Logo Tahun Refleksi 2021 KAJ.
Di Tahun Refleksi ini KAJ mengusung tema Semakin Mengasihi, Semakin Terlibat, Semakin Menjadi Berkat. Ada satu hal yang menarik yaitu kata "semakin" digunakan sebanyak tiga kali.
Penggunaan kata "semakin” tersebut menggarisbawahi titik berangkat kita bersama untuk refleksi, yaitu melihat kembali perjalanan iman kita sebagai Gereja di tahun tahun sebelumnya, melihat gerak Roh Kudus yang menguatkan kita saat ini, sekaligus mempertegas arah perjalanan kita di masa depan. Kata itu semakin menegaskan bahwa kita tidak berangkat dari titik nol.
Ada sebuah rasa syukur atas penyertaan Tuhan kepada kita selama ini. Sekaligus kita tidak berpuas diri atas segala pencapaian kita. Di sinilah letak perjalanan kita sebagai umat Allah, tidak pernah berhenti berproses, selalu diperbaharui dan dikuatkan oleh Sang Maha Kasih.

Rm Lamma Sihombing, CICM, memberkati logo Tahun Refleksi.
Metode yang akan kita dapat gunakan dalam kesempatan kali ini adalah metode karakterisasi. Di mana kita akan melihat tokoh-tokoh dalam Kitab Suci secara seksama sambil melihat bagaimana tokoh ini bertransformasi.
Kata transformasi tidaklah statis, tidak hanya sekali, tetapi mencakup keseluruhan hidup dalam segala dimensinya, sebelum tokoh ini mengenal kasih Allah, saat tokoh berjumpa dengan kasih Allah, dan bagaimana kasih Allah membawanya menjadi pribadi pemenang dalam iman.
"Berefleksi Bersama Kristus Yang Bangkit" Berpijak pada Pengalaman Rasul Thomas
Ketika kita mendengar nama Thomas, murid Yesus, kita biasanya mengingat pengalaman pribadi kita ataupun pengalaman orang lain yang sering kali berkata: "Hidup beriman saya seperti Thomas, yang tidak mudah percaya."

Thomas mencucukkan jari ke dalam lambung-Nya. (Wikipedia)
Alasan itulah yang melatarbelakangi pilihan kita kepada tokoh Thomas, murid Yesus, sebagai cerminan perjalanan iman kita. Pergulatan Thomas sangat dekat dengan hidup umat beriman kebanyakan. Seolah pengalaman Thomas mampu menterjemahkan secara terang benderang perjalanan iman umat yang sering kali sulit untuk diungkapkan.
Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas) menceritakan kisah panggilan Thomas yang dipanggil oleh Yesus bersama kesebelas murid lainnya (Mat 10:3; Mrk 3:18; Luk 6:15). Sementara Injil Yohanes, meski tidak menceritakan kisah panggilan Thomas, tetapi kemunculan Thomas paling banyak ditampilkan bila dibandingkan dengan ketiga Injil lainnya, yaitu sebanyak 4 kali (Yoh 11:16; Yoh 14:5; Yoh 20:24; Yoh 21:2).
Bagaimana Thomas mengalami pengalaman dicintai, yang membuat dirinya mau terlibat dan pada akhirnya menjadi berkat?
Kalau kita melihat tiga kemunculan awal Thomas dalam Injil Yohanes, tampak sekali secara manusiawi Thomas bukanlah pribadi yang mudah dicintai, bahkan tampak ia tidak layak untuk dicintai, baik oleh Yesus maupun oleh murid-murid lainnya. Pribadi Thomas ditampilkan sebagai pribadi yang keras, suka konflik, blak-blakan, nekad, asal-asalan, bahkan kalau pakai bahasa sekarang, Thomas termasuk pribadi yang suka nyinyir.

Sebagian anggota Panitia Penggerak Tahun Refleksi (PPTR).
Sebelum peristiwa Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus, Thomas pernah berseru dalam keputusasaannya: "Mari kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia." Kalimat ini bukan kalimat seseorang yang siap menjadi martir, tetapi lebih menonjolkan sikap pesimistis, ketidakpercayaan pada kuasa Yesus, Gurunya, sehingga ia menyindir secara halus. Menghadapi murid yang seperti Thomas, Yesus tidak memarahinya, tetapi mencoba mengerti dan memahaminya. Yesus menjawab keraguan Thomas melalui sebuah mukjizat membangkitkan Lazarus dari kematian.
Rupanya hal yang sebesar itu tidak cukup untuk Thomas. Kesulitannya untuk percaya pada Yesus muncul lagi di Yoh 14:4. Saat itu Yesus berpesan kepada para muridNya untuk jangan gelisah, untuk percaya kepadaNya dan tentang Rumah Bapa. Tetapi Thomas berkelit untuk percaya dengan mengatakan: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ." Menjawab keraguan Thomas, Yesus mengungkapkan pewahyuan yang sangat luar biasa. Yesus berkata kepada Thomas: "Akulah jalan, kebenaran dan hidup." Di situlah tampak kuasa kasih Yesus yang sungguh besar kepada Thomas.
Tetapi sayangnya rentetan pengalaman kasih Tuhan tampaknya belum cukup buat Thomas untuk percaya. Hal itu bisa kita lihat dalam pengalaman Thomas dengan Yesus yang bangkit. Fakta bahwa Thomas tidak ada bersama dengan murid yang lain mungkin menjadi petunjuk betapa lemahnya keterlibatan Thomas dalam kebersamaan dengan para murid setelah Yesus wafat.

Ketua PPTR Rm Matius (kanan) dan Pak Y Kristanto (Wakil).
Terjadi konflik luar biasa antara Thomas yang tidak percaya dengan para murid lainnya, yang mencoba meyakinkan Thomas akan penampakan Yesus. Semakin diyakinkan, semakin Thomas bertegar hati untuk percaya. Sampai akhirnya, kekerasan hatinya, dipecahkan oleh kuasa kasih Tuhan yang bangkit. Pribadi yang sulit dikasihi ini, tetap dikasihi oleh Yesus, dan diyakinkan kembali dengan cara yang luar biasa, sampai ia berkata kepada Yesus: "Ya Tuhanku dan Allahku."
Dari kemunculannya yang pertama sampai ketiga yang sangat terkenal itu, tampak ia hampir gagal dan menyerah. Kuasa kasih dan pengampunan Tuhan bangkit bekerja dalam dirinya dan ditanggapi secara positif oleh Thomas. Itulah yang menyelamatkannya. Justru di saat hidupnya gagal total, hancur, hampir binasa, Thomas mengalami pertobatan dan transformasi luar biasa.
Di akhir Injil Yohanes, Thomas sekali lagi mengalami penampakan Yesus setelah kebangkitan di Danau Tiberias. Dia mengalami pengalaman iman itu bersama tokoh-tokoh besar lainnya, para murid Yesus yang lain, di antaranya Petrus, Natanael dari Kana, Yohanes dan Yakobus (anak-anak Zebedeus) dan 2 murid lainnya yang tidak disebut namanya (Yoh 21:2).
Kisah Para Rasul menyebut Thomas bersama para murid lainnya bertekun dengan sehati dalam doa (Kis 1:13). Mereka menantikan janji Tuhan berupa Roh Kudus yang menguatkan para murid untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan Yesus yang ajaib kepada seluruh dunia. Inilah akhir hidup Thomas, yaitu menjadi berkat buat Gereja Kristus.

Ketua SKKS Ibu V Etty Iswanti.
Catatan dari Seksi Kerasulan Kitab Suci Ibu Veronica Etty Iswanti
Mencermati panduan yang telah disiapkan oleh Keuskupan Agung Jakarta untuk Ibadat Sabda Retret Umat Tahun Refleksi Bulan April bacaan yang disiapkan dari Injil Yoh.20:19-31, bacaan ini sama persis dengan materi pertemuan GOKIL Bulan April yang beberapa waktu yang lalu sudah kita bahas bersama. Maka dalam pertemuan Lingkungan atau Wilayah silahkan menggunakan materi GOKIL bulan April dengan menambahkan refleksi seperti dalam panduan dan menuangkan dalam doa umat.

Wakil Ketua PPTR Bp Y Kristanto Widiwardono.
Catatan dari Wakil Ketua PPTR Paroki Ciledug Bp Yustinus Kristanto Widiwardono
Hasil refleksi umat atau harapan silakan disampaikan dalam doa umat. Mohon Ketua Lingkungan atau pemimpim ibadat menuliskan hasil refleksi tersebut yang berbentuk doa umat ditulis dan disampaikan ke Bp Kristianto. Silakan dituliskan via WA, nomor kontak ada di group Dewan Paroki Pleno.
Panduan Pertemuan dan Ibadat Bulan April 2021 dalam PDF terlampir, klik di sini.
Perangkum: Bambang Gunadi/ Foto-foto: dok. Komsos