Pelayanan sebagai Ungkapan Syukur (Entrepreneur Katolik-4 Habis)

17 November 2025
  • Bagikan ke:
Pelayanan sebagai Ungkapan Syukur (Entrepreneur Katolik-4 Habis)

Pak Trisno bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk berziarah Porta Sancta di Basilika Santo Petrus, Roma, 24-25 Oktober 2025.


”Ke gereja ya ke gereja, tapi untuk apa kalau tidak menghasilkan?” Pertanyaan ini pernah singgah di benak Pak Trisno Kambali 43 tahun silam. Setelah menapakkan kaki di Jakarta untuk mengadu nasib tahun 1982, yang dia pikirkan hanyalah mencari uang dan mencari uang.

Meskipun di SD sudah mengenal Gereja Katolik dan benih-benih pelayanan mulai tampak, tetapi sebelum tahun 1992 ia tidak tertarik sama sekali untuk melayani Gereja.

Tetapi sekarang baginya pelayanan adalah ungkapan syukur bukan pertama-tama karena keberhasilan ekonomi tetapi terutama karena Tuhan sudah memberikan karunia-karunia. Pak Trisno mensyukuri kesempatan untuk melayani Gereja sebagai Pewarta, Katekis, dan Prodiakon.

4 Mengajar calon Krisma Minggu 5 Oktober TULISAN 3 PAKAI_1

Pak Trisno mengajar kelas dewasa calon penerima Sakramen Penguatan di Pinang, Minggu, 5 Oktober 2025. Ia menangani kelas ini bersama Katekis lain, Pak Simbolon.

Dalam refleksi pribadinya, diminta menjadi Katekis pun adalah sebuah karunia yang disyukuri karena itu berarti bahwa ia dipilih dari sekian banyak orang yang tak kurang jumlah orang pinternya.

Pak Trisno memegang teguh moto yang diambil dari 1 Tes 5:16-18: Bersukacitalah senantiasa (16). Tetaplah berdoa (17). Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (18).

4 Sharing kesaksian tema BKSN 2025 di Misa Shekinah Jakarta PAKAI_1

Sharing kesaksian tema BKSN 2025 di Misa Shekinah Jakarta.

Merujuk filosofi hidup orang Jawa, hidup ini tidak pernah rugi tetapi selalu untung karena ada rasa syukur di dalamnya. Ia merasa, dari sisi penampilan fisik, kondisi ekonomi, kesehatan, berat ringannya masalah, keluarga, anak-anak, dst, semuanya patut disyukuri.

”Saya bukan orang paling kaya, tapi saya pernah jalan ke mana-mana. Orang kaya belum tentu, tetapi saya diberi kesempatan,” ujarnya. ”Kita bukan orang yang paling... paling... paling rendah keadaanya, bersyukurlah!” Bukan hanya di Jakarta tetapi juga ke Semarang, Cirebon, Makassar, dan Batam Pak Trisno pernah menjalani perutusan.

4 Mengajar JOD (Joy of Discovery) di SEP Shekinah Semarang PAKAI_1

Mengajar JOD (Joy of Discovery) di SEP (Sekolah Evangelisasi Pribadi) Shekinah Semarang.

Hidup pontang-panting di Jakarta untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dan kecenderungan serakah untuk memiliki segala sesuatu yang belum dimilikinya, dalam refleksi Pak Trisno, merupakan bagian dari perjalanan rohaninya.

Sejak di bangku SMP yang ada di benaknya adalah ”hanya jika punya banyak uang barulah orang bisa memberi”, di kelak kemudian hari ketika mulai menjalani pelayanan Gereja dari tahun 1992 ia sadari bahwa cara berpikir itu kurang tepat. ”Tahun 93 kesadaran saya persis yang Tuhan katakan ... Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima,” katanya mengutip Kis 20:35.

4 Mengajar di KEP Gereja St Yusuf CirebonPAKAI_1

Mengajar di Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Gereja St Yusuf Cirebon.

Sesudah ditraktir di ”All You Can Eat”

Bagaimana kesadaran yang menjadi titik balik hidupnya itu terjadi? Tidak tiba-tiba dan panjang prosesnya. Dia bercerita, tahun 1983 ditraktir oleh seorang teman di sebuah restoran semacam All You Can Eat di belakang Hotel Indonesia (HI) bernama Vic’s Viking, sebuah restoran yang langka dan mewah pada waktu itu. Tentu luar biasa bagi Pak Trisno yang waktu itu makannya sekelas warteg.

Pak Trisno tentu saja mengucapkan terima kepada teman baiknya itu. Namun sejak peristiwa tersebut berkecamuk banyak pikiran dan pertanyaan dalam dirinya. Biasanya sehabis ditraktir, orang akan berterima kasih. ”Terima kasih ya, kapan ditraktir lagi?” Kalau orang berterima kasih seperti itu berarti ia masih berharap untuk ditraktir lagi dan akan kecewa besar jika ternyata yang ditraktir di lain waktu bukan dia tetapi orang lain.

Tetapi orang juga bisa bertanya dalam hatinya, ”Kapan saya bisa makan kayak begini?” atau  ”Kapan saya bisa traktir orang?” Ia menyimpulkan dalam pergumulan pikirannya, orang yang bisa mentraktir dasarnya adalah bersyukur. Bagaimana orang bisa memberi kalau tidak bersyukur? Memberi adalah ungkapan syukur. Itulah buah refleksinya pada tahun 1992 setelah sebelumnya, sejak 1983 berjuang pontang-panting cari uang dengan pandangan bahwa ”orang harus cari uang dulu baru bisa memberi”.

4 Mengajar di KEP Paroki Cijantung - Jakarta PAKAI_3

Mengajar di KEP Paroki Cijantung, Jakarta Timur.

Rasa syukur itulah yang kemudian diimplementasikan dalam kegiatan dan dirawatnya. Bagaimana caranya? Sebagaimana sudah umum diketahui dalam persekutuan Pembaharuan Karismatik yang dihidupinya, sebagai seorang Kristiani yang taat, ia berusaha pegang komitmen untuk menyeimbangkan hidup vertikal dalam relasi dengan Tuhan dan relasi kehidupan horisontal dengan sesama.

”Dalam hubungan vertikal tidak hanya memohon dan minta-minta saja kepada Tuhan tetapi juga mendengarkan FirmanNya yang otentik dalam Kitab Suci,” ujarnya.

Sementara dalam kehidupan horisontal dengan sesama, ikut bergabung dalam komunitas dan melakukan pelayanan. ”Ikut komunitas karena Tuhan menjadikan kita komunitas sebagai satu Tubuh Kristus. Saya anggota tubuh Kristus, anggota komunitas,” katanya lagi. Di dalam komunitas Tubuh Kristus setiap anggota diberi karunia berbeda-beda untuk melayani, termasuk di dalamnya karunia untuk mengajar. (Roma 12:5-8)

4 Porta Sancta Basilika St Petrus 1PAKAI_1

Bersama isteri, Bu Mike dan rombongan, Pak Trisno berziarah Porta Sancta di Basilika St Petrus Roma, 24-25 Oktober 2025. Bersyukur.

Bagi Pak Trisno, lewat pengalaman dalam komunitas Pembaharuan Karismatik Katolik, ia diajak untuk ikut melakukan 5 tugas Gereja Katolik dengan kerygma (pewartaan), koinonia (persekutuan), liturgia (peribadatan), diakonia (pelayanan), dan martyria (kesaksian).

Pak Trisno mengaku tak pernah lelah, selalu merasa ada energi ekstra, ketika mengajar. Pernah suatu saat bertanya kepada Romo Gilbert, ”Aneh ya, Mo, mengapa kalau masuk kelas saya selalu merasa mempunyai semangat baru?” Romo Gilbert hanya menjawab singkat, ”Semangat itu dari Roh Kudus, yakinlah!” (Selesai)


Teks/Foto: ps/dok.Komsos/dok.pri/Adv


Artikel ini bisa dibaca di Google dengan mengetik kata kunci Gereja Santa Bernadet, lalu klik Santabernadet.

Artikel-artikel sebelumnya, klik di sini:

https://santabernadet.id/home/post/1428

https://santabernadet.id/home/post/1429

https://santabernadet.id/home/post/1430

Facebook Sanberna

Twitter Sanberna