Allah lagi.

Peserta_01-A---

Go-Kil diikuti 100 akun dengan 117 peserta.

2. Reaksi Tuhan Yesus: “tergerak hati-Nya”. Tidak seperti pengartian biasa, dalam teks lama/kuno, “tergerak hatinya” menunjukkan rasa kesal, marah, dan berang. Itu terjadi pada Yesus karena Ia melihat keadaan orang yang menderita kusta itu.

Ada dua sebab kenapa Yesus marah dan berang: pertama, Ia datang ke daerah Galilea untuk mewartakan Kabar Suka Cita Injil dan mengusir setan tetapi ada orang yang diyakini sakit karena gangguan kuasa kejahatan/setan; kedua, para imam yang sebetulnya menjadi bagian resmi untuk menyatakan kesembuhan si kusta itu, justru menghalang-halanginya untuk sembuh atau dinyatakan bersih.

Peserta_01-B---

Peserta Go-Kil 13 Februari 2021.

3. Dua pesan untuk kita: pertama, Yesus adalah pewarta keselamatan ketika Ia menghilangkan halangan-halangan yang membuat kebaikan itu terbelenggu. Karenanya semakin besar keinginan orang zaman dulu (atau zaman sekarang) untuk mendengarkan warta keselamatan, sebab Yesus betul-betul menjadi pembebas orang-orang yang kena halangan untuk memperoleh kebaikan.

Peserta_02-A---

Peserta Go-Kil 13 Februari 2021.

Kedua, pertemuan antara manusia dengan Allah itu terjadi di Bait Allah. Pada peristiwa orang kusta ini Bait Allah sejati adalah Tuhan Yesus sendiri, sebagai Bait Allah yang baru, tempat berjumpanya manusia dengan Allah.

Karena kuasa dari Allah

Melalui sesi tanya-jawab, Romo Koko mengkungkap pesan utama Markus, yaitu bahwa Yesus diutus Allah. “Yesus diakui sebagai penyembuh yang datang dari Allah Bapa,” katanya.

Dalam pertanyaan yang langsung berkaitan dengan ayat-ayat Kitab Suci (Mark 1:40-45), tekanan jawaban Romo Koko adalah bahwa Yesus menghendaki supaya orang memahami penyembuhan yang dilakukan-Nya terjadi karena kuasa Allah.

Peserta_02-B---

Peserta datang dari 19 wilayah.

Itulah sebabnya Yesus melarang orang yang disembuhkan memberi tahu kepada siapapun, karena Ia tidak ingin orang menganggap-Nya penyembuh biasa, paranormal, karena Ia adalah Putra Allah. Ada relasi Trinitas yang waktu itu orang belum bisa memahaminya.

Karena itu, penyembuhan Yesus bukan sekadar membuat orang terbebas dari penyakit, melainkan ada warta suka cita yang dibawa-Nya, yaitu agar orang terbebas dari kekuatan kejahatan dan beroleh keselamatan.

Peserta_04-B--

Peserta Go-Kil 13 Februari 2021.

Menjawab pertanyaan lain, Romo Koko menyatakan bahwa kita bisa saja gagal menjadi orang baik dalam arti menjadi penghalang orang untuk berjumpa dengan Yesus. Penghalang itu bisa juga datang dari anggota keluarga sendiri.

Untuk pertanyaan terkait pengidap Covid-19, Romo Koko mengatakan, “Pada prinsipnya kita tidak boleh menjauhi orang-orang seperti itu. Harus kita dekati (dengan memantau), kebutuhan pokoknya apa. Terutama mereka yang harus menjalani isolasi mandiri di rumah, harus dibantu secara nyata.”

Menjawab pertanyaan berkaitan dengan Tahun Refleksi, Romo Koko mengungkapkan bahwa sebagai seorang pastor ia tetap membangun komunikasi dengan keluarganya secara wajar, seperti saling kunjung di waktu Natal dengan membawa oleh-oleh, dan lain-lain. 


Data----


Teks: Budi Mandiro/ Editor: Paulus Sulasdi/ Foto Screenshots: Herwinoto


Catatan: Bulan Maret tidak diselenggarakan Go-Kil karena akan diisi acara pertemuan APP; Ibadat Go-Kil berikutnya akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 April 2021, pkl. 17.00.

Tags
Go-Kil
SKKS

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna